ilustrasi kapal kecil berkecepatan tinggi (pexels.com/Ahmet Arikaya)
Sejumlah pakar keamanan menilai armada ini menghadirkan tantangan rumit di lapangan. Peneliti senior keamanan maritim di International Institute for Strategic Studies (IISS), Nick Childs, mengatakan jumlah kapal yang sangat banyak membuat aparat keamanan sulit memastikan seluruh ancaman benar-benar terpantau.
Pengalaman langsung menghadapi kapal cepat Iran diungkap pakar keamanan maritim dari Australian National University National Security College, Jennifer Parker kepada ABC. Mantan perwira angkatan laut itu menceritakan insiden pada 2008 ketika kapal cepat Iran melaju mendekat dengan kecepatan tinggi sambil mengarahkan senjata dari jarak sangat dekat.
Data dari Pusat Operasi Perdagangan Maritim Inggris Raya (UKMTO) mencatat ada 26 kapal yang diserang di Selat Hormuz dan Teluk Persia sejak perang pecah. Mayoritas kerusakan dipicu rudal dan drone bunuh diri, sementara kapal cepat serta ranjau laut masih dianggap sebagai ancaman paling dikhawatirkan.
AS merespons situasi tersebut dengan memperbanyak patroli udara di kawasan. Helikopter Seahawk dilaporkan sudah menghancurkan sedikitnya enam kapal kecil Iran, sementara teknologi bawah air tanpa awak mulai digunakan untuk menghadapi ranjau dan kapal selam mini atau midget submarines, meski pengamanan total jalur pelayaran tetap membutuhkan waktu panjang.
Presiden Donald Trump menyebut kapal serang cepat Iran sebagai ancaman terbatas setelah kekuatan konvensional negara itu melemah. Trump juga sempat memperkenalkan Project Freedom untuk mengawal kapal yang tertahan di selat, walau program itu kini dihentikan sementara demi membuka peluang kesepakatan diplomatik, sedangkan blokade pelabuhan Iran tetap berjalan.
Kepala Kehakiman Iran, Gholamhossein Mohseni-Ejei, menyatakan lewat media sosial bahwa armada IRGCN dan drone di Pulau Faror siap memenuhi pertahanan udara lawan. Di sisi lain, koresponden senior The Telegraph, Adrian Blomfield, menjuluki armada nyamuk Iran sebagai “senjata gangguan massal” di jalur laut yang membawa sekitar 20 persen pasokan minyak dunia.