Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Arus Kapal di Selat Hormuz Nyaris Terhenti, Ini Fakta Pentingnya!
Pada tanggal 2 Desember 2020, Moderate Resolution Imaging Spectroradiometer (MODIS) yang terpasang pada satelit Terra milik NASA memperoleh citra warna asli Selat Hormuz. ( MODIS Land Rapid Response Team, NASA GSFC, Public domain, via Wikimedia Commons)
  • Serangan militer AS dan Israel ke Iran memicu ketegangan di Selat Hormuz, membuat arus kapal nyaris terhenti dan menimbulkan kekhawatiran global terhadap pasokan energi.
  • Banyak perusahaan pelayaran besar menghentikan pengiriman melalui selat strategis itu karena risiko tinggi, menyebabkan lonjakan harga minyak serta gangguan pada pasar energi dunia.
  • Analis memperingatkan bahwa jika penutupan berlangsung lama, harga minyak bisa menembus tiga digit per barel dan berpotensi mengguncang ekonomi global secara signifikan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Serangan militer Amerika Serikat dan Israel ke wilayah Iran langsung menggeser perhatian dunia ke Selat Hormuz, jalur laut sempit yang menjadi nadi utama pengiriman minyak global. Ketegangan yang meledak sejak pekan lalu membuat kawasan itu berubah dari rute dagang vital menjadi titik rawan konflik.

Perlambatan lalu lintas kapal bukan terjadi dalam ruang hampa. Sejak serangan dimulai, kapal-kapal komersial memilih mengurangi kecepatan, menunggu di luar selat, atau menunda pelayaran karena risiko keamanan meningkat. Analis Wall Street pada Senin (2/3/2026) memperingatkan bahwa eskalasi militer dapat mengganggu pasokan minyak dan mendorong lonjakan biaya energi global. Pusat Operasi Perdagangan Maritim Inggris juga melaporkan adanya serangan terhadap beberapa kapal di sekitar selat serta peningkatan gangguan elektronik pada sistem navigasi.

1. Respons Iran di tengah tekanan militer

Foto yang dirilis oleh stasiun televisi pemerintah, Islamic Republic of Iran Broadcasting News (IRIBNEWS) pada 2 Maret 2026, menunjukkan pertemuan kedua Dewan Kepemimpinan Sementara yang dihadiri oleh Presiden Masoud Pezhakian (tengah), Ketua Kehakiman Gholamhossein Mohseni Ejei (kiri), dan Alireza Aarafi (kanan), seorang anggota ahli hukum Dewan Penjaga Konstitusi, di Teheran. Foto: AFP PHOTO / ISLAMIC REPUBLIC OF IRAN BROADCASTING NEWS (IRIBNEWS)

Di tengah kondisi itu, ancaman penutupan Selat Hormuz oleh Iran dipandang sebagai respons terhadap tekanan militer yang mereka hadapi. Kevin Book, direktur pelaksana Clearview Energy Partners, mengatakan infrastruktur energi di kawasan tersebut berada dalam risiko besar, bukan hanya karena serangan langsung, tetapi juga akibat dampak tidak langsung dari konflik.

Pecahan atau puing intersepsi rudal, misalnya, bisa jatuh ke fasilitas vital dan melumpuhkan operasionalnya. Dalam situasi perang terbuka di wilayah dengan konsentrasi produksi energi sebesar itu, gangguan terhadap jalur pelayaran menjadi konsekuensi yang sulit dihindari.

2. Apa yang terjadi di Selat Hormuz?

SELAT HORMUZ (2 Desember 2020) Kapal patroli pantai USS Tempest (PC 2) melintasi Selat Hormuz, 2 Desember 2020. Tempest dikerahkan ke wilayah operasi Armada ke-5 AS untuk mendukung operasi angkatan laut guna memastikan stabilitas dan keamanan maritim di Wilayah Tengah, yang menghubungkan Mediterania dan Pasifik melalui Samudra Hindia bagian barat dan tiga titik penting yang menghambat arus perdagangan global. (Foto Angkatan Laut AS oleh Spesialis Komunikasi Massa Kelas 2 Indra Beaufort)

Perang yang melibatkan Iran membuat arus kapal tanker minyak melalui Selat Hormuz nyaris terhenti. Raksasa pelayaran seperti Maersk dan Hapag-Lloyd menyatakan telah menangguhkan seluruh pengiriman yang melintasi jalur tersebut demi alasan keamanan.

Padahal sekitar 20 persen pasokan minyak dunia melewati selat yang sangat strategis itu. Kekhawatiran akan terganggunya suplai dalam waktu lama langsung memicu lonjakan harga minyak pada Senin, termasuk mendorong kenaikan biaya energi seperti harga gas di Amerika Serikat.

Kepala analis Global Risk Management, Arne Lohmann Rasmussen, kepada CBS News menjelaskan bahwa secara de facto selat tersebut praktis tertutup karena tidak ada pihak yang berani melintas. Ia menilai risiko serangan terlalu tinggi, sementara perlindungan asuransi sulit diperoleh atau biayanya melonjak tajam, sehingga banyak operator memilih menunggu sampai situasi keamanan membaik. Rasmussen juga memperingatkan bahwa jika aliran minyak dan gas dari jalur itu benar-benar terputus, dampaknya akan signifikan bagi pasar. Menurutnya, meskipun tidak ada blokade fisik resmi, kombinasi ancaman dari Iran serta serangan drone dan rudal membuat kapal tanker tak bisa melintas dengan aman.

Para analis kini menyoroti durasi konflik sebagai faktor kunci. Kepala riset minyak mentah S&P Global, Jim Burkhard, dalam laporannya menyebut bahwa jika pengurangan lalu lintas tanker berlangsung sekitar satu pekan saja, itu sudah tergolong peristiwa bersejarah. Bila lebih lama dari itu, kondisi tersebut bisa menjadi guncangan besar bagi pasar minyak, memicu lonjakan harga untuk membatasi pasokan yang langka sekaligus berdampak pada pasar keuangan global.

3. Seberapa tinggi harga minyak bisa naik jika selat tersebut tetap tertutup?

ilustrasi perusahaan minyak (pexels.com/@umaraffan499/)

Sejumlah analis menilai Iran kemungkinan tidak mudah mempertahankan pembatasan lalu lintas kapal di Selat Hormuz dalam jangka panjang, terutama jika Amerika Serikat dan Israel terus melemahkan kekuatan angkatan laut serta kemampuan militernya. Para ahli juga mengingatkan bahwa langkah memblokir arus minyak justru bisa menjadi bumerang karena ekspor energi merupakan penopang penting bagi ekonomi Iran yang sedang rapuh.

Secara garis besar Iran memiliki dua opsi untuk menutup selat: mengganggu atau menyerang kapal yang melintas, atau menanam ranjau laut. Namun, ia menekankan bahwa tanpa kekuatan angkatan laut yang memadai, kedua skenario tersebut akan sulit dijalankan secara efektif.

Di sisi lain, Arne Lohmann Rasmussen dari Global Risk Management memperingatkan kepada CBS News bahwa penutupan berkepanjangan dapat mendorong harga minyak melonjak tajam. Ia menyebut situasi saat ini baru berlangsung beberapa hari, tetapi jika berlarut-larut hingga berminggu-minggu atau berbulan-bulan, harga minyak berpotensi menembus level tiga digit per barel. Kondisi semacam itu, menurutnya, bisa menekan ekonomi global secara signifikan dan bahkan membuka risiko resesi, sehingga jalur tersebut menjadi instrumen tekanan yang sangat kuat.

4. Apakah ada alternatif lain selain Selat Hormuz?

Minyak mentah, kondensat, dan produk petroleum yang diangkut melalui Selat Hormuz pada tahun 2014 hingga 2018. ( U.S. Energy Information Administration, Public domain, via Wikimedia Commons)

Minyak yang selama ini dikirim melalui Selat Hormuz sebenarnya masih bisa dialihkan lewat jalur darat, meski kapasitasnya terbatas.

Salah satu opsi adalah Pipa Timur-Barat di Arab Saudi, yang juga dikenal sebagai Petroline. Pipa sepanjang hampir 750 mil itu mengalirkan minyak menuju pelabuhan di Laut Merah. Alternatif lain berada di Uni Emirat Arab, yakni Pipa Minyak Mentah Abu Dhabi sepanjang sekitar 400 mil yang menyalurkan minyak ke terminal ekspor di Teluk Oman.

Meski begitu, para analis menilai kapasitas kedua jalur tersebut jauh dari cukup untuk menggantikan seluruh volume minyak yang saban hari melewati Selat Hormuz. Analis energi senior PitchBook, Benny Wong, menegaskan bahwa pada praktiknya tidak ada jalur pengganti yang benar-benar mampu menutup kekosongan aliran tersebut.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team