Jakarta, IDN Times - Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) menilai Perjanjian Dagang Resiprokal (Agreement on Reciprocal Trade) antara Indonesia dan Amerika Serikat berpotensi mempercepat deforestasi.
Menurut WALHI, perjanjian dagang tersebut membuka akses luas investasi di sektor nikel, kobalt, tembaga, dan litium dengan menghapus batas kepemilikan dan kewajiban divestasi. Hal tersebutlah yang menyebabkan percepatan deforestasi terjadi.
"Karena konsesi nikel sudah melampaui 1,03 juta hektare dan 765 ribu hektare berada di kawasan hutan. Ekstraksi besar‑besaran tersebut dapat merusak tutupan hutan sebagai penyerap karbon utama, sehingga mengancam pencapaian target FOLU Net Sink 2030 yang menjadi pilar mitigasi iklim Indonesia," tegas WALHI dikutip dalam siaran pers, Kamis (5/3/2026).
Selain itu, WALHI memandang ada beberapa poin dalam perjanjian dagang tersebut yang bertolak belakang dengan target iklim Indonesia.
