Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
22 Migran Tewas di Lepas Pantai Yunani, Jasad Dibuang ke Laut
para pengungsi menyeberangi laut Mediterania dengan perahu karet (Mstyslav Chernov/Unframe, CC BY-SA 4.0 <https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0>, via Wikimedia Commons)
  • Sebanyak 22 migran tewas dan 26 lainnya diselamatkan di lepas pantai Yunani setelah enam hari terombang-ambing tanpa makanan dan air, berangkat dari Tobruk, Libya menuju Kreta.
  • Dua pria asal Sudan Selatan ditangkap atas dugaan perdagangan manusia dan pembunuhan karena kelalaian, sementara korban selamat berasal dari Bangladesh, Sudan Selatan, dan Chad.
  • Uni Eropa menyerukan peningkatan kerja sama internasional untuk memerangi penyelundupan migran setelah data menunjukkan ratusan kematian di Laut Mediterania pada awal 2026.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Sedikitnya 22 migran tewas di lepas pantai Yunani setelah menghabiskan 6 hari di laut dengan perahu karet. Sementara itu, 26 orang lainnya berhasil diselamatkan oleh kapal Frontex European Union Agency di perairan dekat Pulau Kreta pada Jumat (27/3/2026).

Penjaga pantai Yunani menjelaskan bahwa menurut keterangan korban selamat, perahu tersebut berangkat dari pelabuhan Tobruk di Libya timur pada 21 Maret 2026 menuju Yunani. Cuaca buruk dan kurangnya makanan dan air berkontribusi terhadap kematian para migran.

“Selama perjalanan, para penumpang (perahu karet) kehilangan arah dan terombang-ambing di laut selama enam hari tanpa air dan makanan,” kata penjaga pantai, dikutip dari BBC.

Jenazah para migran yang meninggal kemudian dibuang ke Laut Mediterania atas perintah salah satu penyelundup yang ikut dalam perjalanan tersebut.

1. Dua pria asal Sudan Selatan ditangkap

ilustrasi penangkapan (pexels.com/)

Menurut penjaga pantai, korban selamat terdiri dari 21 warga Bangladesh, empat warga Sudan Selatan, dan satu warga Chad. Dua di antaranya dibawa ke rumah sakit di Heraklion, Kreta.

Sementara itu, pihak berwenang Yunani mengatakan telah menangkap dua pria asal Sudan Selatan, yang berusia 19 dan 22 tahun, atas dugaan perdagangan manusia. Keduanya kini sedang diselidiki atas tuduhan masuk ke negara secara ilegal dan pembunuhan karena kelalaian.

2. 107 orang tewas atau hilang di perairan Yunani pada 2025

laut Yunani (unsplash.com/erika m)

Sejak lengsernya pemimpin lama Muammar Gaddafi pada 2011, Libya telah menjadi jalur transit bagi orang-orang yang ingin melarikan diri dari konflik dan kemiskinan menuju Eropa. Setiap tahunnya, ribuan orang mencoba menyeberangi Laut Mediterania dari Libya ke Eropa dengan risiko tinggi, terutama saat cuaca buruk. Belum lagi para penyelundup yang sering menumpuk penumpang di perahu tanpa menyediakan persediaan atau pelampung keselamatan yang memadai.

Menurut Komisioner Tinggi PBB untuk Pengungsi (UNHCR), lebih dari 16.770 pencari suaka tiba di Kreta pada 2025. Sedikitnya 107 orang juga tewas atau hilang di perairan Yunani dalam periode yang sama.

Menghadapi lonjakan kedatangan tersebut, pemerintah Yunani menangguhkan pemrosesan permohonan suaka selama 3 bulan pada pertengahan 2025, terutama bagi mereka yang datang dari Libya. Meski demikian, banyak orang yang tetap nekat menempuh perjalanan berbahaya tersebut, dilansir dari Al Jazeera.

3. Uni Eropa serukan peningkatan kerja sama dengan negara-negara mitra di sepanjang rute migrasi

migran menyeberangi laut dengan perahu karet (unsplash.com/Jametlene Reskp)

Menurut data Organisasi Migrasi Internasional (IOM), sebanyak 559 orang meninggal di Laut Mediterania selama Januari dan Februari 2026. Jumlah ini jauh lebih besar dibandingkan 287 orang pada periode yang sama tahun lalu.

“Tragedi-tragedi ini sekali lagi menyoroti pentingnya mengintensifkan kerja sama dengan negara-negara mitra di sepanjang rute migrasi dan melipatgandakan upaya dalam memerangi penyelundup migran, yang merupakan pihak yang bertanggung jawab atas tragedi-tragedi ini,” kata juru bicara komisi Uni Eropa (UE) pada Sabtu (28/3/2026), dikutip dari France24.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team