Sulawesi Selatan, IDN Times - Di tengah berkembangnya pariwisata dan modernisasi di Toraja Utara, Sulawesi Selatan, kawasan adat Kete Kesu masih mempertahankan tradisi pemakaman leluhur yang diwariskan turun-temurun.
Salah satu yang tetap dijaga ialah konsep pemakaman keluarga berbentuk vertikal untuk menghemat lahan, sekaligus mempertahankan ikatan kekerabatan dalam satu rumpun keluarga.
Ketua Yayasan Kete Kesu, Layuk Sarungallo, mengatakan masyarakat Toraja mulai menyesuaikan sistem pemakaman sejak pengaruh Islam masuk Toraja.
Menurut Layuk, masyarakat Toraja kemudian mulai membangun makam keluarga bertingkat untuk menghemat penggunaan lahan. Sistem itu tetap mempertahankan prinsip kekerabatan, karena satu makam bisa digunakan banyak anggota keluarga lintas generasi.
“Kami sudah mulai membangun makam. Di mana satu makam, kami bisa sampai 60-70 jenazah bisa masuk. Sehingga kita tetap pada prinsip irit tanah dan kekerabatan keluarga itu lengket,” kata Layuk saat ditemui di Kete Kesu, Kamis, 22 Mei 2026.
Kete Kesu adalah desa adat Toraja yang terletak sekitar 4-5 kilometer dari Rantepao. Kawasan ini terkenal sebagai pusat warisan budaya Toraja dengan rumah adat Tongkonan yang masih asli dan situs pemakaman tebing kuno.
