Cuaca Ekstrem, 270 Ribu Anak Afghanistan Berisiko Tertular Penyakit

- Cuaca ekstrem telah memakan korban jiwa dan melukai orang di beberapa wilayah di Afghanistan.
- Kekurangan gizi juga dirasakan oleh anak-anak di Afghanistan.
- Akses pendidikan yang sulit diakses oleh perempuan dan anak perempuan di Afghanistan.
Jakarta, IDN Times - Badan PBB untuk anak-anak (UNICEF) memperingatkan bahwa 270 ribu anak di Afghanistan berisiko serius tertular penyakit mengancam jiwa karena cuaca dingin yang ekstrem. Disebutkan, suhu musim dingin yang membekukan memperparah situasi kemanusiaan yang sudah mengerikan di negara itu.
"Hujan salju lebat memperburuk situasi yang sudah kritis bagi anak-anak yang terkena dampak gempa bumi tahun lalu di Afghanistan timur," kata UNICEF dalam pernyataannya pada 22 Januari 2026.
"Paparan berkepanjangan terhadap kondisi dingin dan lembap telah meningkatkan risiko infeksi pernapasan, hipotermia, dan penyakit lain yang dapat dicegah," sambungnya, dikutip dari Anadolu Agency, Jumat (23/1/2026).
1. Cuaca ekstrem telah memakan korban jiwa dan melukai orang di beberapa wilayah di Afghanistan
Pernyataan badan PBB tersebut juga menyebutkan bahwa anak-anak yang tinggal di permukiman sementara sangat rentan terhadap hujan, salju, dan sanitasi yang buruk. Akibatnya, semakin meningkatkan risiko kesehatan.
Dilaporkan, setidaknya 11 orang tewas dan 3 lainnya terluka selama dua hari terakhir di tengah hujan salju dan hujan lebat yang melanda beberapa provinsi di Afghanistan.
Cuaca ekstrem telah memengaruhi penduduk di provinsi Parwan bagian timur, Wardak, Kandahar bagian selatan, Jawzjan bagian utara, Faryab, dan Bamiyan bagian tengah. Dinas meteorologi setempat memperkirakan bahwa curah hujan akan terus berlanjut di sebagian besar wilayah Afghanistan dalam beberapa hari mendatang.
2. Kekurangan gizi juga dirasakan oleh anak-anak di Afghanistan

Kekurangan gizi juga melanda anak-anak di Afghanistan, dan direspons oleh Inggris dengan menyumbangkan 8 juta poundsterling (sekitar Rp183,1 miliar) kepada UNICEF, Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO), dan Program Pangan Dunia (WFP). Dana tersebut untuk mencegah dan mengobati kekurangan gizi di antara anak-anak dan ibu yang paling rentan di negara itu.
Dukungan tersebut datang seiring dengan laporan Klasifikasi Fase Ketahanan Pangan Terpadu (IPC) terbaru. IPC mengungkapkan bahwa hampir 3,7 juta anak di bawah usia lima tahun diperkirakan akan menderita kekurangan gizi akut pada tahun ini.
Jumlah tersebut termasuk 942 ribu anak dengan kekurangan gizi akut parah dan 700 ribu anak berisiko tinggi mengalami kekurangan gizi akut sedang. Selain itu, sekitar 1,2 juta ibu hamil dan menyusui diperkirakan akan menghadapi kekurangan gizi akut selama periode yang sama.
"Terlalu banyak anak di Afghanistan yang mengalami kekurangan gizi. Hampir 80 persen di antaranya berusia di bawah dua tahun, tahap kritis ketika anak-anak membutuhkan makanan pendamping bergizi, di samping ASI, untuk tumbuh dan berkembang," kata Tajudeen Oyewale, perwakilan UNICEF di Afghanistan.
3. Akses pendidikan yang sulit diakses oleh perempuan dan anak perempuan di Afghanistan

Saat ini, Afghanistan menjadi satu-satunya negara di dunia yang melarang keras perempuan dan anak perempuan untuk mengenyam pendidikan menengah dan tinggi. Akibatnya, 2,2 juta anak perempuan remaja dilarang bersekolah di sekolah menengah, yang membatasi peluang masa depan mereka dan pembangunan negara.
Di saat yang sama, Afghanistan menghadapi krisis pembelajaran yang lebih luas. UNICEF melaporkan bahwa 93 persen anak-anak di akhir sekolah dasar masih berjuang untuk mencapai kemampuan membaca dasar. Afghanistan sangat membutuhkan investasi literasi dini untuk mengatasi krisis pembelajaran, yang mana permasalahannya bukan hanya soal akses tetapi juga kualitas dasar yang sangat rendah.
"Ketika anak perempuan tidak mendapatkan akses pendidikan, seluruh bangsa menanggung akibatnya. Memperkuat pembelajaran dasar dan mendukung guru perempuan merupakan investasi penting dalam pemulihan dan ketahanan Afghanistan," kata Soohyun Kim, pejabat penanggung jawab UNESCO di Afghanistan.


















