Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Akses Situs Dewasa Dibatasi, Penggunaan VPN di Australia Melonjak
VPN (unsplash.com/Petter Lagson)
  • Pemerintah Australia menerapkan aturan verifikasi usia ketat untuk akses konten dewasa, mewajibkan pemindaian wajah atau dokumen resmi demi melindungi anak-anak dari paparan digital berisiko.
  • Lonjakan besar penggunaan VPN terjadi setelah aturan diberlakukan, karena warga ingin menjaga privasi dan menghindari kewajiban menyerahkan data identitas pribadi saat berselancar di internet.
  • Kebijakan ini menarik perhatian global sebagai langkah proteksi anak di dunia maya, meski masih menuai perdebatan soal keseimbangan antara keamanan digital dan hak privasi pengguna.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Penggunaan layanan Virtual Private Network (VPN) di Australia mengalami lonjakan tajam menyusul pemberlakuan aturan verifikasi usia yang ketat di internet, pada Senin (9/3/2026). Banyak warga memilih mengunduh aplikasi ini untuk menyamarkan lokasi digital mereka guna menghindari keharusan menyerahkan data identitas pribadi saat mengakses situs web tertentu.

Fenomena ini membuat berbagai aplikasi VPN, baik yang gratis maupun berbayar, langsung memuncaki daftar unduhan di toko aplikasi digital dalam waktu singkat.

Para pakar teknologi menilai bahwa peningkatan penggunaan VPN merupakan bentuk reaksi masyarakat dalam upaya mempertahankan privasi di ruang siber. Namun, otoritas keamanan digital mengingatkan bahwa penggunaan VPN, terutama yang tidak berbayar, memiliki risiko pencurian data pribadi yang cukup besar.

1. Australia resmi wajibkan verifikasi identitas ketat untuk akses situs dewasa

bendera Australia (pixabay.com/ RebeccaLintzPhotography)

Otoritas pengawas internet Australia kini mewajibkan setiap platform yang menyediakan konten dewasa atau materi berbahaya lainnya untuk melakukan pengecekan identitas secara mendalam. Aturan baru ini menegaskan bahwa cara lama yang hanya mengandalkan kejujuran pengguna, seperti mengeklik tombol konfirmasi usia, kini tidak lagi dianggap sah secara hukum. Langkah tegas ini diambil agar standar perlindungan di dunia digital bisa sejalan dengan aturan yang sudah berlaku di dunia nyata.

Komisioner eSafety Australia, Julie Inman Grant, menekankan pentingnya proses verifikasi yang kuat untuk melindungi anak-anak dari dampak buruk konten dewasa.

"Platform konten dewasa wajib menerapkan verifikasi usia yang ketat. Sekadar tombol konfirmasi 'Saya sudah 18 tahun' tidak lagi cukup. Harus ada sistem yang lebih tegas," kata Grant.

Regulasi ini tidak hanya menyasar situs web biasa, tetapi juga mencakup layanan kecerdasan buatan (AI) serta toko aplikasi yang menyediakan perangkat lunak khusus dewasa. Perusahaan yang terbukti melanggar aturan ini akan menghadapi konsekuensi hukum yang sangat berat, termasuk denda hingga puluhan juta dolar. Besaran denda tersebut dirancang untuk memberikan efek jera, terutama bagi perusahaan teknologi besar yang selama ini dianggap kurang peduli terhadap keamanan pengguna muda. Kebijakan ini merupakan kelanjutan dari larangan penggunaan media sosial bagi remaja di bawah 16 tahun yang sudah berjalan sejak Desember 2025.

Dalam pelaksanaannya, verifikasi usia ini akan menggunakan teknologi canggih seperti pemindaian wajah atau pemeriksaan dokumen identitas resmi dari pemerintah. Meski dinilai efektif oleh regulator, cara ini memicu perdebatan luas mengenai keseimbangan antara keamanan masyarakat dan hak privasi pribadi di internet. Untuk mendukung aturan ini, pemerintah juga meluncurkan kampanye "For The Good Of" guna mengajak orang tua dan penyedia layanan bekerja sama menjaga ruang digital tetap aman bagi pertumbuhan anak-anak.

2. Warga Australia gunakan VPN akibat aturan baru

Bendera Australia (unsplash.com/Amber Weir)

Sesaat setelah aturan verifikasi usia resmi berlaku, jumlah warga Australia yang mengunduh aplikasi VPN melonjak drastis. Banyak pengguna internet menggunakan alat ini untuk menyembunyikan lokasi mereka agar tidak perlu memberikan data identitas yang sensitif kepada pihak ketiga. John Pane, selaku ketua Electronic Frontiers Australia, menilai bahwa fenomena ini adalah hal yang wajar.

"Tidak mengejutkan. Perilaku online seperti ini selalu muncul di setiap negara yang menerapkan aturan batas usia untuk konten dewasa," kata Pane.

Di sisi lain, perusahaan penyedia konten dewasa terbesar di dunia, Aylo, mengambil langkah tegas dengan menutup akses sepenuhnya bagi pengguna di Australia. Situs-situs populer seperti RedTube dan YouPorn kini mulai menampilkan pesan bahwa mereka tidak lagi menerima pengguna baru dari wilayah tersebut. Langkah ini diambil karena perusahaan merasa aturan tersebut sulit dijalankan tanpa mengorbankan keamanan data pengguna secara luas.

Meskipun penggunaan VPN menjadi sangat populer, otoritas Australia mengingatkan masyarakat akan adanya risiko keamanan siber, terutama pada layanan yang tidak berbayar. John Pane turut memberikan peringatan keras kepada warga yang berniat menggunakan VPN untuk menghindari aturan verifikasi usia.

"Beberapa penyedia VPN yang gratis atau memberikan diskon bisa memeriksa data pengguna dan kemudian menjual data tersebut untuk menghasilkan uang," ujar Pane, dilansir The Guardian.

3. Australia jadi contoh dunia dalam batasi usia akses internet untuk lindungi anak

ilustrasi VPN (unsplash.com/ Privecstasy)

Langkah tegas Australia dalam mengatur batas usia internet kini menjadi pusat perhatian dunia. Negara-negara seperti Inggris, Prancis, dan beberapa wilayah di Amerika Serikat mulai mempertimbangkan untuk mengikuti jejak tersebut demi melindungi anak-anak di dunia maya. Dukungan besar juga datang dari Unicef Australia yang melihat tingginya risiko anak-anak terpapar konten berbahaya secara tidak sengaja akibat kemudahan akses gawai saat ini. John Livingstone, selaku kepala kebijakan digital di Unicef Australia, menekankan pentingnya aturan ini bagi kesehatan mental dan perkembangan anak.

"Paparan tak sengaja pada pornografi, kekerasan, hingga konten gangguan makan sejak dini berdampak buruk permanen bagi tumbuh kembang anak," ujar Livingstone.

Meskipun menuai banyak dukungan, kebijakan ini tetap menghadapi tantangan besar terkait celah teknologi yang mungkin masih bisa ditembus oleh remaja yang mahir internet. Untuk memastikan keberhasilan aturan ini, otoritas keamanan internet Australia mulai melakukan penelitian jangka panjang yang melibatkan 4.000 anak dan keluarga.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team