Putin: Kisruh AS dan Greenland Bukan Urusan Rusia!

- Putin menolak klaim AS atas Greenland
- Rusia pantau konflik AS dan sekutu Barat
- Pengambilalihan Greenland punya dampak sejarah yang luas
Jakarta, IDN Times - Presiden Rusia, Vladimir Putin, mengatakan bahwa kepemilikan Greenland bukanlah urusan Rusia. Putin menyebut, Amerika Serikat (AS) dan Denmark harus menyelesaikan sendiri perselisihannya terkait kepemilikan wilayah semi otonom tersebut.
"Apa yang terjadi di Greenland sama sekali bukan urusan kami. Kebetulan, Denmark selalu memperlakukan Greenland sebagai koloni dan cukup keras, jika bukan kejam, terhadapnya. Tetapi itu adalah masalah yang berbeda sama sekali, dan saya ragu ada yang tertarik dengan itu (Greenland) saat ini," kata Putin, dikutip The Straits Times.
Pernyataan Putin muncul setelah Trump berulangkali mengatakan ancaman keamanan dari Moskow sebagai pembenarannya untuk mengambil alih Greenland. Wilayah Denmark itu merupakan pulau berpemerintahan sendiri yang kaya akan mineral dan memiliki nilai strategis di Arktik.
1. Putin sebut membeli Greenland dari Denmark menelan biaya Rp16 triliun
Kementerian Luar Negeri Rusia menolak keras pernyataan Trump yang menyebut Moskow juga memiliki ambisi di Greenland. Meski begitu, Menteri Luar Negeri Sergei Lavrov mengatakan pulau yang kaya sumber daya alam tersebut bukanlah bagian alami dari Denmark.
Putin mengingatkan bahwa Rusia pada 1867 pernah menjual Alaska kepada AS seharga 7,2 juta dollar AS (sekitar Rp121 miliar). Sementara itu, Denmark pada 1917 menjual Kepulauan Virgin kepada Washington. Kedua hal ini menjadi preseden untuk transaksi tanah semacam itu.
Dengan menggunakan harga Alaska, yang disesuaikan dengan inflasi dan memperhitungkan ukuran Greenland yang lebih besar, serta perubahan harga emas, Putin mengatakan bahwa membeli Greenland dari Denmark dapat menelan biaya sekitar 1 miliar dollar AS (sekitar Rp16 triliun). Menurutnya, hal itu mampu dipenuhi oleh Washington.
2. Rusia pantau konflik antara AS dan sekutu Barat
Putin mengisyaratkan bahwa Moskow melihat peluang dalam meningkatnya perselisihan dalam aliansi Barat. Persoalan Greenland tidak hanya membuat tegang hubungan AS-Denmark, tetapi juga mempertanyakan persatuan NATO dan kemampuan Eropa untuk melawan retorika ekspansionis Washington.
Mengutip The Times of India, para pejabat Rusia dan media pemerintah memberikan respons beragam. Beberapa berpendapat bahwa persoalan tersebut melemahkan Uni Eropa dan NATO, sekaligus mengalihkan fokus Barat dari perang Moskow di Ukraina.
Para analis di Moskow memperingatkan bahwa kehadiran AS yang lebih kuat di Greenland dapat menimbulkan tantangan keamanan dan ekonomi jangka panjang bagi Rusia. Negara rival Barat itu telah secara signifikan memperluas jejak militernya di Arktik, yang menjadi rumah bagi Armada Utara dan infrastruktur strategis utamanya.
3. Pengambilalihan Greenland punya dampak sejarah yang luas
Kremlin telah berhati-hati dalam menanggapi persoalan Greenland. Pada awal pekan ini, juru bicara Dmitry Peskov mengatakan rencana Trump terhadap wilayah di bawah kerajaan Denmark itu dapat memiliki konsekuensi sejarah yang luas.
"Terlepas dari apakah itu baik atau buruk dan apakah itu sesuai dengan hukum internasional atau tidak, ada para ahli yang percaya bahwa jika Trump menguasai Greenland, dia akan tercatat dalam sejarah. Bukan hanya sejarah AS, tetapi sejarah dunia," kata Peskov.
Lavrov membandingkan ambisi Trump di Greenland dengan aneksasi Krimea oleh Moskow pada 2014. Dia mengatakan bahwa Krimea tidak kalah pentingnya bagi keamanan Federasi Rusia daripada Greenland bagi Washington.


















