Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Bendera negara-negara Eropa sedang berkibar.
potret bendera negara-negara Eropa (pixabay.com/Bru-nO)

Intinya sih...

  • Rusia sering menyerang infrastruktur energi di kota-kota besar Ukraina, termasuk Kyiv, Dnipro, Zaporizhzhia, Kharkiv, dan Odesa.

  • Presiden Ukraina menyatakan status darurat energi karena fasilitas energi rusak parah akibat serangan Rusia, menyebabkan warga kesulitan mendapatkan pasokan listrik.

  • Serangan Rusia terhadap infrastruktur energi Ukraina terjadi di tengah negosiasi damai antara Ukraina, Rusia, dan Amerika Serikat di Abu Dhabi.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Delapan negara Eropa yang terletak di Kawasan Nordik dan Baltik mendesak Rusia untuk berhenti menyerang Infrastruktur energi di Ukraina. Negara-negara tersebut terdiri dari Denmark, Estonia, Finlandia, Islandia, Latvia, Lithuania, Norwegia, dan Swedia.

Desakan ini tercantum dalam sebuah pernyataan bersama yang dirilis pada Sabtu (24/1/2026). Dalam pernyataan tersebut, Denmark hingga Swedia kompak menyebut serangan Rusia terhadap infrastruktur energi Ukraina sebagai pelanggaran hukum internasional dan bisa dianggap sebagai kejahatan perang. 

“Kami menyerukan kepada Rusia untuk segera menghentikan semua operasi militer yang menargetkan infrastruktur energi Ukraina. Serangan yang jelas-jelas bertujuan untuk memutus akses rakyat Ukraina terhadap listrik, pemanas, dan pasokan air di tengah kondisi musim dingin yang sangat keras merupakan pelanggaran nyata terhadap kewajiban Rusia berdasarkan hukum humaniter internasional dan dapat dikategorikan sebagai kejahatan perang,” bunyi pernyataan tersebut.

1. Rusia sering menyerang infrastruktur energi di kota-kota besar

ilustrasi serangan Rusia ke Ukraina (pexels.com/asim alnamat)

Pasukan militer Rusia memang sering menyerang infrastruktur energi di kota-kota besar yang ada di Ukraina. Beberapa di antaranya, seperti Kyiv, Dnipro, Zaporizhzhia, Kharkiv, dan Odesa. Infrastruktur energi yang paling sering diserang adalah pembangkit listrik yang ada di Kyiv.

Pada Sabtu lalu, Rusia juga kembali melakukan serangan terhadap infrastruktur energi di Kyiv. Serangan itu dilakukan menggunakan 370 drone dan 21 misil pada malam hari saat warga sedang tertidur. Serangan itu dilaporkan menewaskan 1 orang dan melukai 35 lainnya.

“Secara sadis, Vladimir Putin memerintahkan serangan rudal besar-besaran yang brutal terhadap Ukraina tepat ketika delegasi sedang bertemu di Abu Dhabi untuk memajukan proses perdamaian yang dipimpin Amerika Serikat. Serangan tersebut tidak hanya mengenai rakyat kami, tetapi juga meja perundingan,” ujar Menteri Luar Negeri Ukraina, Andrii Sybiha, mengecam serangan Rusia dilansir Politico.  

2. Presiden Ukraina sempat menyatakan status darurat energi imbas serangan Rusia

potret Presiden Ukraina, Volodymyr Zelensky (commons.wikimedia.org/Le Commissaire)

Imbas serangan ini, warga Ukraina jadi kesulitan mendapatkan pasokan energi listrik. Bahkan, Presiden Volodymyr Zelenskyy pada pekan lalu sempat menyatakan status darurat energi di Ukraina karena fasilitas energi di sana rusak parah usai berkali-kali diserang Rusia.

Situasi ini membuat warga Ukraina banyak yang mengalami kedinginan. Mereka tidak bisa menghidupkan penghangat ruangan karena tidak ada pasokan listrik. Kondisi ini diperparah musim dingin yang sedang melanda Ukraina di mana suhu di sana bisa mencapai -20 derajat celcius.

Zelenskyy sebetulnya sudah meminta Kementerian Energi untuk mengatasi masalah ini. Namun, langkah tersebut belum cukup untuk mengatasi kelangkaan pasokan listrik imbas serangan Rusia terhadap infrastruktur energi di Ukraina.

3. Serangan Rusia terhadap infrastruktur energi Ukraina terjadi di tengah negosiasi damai

ilustrasi pembangkit listrik (pexels.com/Pok Rie)

Ironisnya, serangan yang dilakukan Rusia terhadap infrastruktur energi ini dilakukan di tengah negosiasi damai yang sedang diupayakan Ukraina. Ukraina pada Sabtu lalu sudah melakukan pertemuan dengan Rusia dan Amerika Serikat di Abu Dhabi untuk membahas masalah perdamaian.

Sayangnya, pertemuan tersebut tidak menghasilkan kesepakatan yang berarti. Perdamaian masih belum bisa diraih karena Rusia belum setuju. Oleh karena itu, pertemuan di antara ketiga negara bakal dilanjutkan pada 1 Februari 2026 mendatang.

"Kami telah sepakat bahwa putaran selanjutnya akan dimulai pekan depan di Abu Dhabi lagi," kata seorang pejabat Amerika Serikat yang tidak disebutkan namanya dilansir BBC.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team