Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Usai Kericuhan, Kapolda Riau Minta Maaf ke Masyarakat Panipahan
Kapolda Riau Irjen Herry Heryawan (dok. Polda Riau)
  • Kapolda Riau Irjen Herry Heryawan mengunjungi Panipahan dan menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat atas kericuhan yang terjadi, sekaligus membuka dialog terbuka untuk mendengar aspirasi warga.
  • Peristiwa kericuhan dijadikan evaluasi serius bagi Polri terkait penanganan narkoba dan komunikasi dengan masyarakat, disertai langkah pembenahan personel serta pergantian pejabat di wilayah Panipahan.
  • Sebagai bentuk transparansi, Kapolda melakukan tes urine anggota dan menyalurkan bantuan mesin ketinting bagi nelayan, menekankan pentingnya solusi sosial-ekonomi dalam pemberantasan narkoba.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Kapolda Riau Irjen Herry Heryawan melakukan kunjungan ke Panipahan, Kecamatan Pasir Limau Kapas, Kabupaten Rokan Hilir pada Kamis (16/4/2026). Kunjungan ini dilakukan setelah kericuhan di Panipahan.

Setibanya di Panipahan, Kapolda dan rombongan langsung melaksanakan silaturahmi dan dialog terbuka bersama masyarakat. Forum ini menjadi ruang penyampaian aspirasi sekaligus refleksi bersama atas peristiwa yang terjadi sebelumnya.

Dalam kesempatan tersebut, Irjen Herry secara terbuka menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat Panipahan.

“Secara pribadi maupun sebagai Kapolda Riau, saya menyampaikan permohonan maaf yang sebesar-besarnya kepada seluruh masyarakat Panipahan. Kami juga menyampaikan rasa prihatin yang mendalam atas peristiwa yang terjadi beberapa waktu lalu,” ujar Herry.

1. Kericuhan di Panipahan jadi evaluasi serius

Kapolda Riau Irjen Herry Heryawan (Dok. Polda Riau)

Menurutnya, kejadian tersebut menjadi bahan evaluasi serius bagi institusi Polri, khususnya dalam menjawab ekspektasi masyarakat terhadap penanganan narkoba.

“Kami menyadari bahwa apa yang terjadi tidak terlepas dari ketidakpuasan masyarakat. Ini menjadi evaluasi bagi kami bahwa masih ada kekurangan dalam pelaksanaan tugas di lapangan,” lanjutnya.

Ia juga menekankan bahwa peristiwa Panipahan harus dimaknai sebagai momentum perubahan.

“Peristiwa ini menjadi wake-up call bagi kami. Pengingat keras agar kami benar-benar hadir di tengah masyarakat, mendengar, memahami, dan menindaklanjuti setiap permasalahan secara nyata,” kata lulusan Akpol 1996 ini.

2. Belum terbangunnya komunikasi antara aparat dengan masyarakat

Polda Riau mengukuhkan 23 Duta Anti Narkoba (dok. Polda Riau)

Dalam dialog tersebut, Kapolda mengungkap bahwa salah satu akar persoalan yang ditemukan di lapangan adalah belum terbangunnya komunikasi yang kuat antara aparat dan masyarakat.

Untuk itu, ia meminta agar ke depan dibangun mekanisme komunikasi yang lebih terbuka, termasuk melalui forum bersama maupun kanal komunikasi langsung antara tokoh masyarakat dan aparat.

Sebagai bagian dari langkah korektif, Herry juga menegaskan bahwa Polda Riau telah melakukan evaluasi menyeluruh terhadap personel di wilayah Panipahan, termasuk pergantian pejabat dan penempatan personel baru yang telah melalui pemeriksaan ketat.

“Kami sudah melakukan evaluasi dan pembenahan. Personel yang bertugas harus benar-benar bersih dan profesional. Ini komitmen yang tidak bisa ditawar,” ujarnya.

3. Kapolda gelar cek urine anggota

Ilustrasi Polisi (IDN Times/Ilman Nafi'an)

Dalam rangkaian kegiatan tersebut, Kapolda bersama rombongan juga melakukan pengecekan terhadap personel yang baru ditempatkan, termasuk pelaksanaan tes urine sebagai bentuk transparansi dan akuntabilitas kepada masyarakat.

Selain pendekatan keamanan, Kapolda juga menekankan pentingnya solusi sosial dan ekonomi dalam menangani persoalan narkoba. Salah satunya, melalui pemberian bantuan mesin ketinting kepada masyarakat nelayan Panipahan.

“Kita tidak bisa hanya bicara penindakan. Kita juga harus membantu masyarakat agar memiliki alternatif ekonomi yang lebih baik. Ketika ekonomi bergerak, maka ruang bagi narkoba akan semakin sempit,” ujarnya.

Editorial Team