Comscore Tracker

Kata Satgas COVID-19 soal GeNose Jadi Syarat Perjalanan  

Padahal belum ada kajian ilmiah efektivitas GeNose

Jakarta, IDN Times - Ketua Satgas COVID-19 Doni Munardo angkat bicara mengenai alasan di balik penggunaan alat tes virus GeNose sebagai syarat perjalanan, meski belum ada kajian ilmiah yang menunjukkan efektivitas dari alat uji virus corona buatan Universitas Gadjah Mada (UGM) itu.
 
“GeNose masih dalam proses uji coba hanya di transportasi kereta api, belum berlaku di transportasi lain. GeNose ini kan buatan dalam negeri, buatan anak bangsa, jadi harus kita berikan ruang. Secara pararel dengan penelitian,” kata Doni dalam Forum Pemimpin Redaksi yang digelar secara virtual, Kamis (25/2/2021).

Baca Juga: Penemu GeNose Tantang Debat, Ini Reaksi Epidemiolog Dicky Budiman

1. BNPB juga membantu proses uji coba GeNose

Kata Satgas COVID-19 soal GeNose Jadi Syarat Perjalanan  https://twitter.com/@BNPB_Indonesia

Doni juga menyampaikan, UGM telah menyumbangkan satu GeNose untuk diuji di Kantor Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Sayangnya, Doni tidak membahas lebih lanjut seputar hasil uji coba GeNose di kantornya.
 
“Kami juga sudah dapat GeNose dari UGM ditempakan di BNPB. Kami coba GeNose, orang yang sama ulangi dengan PCR dan antigen, kalau reaktif di PCR. Jadi kami juga bantu untuk lakukan riset,” kata dia.

2. Penggunaan GeNose menuai kritik

Kata Satgas COVID-19 soal GeNose Jadi Syarat Perjalanan  Launching GeNose di Stasiun Pasar Senen (IDN Times/Aldzah Fatimah Aditya)

Epidemiolog dari Universitas Griffith Dicky Budiman mengkritik penggunaan GeNose sebagai syarat perjalanan. Menurut dia, hasil uji GeNose bisa berbeda jika digunakan pada tempat yang bukan seharusnya. Bahkan, Belanda yang juga memiliki alat serupa GeNose sudah menghentikan penggunaannya sebagai alat screening COVID-19.

“Di sana dihentikan karena hasil false negatifnya banyak sekali. Jangankan tes napas, rapid test antigen PCR yang namanya false negatif tinggi, apalagi ini yang belum teruji,” kata Dicky saat dihubungi IDN Times, Rabu, 17 Februari 2021.
 
Dia juga khawatir, penggunaan GeNose justru menimbulkan permasalahan baru, ketika Indonesia jauh dari optimal dalam penanganan pandemiknya.
 
“Ini berbahaya dalam situasi pandemik Indonesia yang belum terkendali digunakan alat ini (GeNose), apalagi di fasilitas umum. Wah itu namanya bukan menyelesaikan masalah, tapi menciptakan masalah,” ujar dokter alumni Universitas Padjadjaran itu.

3. Pemerintah akan pakai GeNose untuk screening virus di bandara

Kata Satgas COVID-19 soal GeNose Jadi Syarat Perjalanan  Alat GeNose besutan peneliti UGM. Dok: istimewa

Di tengah polemik, Kementerian Perhubungan (Kemenhub) justru berencana mengoptimalkan GeNose di seluruh sektor transportasi, termasuk bandara. Wacana tersebut kemungkinan akan direalisasikan pada 1 April 2021.

“Di kereta api, animo masyarakat untuk menggunakan GeNose sangat bagus. Saat ini para pemangku kepentingan di sektor perhubungan laut dan udara juga menginginkan penggunaan GeNose. Untuk itu, kami melaporkan kepada Pak Menko tentang rencana itu, dan tentunnya akan kami lakukan dengan hati-hati,” kata Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi dalam keterangan tertulis, Rabu, 24 Februari 2021.

Sementara, peneliti UGM sekaligus penemu GeNose Kuwat Triyana menantang debat epidemiolog yang kerap mengkritisi alat uji virus corona berbasis embusan napas itu. Menurut dia, epidemiolog harusnya berdiskusi dengan dia soal GeNose, bukan mengomentari alat tersebut, hingga membingungkan masyarakat.
 
"Mari berpikir besar dan mulai dari yang kecil dan mudah. Yang lebih penting adalah act now, lakukan sekarang, bergerak dan inovasi. Para epidemiolog itu jangan ngomong saja. Mereka itu banyak omong dan enggak konfirmasi ke kita. Urusan rokok dan jengkol saja diperpanjang. Masyarakat jadi bingung," kata Kuwat, dalam kutipan wawancara dengan lokadata.id.

Baca Juga: Mulai 1 April 2021, Tes GeNose akan Dipakai di Bandara

Topic:

  • Rochmanudin

Berita Terkini Lainnya