Program ketahanan pangan senilai 100 juta dolar AS (Rp1,6 triliun) yang diluncurkan pemerintah Afghanistan akan menjangkau lebih dari 151 ribu rumah tangga atau sekitar 1 juta orang selama dua tahun ke depan. Sasaran utama mencakup pengungsi yang kembali dari Pakistan dan Iran, komunitas tuan rumah, serta keluarga terdampak gempa bumi dan banjir, dengan fokus memulihkan mata pencaharian pedesaan, melindungi ternak, serta membangun kembali sistem produksi pertanian yang terganggu.
Inisiatif ini menekankan pendekatan ramah iklim dan berorientasi pada kebutuhan manusia untuk meningkatkan produksi pertanian, ketahanan pangan, serta diversifikasi sumber penghidupan di wilayah pedesaan.
“Kemitraan kami dengan ADB menghasilkan dampak nyata dan terukur bagi keluarga petani di seluruh Afghanistan,” ujar Qu Dongyu, Direktur Jenderal FAO, dikutip NBC News.
Program tersebut melanjutkan kolaborasi FAO dan ADB sejak 2022, yang telah menjangkau 5,6 juta orang melalui dukungan pertanian senilai 265 juta dolar AS (Rp4,4 triliun). Paket bantuan seperti benih gandum bersertifikat FAO terbukti meningkatkan hasil panen hingga 27 persen, yang cukup untuk memberi makan dua orang tambahan per rumah tangga selama setahun.