3 Dampak Pembangunan Pulau Buatan di Laut China Selatan

Jakarta, IDN Times - Isu Laut China Selatan (LCS), sejauh ini, tampaknya belum sepenuhnya menemui titik damai antara pihak-pihak yang terlibat. Secara spesifik, Republik Rakyat Tiongkok (RRT) masih sangat ambisius dalam kegiatan reklamasi atau pengerjaan pulau-pulau buatan, khususnya di bagian selatan LCS, Kepulauan Spratly, sejak tahun 2013.
Bukan sembarang dibangun, pulau-pulau tersebut nyatanya menyuguhkan banyak manfaat bagi China. Salah satunya adalah memberikan peningkatan keamanan dalam hal ketahanan energi.
Akan tetapi, banyak yang lupa kalau pembentukan pulau-pulau buatan tersebut justru menimbulkan dampak yang parah terhadap lingkungan sekitar LCS. Lebih tepatnya, proses pengerukanlah yang menjadi pemicu utama kerusakan tersebut.
Lantas, dampak lingkungan apa saja yang bisa timbul akibat pembangunan pulau buatan di Laut China Selatan? Simak ulasan selengkapnya berikut ini!
1. Menyebabkan rusaknya terumbu karang

Perlu diingat bahwa LCS merupakan salah satu perairan dengan keanekaragaman hayati paling tinggi di mana terdapat kurang lebih 571 spesies koral atau terumbu karang di dalamnya. Sayangnya, pembangunan pulau buatan oleh RRT sangat mengancam keberadaan kawanan koral tersebut. Hal ini karena ketika kapal pengeruk mengambil pasir dari laut, ini bakal membuat terumbu karang hancur.
Di samping itu, adanya pengendapan pasir di sekitar wilayah pulau buatan juga memicu terjadinya sedimentasi lanau dan pasir. Sedimen yang terbentuk lantas menyelubungi terumbu karang dan merusak jaringan internalnya. Apabila kondisi ini terjadi, terumbu karang akan semakin rentan terhadap berbagai macam penyakit.
Masalah lain yang juga ditimbulkan oleh sedimentasi ini meliputi penurunan tingkat pertumbuhan dan penghambatan reproduksi koral. Hal ini karena terlalu banyak gumpalan pasir dan lanau akan mencegah larva koral baru terpapar sinar matahari yang cukup untuk tumbuh dan berkembang.
Memang, dari kegiatan pengerukan tersebut, China bisa membangun pulau-pulau buatan untuk dijadikan sebagai pangkalan militer barunya. Akan tetapi, kegiatan tersebut menimbulkan kerusakan yang cukup parah yang membutuhkan waktu lama bagi terumbu karang untuk pulih total.
Padahal, kejadian serupa telah terjadi di Teluk Kaneohe dan Castle Harbour. Terumbu karang di kedua wilayah tersebut juga mengalami pengerukan dan baru 30–32 tahun setelahnya, mereka dapat pulih kembali.
Tidak hanya itu, area sekitar pengerukan pun juga akan terpengaruh. Sebagai contoh, pengerukan yang dilakukan di Pulau Johnston memberikan dampak terhadap koral yang ada di dekatnya.
2. Hilangnya keanekaragaman hayati

Kekhawatiran lain dari kegiatan reklamasi yang dilakukan RRT adalah hilangnya keanekaragaman hayati di kawasan LCS. Selain menghancurkan koral, proses pengerukan juga mampu mengusir dan bahkan mematikan biota laut yang hidup di sana.
Di samping itu, ketika terumbu karang yang merupakan rumah bagi para biota laut hancur, mereka tidak lagi memiliki tempat berlindung dan berisiko lebih tinggi dimakan ikan-ikan predator, seperti ikan kerapu ataupun ikan wrasse. Pastinya, kondisi ini menyebabkan ketidakstabilan. Apabila populasi ikan-ikan kecil telah punah, maka kelompok ikan pemangsa pun akan berakhir sama lantaran tak bisa lagi mencari makan.
Bukan karena kapal pengeruk saja yang dapat memicu penurunan populasi ikan, tetapi meningkatnya aktivitas penangkapan ikan di area LCS jugalah sedemikian. Sebagai informasi, penangkapan ikan besar-besaran bukanlah hal baru di perairan tersebut. Bahkan, sejak tahun 1950-an, kawasan tersebut sudah mengalami penurunan stok ikan mulai dari 70–95 persen.
Hal ini semakin diperparah oleh China yang mengirimkan milisi maritimnya ke LCS. Buat kamu yang belum tahu, milisi maritim China sendiri sejatinya merupakan nelayan-nelayan bersenjata yang disubsidi oleh pemerintah China. Penugasan mereka sendiri adalah sebagai alat untuk memperkuat klaim atas LCS.
Namun, tidak hanya itu saja. Dengan senjata dan peralatan yang lengkap, milisi China mampu menangkap berton-ton ikan dengan mudah di perairan manapun. Sayangnya, nelayan-nelayan tersebut berkontribusi besar terhadap kerusakan lingkungan karena mereka seringkali menggunakan metode penangkapan ikan yang bersifat merusak. Salah satu contohnya adalah menggunakan baling-baling kapal untuk mengeruk dan memanen kerang raksasa.
3. Berpotensi memicu kebocoran minyak dan gas

Daya tarik LCS tidak terbatas pada keanekaragaman hayatinya saja. Nyatanya, wilayah tersebut juga sangat dikenal sebagai ladang gas dan minyak bumi. Diperkirakan bahwa untuk Kepulauan Spratly saja, kamu bisa mendapatkan lebih dari 200 miliar barel minyak.
Nah, ketika aktivitas di area LCS meningkat akibat adanya kegiatan reklamasi, tidak menutup kemungkinan bagi China untuk juga melakukan eksplorasi hidrokarbon. Kondisi ini lantas meningkatkan potensi terjadinya tumpahan minyak.
Dampak dari tumpahan minyak sendiri tentu sudah jelas, yakni dapat meracuni para biota laut. Selain itu, lapisan minyak yang tebal di permukaan air akan menghalangi sinar matahari, yang sangat dibutuhkan alga, untuk mencapai dasar laut.
Menurut laman National Oceanic and Atmospheric Administration, efek mengerikan lainnya adalah dikarenakan kebocoran minyak dan gas membahayakan ikan-ikan laut, pada akhirnya, mereka juga bisa menjadi terlalu beracun untuk dikonsumsi oleh manusia.
Kegiatan pengerukan, penangkapan ikan berlebihan, dan eksplorasi minyak yang timbul akibat peningkatan aktivitas di Laut China Selatan dapat mengakibatkan berbagai macam kerusakan lingkungan, seperti hancurnya terumbu karang, penurunan populasi ikan, dan tumpahan minyak. Masalah ini tidak boleh diabaikan begitu saja mengingat LCS berkontribusi besar terhadap keberlangsungan kehidupan manusia.