Jakarta, IDN Times - Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Iklim Afrika pertama akan dibuka pada Senin (4/9/2023) di Kenya. Pertemuan akan menyoroti benua Afrika yang paling menderita akibat perbuhan iklim, namun berkontribusi paling kecil dalam perubahan iklim yang terjadi.
Data Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) menunjukkan, benua Afrika lebih besar dari gabungan China, India dan Amerika Serikat (AS). Namun, benua itu hanya memiliki 37 fasilitas radar untuk melacak cuaca.
Sementara, Eropa memiliki 345 fasilitas radar dan Amerika Utara memiliki 291 fasilitas. Investasi yang signifikan dalam adapatasi Afrika terhadap perubahan iklim, termasuk perkiraan cuaca yang baik, akan menjadi tujuan mendesak dalam KTT tersebut.
“Benua ini, secara umum, berada dalam titik buta risiko iklim,” kata peneliti di Pusat Studi Risiko Eksistensial di Universitas Cambridge, Asaf Tzachor, dikutip dari Al Jazeera.
