SELAT HORMUZ (2 Desember 2020) Kapal patroli pantai USS Tempest (PC 2) melintasi Selat Hormuz, 2 Desember 2020. Tempest dikerahkan ke wilayah operasi Armada ke-5 AS untuk mendukung operasi angkatan laut guna memastikan stabilitas dan keamanan maritim di Wilayah Tengah, yang menghubungkan Mediterania dan Pasifik melalui Samudra Hindia bagian barat dan tiga titik penting yang menghambat arus perdagangan global. (Foto Angkatan Laut AS oleh Spesialis Komunikasi Massa Kelas 2 Indra Beaufort)
Perang yang melibatkan Iran membuat arus kapal tanker minyak melalui Selat Hormuz nyaris terhenti. Raksasa pelayaran seperti Maersk dan Hapag-Lloyd menyatakan telah menangguhkan seluruh pengiriman yang melintasi jalur tersebut demi alasan keamanan.
Padahal sekitar 20 persen pasokan minyak dunia melewati selat yang sangat strategis itu. Kekhawatiran akan terganggunya suplai dalam waktu lama langsung memicu lonjakan harga minyak pada Senin, termasuk mendorong kenaikan biaya energi seperti harga gas di Amerika Serikat.
Kepala analis Global Risk Management, Arne Lohmann Rasmussen, kepada CBS News menjelaskan bahwa secara de facto selat tersebut praktis tertutup karena tidak ada pihak yang berani melintas. Ia menilai risiko serangan terlalu tinggi, sementara perlindungan asuransi sulit diperoleh atau biayanya melonjak tajam, sehingga banyak operator memilih menunggu sampai situasi keamanan membaik. Rasmussen juga memperingatkan bahwa jika aliran minyak dan gas dari jalur itu benar-benar terputus, dampaknya akan signifikan bagi pasar. Menurutnya, meskipun tidak ada blokade fisik resmi, kombinasi ancaman dari Iran serta serangan drone dan rudal membuat kapal tanker tak bisa melintas dengan aman.
Para analis kini menyoroti durasi konflik sebagai faktor kunci. Kepala riset minyak mentah S&P Global, Jim Burkhard, dalam laporannya menyebut bahwa jika pengurangan lalu lintas tanker berlangsung sekitar satu pekan saja, itu sudah tergolong peristiwa bersejarah. Bila lebih lama dari itu, kondisi tersebut bisa menjadi guncangan besar bagi pasar minyak, memicu lonjakan harga untuk membatasi pasokan yang langka sekaligus berdampak pada pasar keuangan global.