Comscore Tracker

[WANSUS] Hikmah Ramadan dan Idulfitri di Tengah Pandemik COVID-19

Bincang IDN Times dengan cendekiawan Muslim Azyumardi Azra

Jakarta, IDN Times - Suasana Ramadan dan Idulfitri 1441 Hijriyah berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Imbas pandemik virus corona atau COVID-19, banyak tradisi tahunan yang ditinggalkan, seperti buka puasa bersama hingga mudik atau pulang kampung. Semuanya ditiadakan demi kemaslahatan bersama melawan pandemik.

Meski terkesan meresahkan, Ramadan dan Idulfitri di tengah pandemik virus corona idealnya menjadi momentum untuk meningkatkan kualitas umat Islam Indonesia.

Menurut cendekiawan Muslim, Azyumardi Azra, ketika pandemik COVID-19 berakhir, umat Islam Indonesia harus lebih berani melepaskan diri dari belenggu simbolik dalam beragama.

“Seharusnya kita menjadi orang yang lebih beragama dengan pertimbangan-pertimbangan nalar, tidak menyederhanakan dalam praktik beragama. Misalnya, tadi mengatakan kalau kita takut corona maka kita musyrik, karena menyekutukan Allah, ini kan keliru,” kata Azyumardi dalam sesi wawancara khusus bersama IDN Times, Sabtu (23/5).

Lantas, apa hikmah yang bisa diambil dari berpuasa di masa pandemik? Kemudian, bagaimana kita memaknai Idulfitri di masa yang meresahkan ini? Yuk simak wawancara khusus IDN Times bersama mantan Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta.

Bagaimana Anda menggambarkan kondisi umat di Indonesia, setelah Ramadan di tengah pandemik COVID-19?

[WANSUS] Hikmah Ramadan dan Idulfitri di Tengah Pandemik COVID-19Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah, Azyumardi Azra, bersama Arkeolog independen dan peneliti situs-situs sejarah di Sumatera E.Edwards McKinnon dan Guru Besar UIN Ar Raniry Misri A.Muchlisin memberikan materi (Dok. Istimewa)

Kalau kita refleksi, sesungguhnya Ramadan 1441 Hijriah, banyak hal yang kontradiktif. Tentu saja disebabkan wabah virus corona yang menyebar kemana-mana. Kontradiktif pertama dari keumatan. Kita melihat lazimnya tahun-tahun lalu atau 2-3 dasawarsa terakhir, umat Islam itu sangat bersemangat dalam mengekspresikan keislaman mereka.

Itu bagus, karena memang perkembangan sosiologi keagamaan masyarakat Muslim di Indonesia, seperti juga di banyak negara, terlihat peningkatan kegairahan beragama. Atau dalam bahasa lain, agama baru ditemukan kembali, sehingga menimbulkan berbagai ekses.

Misal di Eropa muncul politik identitas, di Amerika ada politik identitas dengan Donald Trump sebagai fundamentalisme Kristen, ada juga di Jakarta waktu pemilihan gubernur DKI. Walau pun kemudian di Indonesia politik identitas Islam berlangsung singkat, karena tidak didukung oleh lapisan sosiologi keagamaan Muslim itu sendiri.

Nah kontradiksi yang saya kemukakan itu, di satu pihak semangat keagamaan yang tinggi, tapi pada pihak yang lain, penghayatan keagamaannya kurang memakai akal, nalar, rasio. Sehingga ketika pemerintah atau MUI (Majelis Ulama Indonesia) mengeluarkan fatwa supaya salat Jumat, tarawih, dan Idulfitri dilakukan di rumah, itu banyak yang menentang. Orang bilang jangan takut kepada corona, takutnya kepada Allah, itu yang saya sebut sebagai penghayatan keagamaan yang mengedepankan simbolisme, tapi kurang menggunakan nalar.  

Kontradiktif kedua, kaitannya tentang puasa itu sendiri. Puasa itu hikmahnya agar umat Islam mampu mengendalikan dirinya. Puasa itu menahan dari dominasi yang bersifat jasadiyah dan material, mulai dari makan-minum, hubungan suami-istri, yang memang bisa menyebabkan manusia kehilangan kemanusiaannya. Sehingga ada orang-orang yang korupsi dan melakukan tindak kriminal lainnya.

Nah, puasa maksudnya mengendalikan itu dan kemudian membawa orang menjadi takwa, takut kepada Allah atau terpelihara dirinya. Tapi kalau kita lihat 10 hari terakhir, ini kontradiksinya, banyak umat Islam yang tidak bisa mengendalikan dirinya. Lihat saja pasar-pasar ramai, mal ramai, jalanan ramai. Walau pun dihadang petugas, tapi tetap banyak yang lolos.

Inilah kontradiktif-kontradiktif yang saya katakan. Walau pun kalau mau berapologi, kita bisa berapologi dengan bersikap bukan hanya orang Islam yang seperti itu, dulu juga ada yang berkumpul di gereja. Tapi itu justifikasi yang gak perlu, kita lebih melihat ke internal umat Islam. Karena itu tugas para pemimpin agama dari lokal sampai nasional memang berat sekali, bagaimana memberikan penyadaran kepada umat.

Baca Juga: Azyumardi Azra: Perlu Ada Database Ustaz di Indonesia

Imbas dari pada kontradiktif beragama adalah munculnya beberapa klaster dari masjid. Apakah ini menandakan ada yang salah dalam beragama umat Islam Indonesia?

Kalau dibilang salah, mungkin berlebihan ya. Tapi tidak adil dan tidak proporsional dalam melihat segala sesuatu itu. Misal, untuk menyandingkan takut kepada virus corona dan takut kepada Allah, itu adalah dua entitas berbeda yang tidak bisa disejajarkan.

Jadi memang masih ada umat yang seperti itu, tapi itu boleh disebut sebagian kecil. Walau pun tetap ada yang komplain dari umat mayoritas. Yang mainstream juga komplain, misal PBNU (Pengurus Besar Nahdlatul Ulama) atau PP Muhammadiyah, menurut mereka umat Islam ini diperlakukan tidak adil. Pada satu pihak orang gak boleh ke masjid. Tapi coba lihat ke pasar, orang berbondong-bondong di mal, pemerintah gak ngapa-ngapain. Seolah-olah sumber penularan hanya di masjid, seolah-olah klaster-klaster hanya di masjid.

Oleh karena itulah para pemimpin ormas Islam, banyak yang mengatakan pemerintah gak adil. Orang gak boleh salat di masjid, tapi orang berdesakan di bandara, pasar, MRT (Mass transportation system). Oleh karena itu, saya menganjurkan kepada presiden dan wakil presiden untuk dialog dengan pemimpin umat. Mereka sibuk ratas (rapat terbatas) tiap hari, tapi tidak pernah ada dialog dengan pimpinan umat.

Kemarin memang agak sedikit terhibur ketika presiden berterima kasih kepada ormas Islam, walaupun agak telat. Karena apa? Karena yang namanya ormas itu banyak sekali membantu mereka yang terkapar karena virus corona. Saya lihat dana mitigasi yang dikeluarkan Muhammadiyah misalnya, sudah lebih dari Rp300 miliar.

Apakah memang kurang optimal edukasi yang diberikan berbagai intitusi keagamaan di Indonesia dalam mengedukasi umat, termasuk Wapres yang notabene adalah ulama?

[WANSUS] Hikmah Ramadan dan Idulfitri di Tengah Pandemik COVID-19Suasana di lokasi Ijtima Asia di Gowa. (Dok IDN Times)

Saya kira, pertama tidak ada komunikasi secara langsung, jadi mereka itu berbalas komentar di media, walau lebih banyak berbalasnya dari pimpinan ormas NU (Nahdlatul Ulama) atau Muhammadiyah, atau MUI mengomentari langkah-langkah pesiden dan menteri.

Tapi tidak ada upaya dari pimpinan negara untuk membangun komunikasi dengan ormas itu. Saya belum melihat konferensi virtual presiden-wapres dengan pimpinan ormas Islam. Kalau menurut saya, komunikasi yang workable, yang berdaya guna memang harus dijalin dengan pimpinan umat, karena tantangan ke depan gak sederhana.

Disrupsinya luar biasa besar. Setelah Lebaran, ketika PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) dicabut atau dilonggarkan, tidak otomatis mereka yang kelaparan, yang hidupnya susah, orang miskin, bisa dapat langsung bekerja, ekonomi gak bisa langsung jalan, karena kelas menengah yang menghidupkan ekonomi Indonesia jadi miskin, pendapatannya berkurang.

Dan ini tidak bisa dimitigasi pemerintah saja, dana pemerintah sudah habis saya kira. Oleh karena itu, pemerintah harus berbaik-baik dengan ormas yang masih punya umat untuk digerakkan berinfak dan bersedekah.

Di tengah pandemik ini banyak orang yang melakukan gerakan filantropi. Apakah ini bukti internalisasi nilai-nilai Islam, mengingat umat Muslim juga mayoritas di Indonesia dan memiliki motivasi bersedakah karena agama?

[WANSUS] Hikmah Ramadan dan Idulfitri di Tengah Pandemik COVID-19Ilustrasi (IDN Times/Anjani Eka Lestari)

Sekitar 10 tahun lalu saya pernah diwawancarai CNN International yang bekerja dengan lembaga survei untuk mengetahui tingkat sharing and giving in religious community. Jadi membahas berbagi dan memberi atas motivasi agama, dibandingkan agama Kristen, Hindu, Buddha, dan Islam. Islam dibandingkan tiga negara, Indonesia, Arab Saudi, dan Turki.

Ternyata, temuan mereka tingkat kedermawanan paling tinggi kalangan Muslim adalah Indonesia, yaitu 92 persen. Orang yang disurvei kebanyakan selalu memberikan infak dan sedekah. Kemudian di bawahnya Saudi, jauh sekali sekitar 60 persen. Jadi keliru kita kalau menganggap orang Saudi itu pemurah.

Faktanya begitu, pelit, mohon maaf saja. Orang bilang “oh Saudi banyak bangun masjid di Indonesia”. Padahal buktinya masjid 99 persen itu dibangun oleh masyarkat sendiri, 0,1 persennya dibangun pemerintah. Yang ketiga adalah Turki, cuma 30 persenan. Itu 10 tahun yang lalu.

Nah, kemarin Harian Kompas itu menurunkan tulisan tentang kedermawanan di Indonesia, kita ini nomer lima. Tidak ada negara Muslim lain di atas Indonesia. Dalam World Charity Index, Indonesia malah nomer satu dalam dua tahun berturut-turut, 2018 dan 2019, membantu dalam uang dan tenaga.

Jadi potensinya besar sekali, itu belum dihitung yang di luar zakat, infak, sedekah, wakaf. Orang Indonesia senang silaturahim, senang walimah, berbagi makanan dan berbagi doa, berkat dibawa pulang, berbagi amplop juga.

Cuma masalahnya filantropi ini sangat tergantung dengan kelas menengah, kalau upper-middle class mungkin masih bisa membantu, di bawahnya masih middle-middle class masih bisa, yang susah itu lower-middle class. Jadi mungkin akan terjadi penurunan dana filantropi pasca corona.

Jika Ramadan di tengah pandemik adalah momentum meningkatkan kualitas umat Islam, gambaran Anda harusnya menjadi seperti apa umat Islam Indonesia?

[WANSUS] Hikmah Ramadan dan Idulfitri di Tengah Pandemik COVID-19ANTARA FOTO/Basri Marzuki

Seharusnya kita menjadi orang yang lebih beragama dengan pertimbangan-pertimbangan nalar, tidak menyederhanakan dalam praktik beragama. Misalnya, tadi mengatakan kalau kita takut virus corona maka kita musyrik, karena menyekutukan Allah ini kan keliru.

Boleh saja bersemangat dalam syiar agama, tapi kita harus mempertimbangkan hal-hal lain, termasuk kepentingan keamanan, keselamatan, tetap harus dipertimbangkan.

Kedua, pelajaran bagi umat, agar kita lebih setia pada ajaran Islam. Kita tiap tahun puasa tapi kok hasilnya gak membuat kita lebih disiplin. Di jalan, di pasar masih berbondong-bondong, padahal ulama sudah mengeluarkan fatwa di rumah, tapi kenapa kita tidak bisa disiplin?

Ini yang saya kira jadi agenda pokok di kalangan umat Islam, tidak hanya di Indonesia, tapi juga di dunia. Bahwa tingkat pengamalan islamisitas (nilai-nilai Islam) kita kalah dengan Selandia Baru, misalnya, atau negara-negara Nordik, Skandinavia, yang patuh dan disiplin.

Apa hikmah Idulfitri yang bisa kita ambil di momentum pandemik?

Sebetulnya Idulfitri kita harus kembali kepada fitrah, kesucian, saya kira kita harus muhasabah dalam rangka la’allakum tattaqun, agar takwa, takut kepada Allah, dalam pengertian yang luas adalah terpelihara dirinya. Masih banyak masyarakat kita yang belum terpelihara dirinya, masih bergerombol, masih berkerumun, supaya kita lebih konsisten di dalam pengamalan ajaran-ajaran Islam.

Lebih khusus bagi kaum milenial, semoga dapat mengambil pelajaran dari wabah ini, agar bekerja lebih giat dan keras, karena tantangan kita ke depan akan luar biasa berat, baik dalam memulihkan kembali ekonomi kita, jalinan tenunan masyarkat kita.

Dan semoga generasi milenial yang masih semangat ini, kepada Andalah Indonesia bisa maju, sehingga 2045 Indonesia bisa jadi negara keempat besar ekonomi terkuat di dunia.

Karena degan wabah virus corona ini, ada kalangan yang pesimis, belum tentu 2045 kita jadi negara ekonomi kuat. Saya kira dengan milenial yang punya etos kerja, semangat, bisa membalikkan pesimisme menjadi optimisme pada 100 tahun kemerdekaan nanti.

Baca Juga: Wapres: Ada Hikmah di Balik Virus Corona Bagi Umat Muslim Indonesia

Topic:

  • Vanny El Rahman
  • Rochmanudin

Berita Terkini Lainnya