Australia Siap Kirim Jet Militer ke Timur Tengah untuk Evakuasi Warganya

- Pemerintah Australia mengerahkan pesawat militer ke Timur Tengah untuk mengevakuasi warganya setelah konflik meningkat akibat serangan AS-Israel terhadap Iran yang menewaskan Ayatollah Ali Khamenei.
- Anthony Albanese memastikan pengerahan C-17A Globemaster dan KC-30A sebagai langkah darurat, sementara jalur komersial tetap jadi prioritas utama pemulangan sekitar 115 ribu warga Australia di kawasan tersebut.
- Iran melancarkan serangan balasan ke 11 negara, memicu kekhawatiran global dan gangguan lalu lintas udara internasional, dengan NATO berhasil mencegat rudal yang melintasi wilayah udara Turki.
Jakarta, IDN Times - Pemerintah Australia telah mengerahkan pesawat militer ke Timur Tengah, sebagai langkah darurat untuk mengevakuasi ribuan warga negara mereka. Langkah ini diambil menyusul eskalasi konflik besar setelah serangan Amerika Serikat (AS)-Israel terhadap Iran, yang menewaskan pemimpin tertingginya Ayatollah Ali Khamenei, dan memicu konflik regional yang meluas.
Perdana Menteri Australia, Anthony Albanese, mengonfirmasi pengerahan aset militer ke kawasan tersebut, tanpa memberikan rincian lebih lanjut.
"Saya mengucapkan terima kasih kepada para warga Australia yang memasuki situasi berbahaya untuk membantu sesama warga Australia," kata Albanese kepada Parlemen pada Kamis (5/3/2026), dikutip dari The Straits Times.
1. Pengerahan aset strategis Australia di Timur Tengah, guna memastikan keselamatan warganya

The Guardian mencatat armada yang dikerahkan mencakup: C-17A Globemaster milik Royal Australian Air Force, yakni pesawat angkut berat untuk logistik. Serta, KC-30A, pesawat tanker multi peran yang mampu mengangkut hingga 270 penumpang. Kedua pesawat tersebut ditempatkan sebagai bagian dari perencanaan darurat pemerintah.
Saat ini, terdapat sekitar 115 ribu warga Australia di wilayah Timur Tengah, dengan 24 ribu di antaranya berada di Dubai yang mencakup ekspatriat dan penumpang transit. Meski aset militer telah disiagakan, pemerintah tetap memprioritaskan jalur komersial sebagai cara utama bagi warga Australia untuk kembali ke tanah air.
Albanese mengatakan pihaknya bersama Uni Emirat Arab (UEA) dan negara-negara Teluk bekerja keras mengamankan lebih banyak penerbangan agar warganya bisa pulang secepat mungkin. Hingga 5 Maret 2026, dua penerbangan komersial dari Dubai telah mendarat di Sydney dengan membawa ratusan penumpang. Sementara, dua penerbangan tambahan dijadwalkan menyusul dari UEA.
2. Tekanan politik di Australia dan situasi keamanan

Di dalam negeri, Senator James Paterson mendesak transparansi penuh mengenai rincian penempatan militer tersebut. Ia mempertanyakan aset apa yang dikerahkan, ke negara mana, dan untuk tujuan apa. Hal ini merujuk pada keberhasilan evakuasi Afghanistan tahun 2021 sebagai acuan, guna mengerahkan personel militer ke wilayah tersebut.
"Jika ada aset militer Australia di wilayah itu, kapan mereka akan menerima warga Australia dan membawa mereka pulang?," ungkap Paterson, dikutip dari SBS News.
Sementara itu, Menteri Luar Negeri Penny Wong menegaskan bahwa Australia saat ini tidak mempertimbangkan pengiriman pasukan untuk terlibat langsung dalam konflik. Di sisi lain, Wong mengatakan ia sangat prihatin dengan konflik tersebut yang telah menyebar dengan sangat cepat. Ia mengakui bahwa intensitas serangan balasan Teheran berada di luar antisipasi global.
3. Serangan Iran diklaim telah menyasar ke 11 negara sebagai balasan atas AS-Israel

Sebelumnya, Canberra telah mendukung upaya untuk mencegah Teheran memperoleh senjata nuklir, dan dari Iran yang diklaim terus menjadi ancaman bagi perdamaian dan keamanan global. Pihaknya juga mengecam tindakan serangan balasan Iran karena menyerang negara-negara tetangganya, termasuk mereka yang tidak terlibat.
Perang yang meletus pada 28 Februari 2026 tersebut telah mengganggu lalu lintas udara internasional. Dilaporkan, Iran kini telah melancarkan serangan ke 11 negara sebagai balasan. Sebuah rudal balistik yang ditembakkan dari Iran ke arah wilayah udara Turki berhasil dicegat dan dinetralisir oleh unit pertahanan udara dan rudal NATO di Mediterania Timur pada Rabu (4/3/2026).
Menurut Kementerian Pertahanan Nasional Turki, proyektil tersebut yang terdeteksi setelah melewati Irak dan Suriah, berhasil dihalau oleh pertahanan udara. Pecahan yang jatuh di distrik Dortyol di provinsi Hatay selatan merupakan bagian dari rudal pencegat yang digunakan untuk menghancurkan ancaman tersebut, Anadolu Agency melaporkan.


















