TUTUP
SCROLL UNTUK MELANJUTKAN MEMBACA
Gabung di IDN Times

Rusia Tuduh AS dan Sekutu Lakukan Persiap Perang Lawan Korut

AS, Jepang dan Korsel telah melakukan latihan gabungan

bendera Rusia (pexels.com/Сергей Велов)

Jakarta, IDN Times - Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov menuduh Amerika Serikat (AS), Korea Selatan dan Jepang sedang mempersiapkan perang melawan Korea Utara.

Dalam konferensi pers PBB, ia mengatakan AS dan sekutunya sedang melakukan latihan militer skala besar, yang mereka sebut sebagai latihan defensif untuk mengatasi ancaman nuklir Korea Utara, dilansir Associated Press.

"Tiba-tiba retorika Korea Selatan menjadi semakin bermusuhan terhadap Pyongyang. Di Jepang juga, kami mendengar retorika agresif. Mereka sedang mempersiapkan perang dengan DPRK,” kata Lavrov pada Rabu (24/1/2024), dengan menggunakan inisial nama resmi Korea Utara, Republik Demokratik Rakyat Korea.

1. AS dan sekutunya telah mendiskusikan kerja sama untuk menghadapi Korut

Lavrov juga mengatakan, AS dan sekutunya di Asia telah membicarakan soal pengembangan kerja sama mereka.

“Cara mereka mengungkapkannya agak plin-plan, tapi mereka mengatakan sesuatu seperti kerja sama terkait nuklir,” ujarnya.

Pekan lalu, ketiga negara tersebut menggelar latihan angkatan laut gabungan yang melibatkan kapal induk AS dalam unjuk kekuatan terbaru melawan Pyongyang. 

Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un juga telah melakukan serangkaian uji coba senjata dan memberikan ancaman yang provokatif, sehingga menyebabkan ketegangan regional mencapai titik tertinggi dalam beberapa tahun terakhir.

Baca Juga: Jet Rusia Ditembak Ukraina, 65 Orang Tewas

2. Lavrov sebut hubungan Rusia dengan Korut berjalan baik

Sementara itu, Lavrov menyebut hubungan Rusia dengan Korea Utara berjalan dengan cukup baik. 

“Kami melihat DPRK berusaha untuk mandiri, tidak mengikuti keinginan siapa pun,” katanya.

Kim merupakan salah satu dari sedikit pemimpin dunia yang secara terbuka mendukung perang Rusia terhadap Ukraina. Kedekatan antara Moskow dan Pyongyang ini telah menimbulkan kekhawatiran internasional terkait dugaan kerja sama senjata.

Korea Utara dituduh memberikan pasokan senjata kepada Rusia untuk membantu memperpanjang invasi di Ukraina, dengan imbalan bantuan ekonomi dan teknologi militer. Namun kedua negara membantahnya.

Presiden Rusia Vladimir Putin juga telah mengutarakan kesediaannya untuk mengunjungi Pyongyang dalam pertemuannya dengan Kim di Rusia pada September Lalu. Lavrov mengatakan bahwa waktu kunjungannya akan ditentukan Kremlin.

Verified Writer

Fatimah

Long life learner

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Rekomendasi Artikel

Berita Terkini Lainnya