Serangan tersebut menyebabkan kebakaran kecil di beberapa area kapal. Namun, kobaran api kini sudah dipadamkan. Otoritas Qatar menjelaskan, tidak ada korban jiwa imbas insiden tersebut.
Langgar Blokade, Iran Serang Kapal Minyak Qatar di Selat Hormuz

- Iran menyerang kapal tanker minyak Qatar bernama Al Kharaitiyat di Selat Hormuz karena dianggap melanggar blokade, menyebabkan kebakaran kecil tanpa korban jiwa.
- Blokade Selat Hormuz oleh Iran masih berlangsung sejak Februari sebagai respons atas serangan AS dan Israel yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei.
- AS juga memblokade Selat Hormuz dan sempat merencanakan operasi Project Freedom untuk mengamankan pelayaran, namun ditunda karena negosiasi damai dengan Iran masih berjalan.
Jakarta, IDN Times - Iran dilaporkan telah menyerang kapal tanker minyak milik Qatar pada Sabtu (9/5/2026) malam waktu setempat. Serangan dilakukan karena kapal itu telah melanggar blokade Selat Hormuz yang dilakukan Iran.
Awalnya, tidak ada yang mengetahui siapa dalang di balik serangan terhadap kapal tanker milik Qatar. Namun, tidak lama usai serangan terjadi, Juru Bicara pasukan militer Iran,Mohammad Akraminia, mengakui bahwa pihaknya berada di balik serangan itu.
1. Kapal akan mengirim minyak ke Pakistan

Kapal minyak Qatar yang diserang Iran tadi bernama Al Kharaitiyat. Kapal itu dikabarkan akan mengirim minyak dari Qatar ke Pakistan. Ini merupakan ekspor minyak pertama yang dilakukan Qatar sejak perang Iran pecah pada Februari.
Sebelumnya, kapal Al Kharaitiyat sudah diisi minyak di fasilitas minyak Ras Laffan. Ras Laffan sendiri merupakan salah satu fasilitas minyak terbesar milik Qatar. Fasilitas minyak ini pernah diserang oleh Iran pada Maret lalu.
Dalam perjalanan menuju Pakistan, kapal Al Kharaitiyat dikabarkan akan melakukan transit di Oman. Namun beberapa sumber menyebut bahwa kapal akan transit di pelabuhan Iran.
2. Iran masih memblokade Selat Hormuz

Sebagai informasi, Iran saat ini masih memblokade Selat Hormuz. Iran sendiri mulai memblokade Selat Hormuz sejak 28 Februari lalu. Blokade ini dilakukan sebagai balasan atas serangan AS dan Israel di Ibu Kota Teheran yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei.
Pada 17 April, Iran sebetulnya sudah membuka kembali Selat Hormuz secara penuh sebagai balasan karena AS bersedia menyetujui gencatan senjata. Namun, sehari setelahnya, Iran memutuskan untuk menutup lagi selat tersebut. Langkah ini dilakukan sebagai bentuk protes Iran karena AS tetap memblokade pelabuhan miliknya meski sudah ada gencatan senjata.
Sebetulnya, Iran sudah bersedia untuk membuka kembali Selat Hormuz. Kesediaan itu tertuang dalam proposal perdamaian baru yang dikirim ke AS lewat Pakistan pada 26 April. Sayangnya, Trump tidak puas dengan proposal tersebut. Sebab, proposal itu tidak berbicara soal penghentian program senjata nuklir milik Iran. Trump lebih suka Iran menghentikan program senjata nuklirnya jika ingin berdamai dengan AS daripada hanya membuka Selat Hormuz.
3. AS juga masih memblokade Selat Hormuz

Selain Iran, blokade Selat Hormuz juga dilakukan oleh AS. Hal ini membuat Iran dan AS kini secara praktis mengambil alih kekuasaan di selat tersebut.
Beberapa waktu lalu, Presiden AS, Donald Trump, berencana melakukan operasi Project Freedom di Selat Hormuz. Rencana itu disampaikan Trump lewat sebuah unggahan di Truth Social pada 3 Mei pekan lalu. Operasi ini dilakukan untuk mengawal kapal-kapal agar bisa berlayar di Selat Hormuz dengan bebas.
Namun, Trump akhirnya memutuskan untuk menunda operasi Project Freedom. Sebab, Trump mengklaim kesepakatan damai dengan Iran sudah semakin dekat. Dilansir The Guardian, ia bahkan mengklaim Iran akan segera menyetujui kesepakatan tersebut.
Kendati begitu, Trump menegaskan dirinya bakal meluncurkan operasi Project Freedom Plus di Selat Hormuz jika negosiasi perdamaian dengan Iran kembali gagal. Rencana tersebut disampaikan Trump pada Sabtu.


















