Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Wamenag Klarifikasi soal Ormas Minta THR Budaya Lebaran
Wamenag RI Muhammad Syafi'i sebut Kemenag masih mengkaji supaya BIPH pelaksanaan haji 2025 bisa ditekan hingga Rp85 juta. (IDN Times/Amir Faisol)
  • Wamenag Muhammad Syafi'i klarifikasi pernyataan terkait ramai ormas minta THR, bukan bagian dari budaya lebaran.
  • Syafi'i menegaskan menolak aksi paksa THR karena bukan budaya Indonesia, agama mengajarkan untuk memberi, bukan meminta.
  • Budaya saling memberi sudah ada sejak lama di Indonesia saat lebaran, seperti memberi kepada sanak saudara hingga tetangga.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Wakil Menteri Agama (Wamenag) Muhammad Syafi'i mengklarifikasi pernyataannya terkait ramai ormas minta tunjangan hari raya (THR), merupakan bagian dari budaya lebaran. Syafi'i mengatakan, pernyataannya itu berkaitan dengan budaya saling memberi saat lebaran, bukan kepada ormas.

"Yang saya maksud sebagai budaya kita itu saling memberi, terlebih di Hari Idulfitri. Sejak dulu, kita diajarkan untuk peduli," ujar Syafi'i dilansir dari laman resmi Kemenag, Kamis (27/3/2025).

1. Tolak aksi paksa minta THR

Wamenag RI Muhammad Syafi'i sebut Kemenag masih mengkaji supaya BIPH pelaksanaan haji 2025 bisa ditekan hingga Rp85 juta. (IDN Times/Amir Faisol)

Dalam kesempatan itu, Syafi'i menegaskan, menolak aksi paksa THR. Sebab, itu bukan budaya Indonesia.

"Meminta apalagi dengan memaksa, itu jelas bukan budaya kita. Agama tidak mengajarkan hal itu. Karenanya, tidak seharusnya dilakukan. Kita tolak itu," kata dia.

"Agama mengajarkan untuk memberi, bukan meminta. Tangan di atas jauh lebih baik dari tangan di bawah," sambungnya.

2. Memberi ke sesama

Wamenag RI Muhammad Syafi'i sebut Kemenag masih mengkaji supaya BIPH pelaksanaan haji 2025 bisa ditekan hingga Rp85 juta. (IDN Times/Amir Faisol)

Menurutnya, budaya saling memberi itu sudah ada sejak lama di Indonesia saat lebaran. Misalnya, memberi kepada sanak saudara hingga tetangga.

"Sebagai contoh, setiap lebaran, saya siapkan uang khusus untuk diberikan kepada cucu, anak-anak sekitar rumah, dan tetangga yang membutuhkan. Ini juga dilakukan sekaligus mendidik anak untuk peduli dan mau berbagi," ucap dia.

3. Puasa melatih umat untuk saling peduli

Default Image IDN

Syafi'i menyampaikan, puasa di bulan Ramadan melatih umat untuk saling peduli. Sehingga, diharapkan bisa menciptakan pribadi yang dermawan.

"Kedermawanan penting agar harta tidak hanya bergulir di kalangan orang-orang kaya saja. Ada pemerataan," kata dia.

Editorial Team