Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
AS Desak Pertemuan Langsung Pemimpin Lebanon dan Israel
bendera Amerika Serikat (unsplash.com/Robert Linder)
  • AS mendesak pertemuan langsung antara Presiden Lebanon Joseph Aoun dan PM Israel Benjamin Netanyahu untuk membahas kedaulatan, keamanan perbatasan, serta dukungan kemanusiaan dengan fasilitasi Presiden Donald Trump.
  • Meski ada gencatan senjata, Israel tetap melancarkan serangan di Lebanon selatan yang menewaskan lebih dari 20 orang dan memicu kecaman keras dari Presiden Aoun atas pelanggaran hukum internasional.
  • Sejak konflik Maret 2026 antara Israel dan Hizbullah, lebih dari 2.500 warga Lebanon tewas, ribuan terluka, dan jutaan mengungsi akibat serangan berkelanjutan di berbagai wilayah.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Kedutaan Besar Amerika Serikat (AS) di Lebanon, pada Kamis (30/4/2026), mendesak diadakannya pertemuan langsung antara Presiden Lebanon, Joseph Aoun, dan Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu.

Sejak konflik antara Israel dan kelompok Hizbullah kembali meletus pada awal Maret 2026, perwakilan Israel dan Lebanon telah bertemu dua kali di Washington, yang merupakan pertemuan langsung pertama antara kedua negara dalam beberapa dekade. Perundingan tersebut membuahkan gencatan senjata selama 10 hari yang dimulai pada 17 April 2026, dan diperpanjang selama 3 pekan.

"Pertemuan langsung antara Presiden Aoun dan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu yang difasilitasi oleh Presiden Trump akan memberi Lebanon kesempatan untuk memperoleh jaminan nyata terkait kedaulatan penuh dan integritas teritorialnya, keamanan perbatasan, dukungan kemanusiaan dan rekonstruksi, serta pemulihan otoritas penuh negara atas setiap jengkal wilayahnya, dengan jaminan dari Amerika Serikat,” bunyi pernyataan dari kedutaan.

Sementara itu, Presiden AS, Donald Trump, mengatakan dalam konferensi pers bahwa perundingan langsung antara Lebanon dan Israel akan terwujud dalam waktu 2 pekan.

1. Israel terus lakukan pelanggaran gencatan senjata

operasi militer Israel di Lebanon selama perang 2023-2024 ( / IDF Spokesperson's Unit)

Meski adanya gencatan senjata, Israel masih terus melancarkan serangan di Lebanon, khususnya di wilayah selatan. Dilansir dari Al Jazeera, lebih dari 20 orang, termasuk dua tentara Lebanon dan tiga paramedis, tewas, sementara lebih dari 70 orang lainnya terluka dalam serangan pada Kamis. Militer Israel juga mengeluarkan perintah evakuasi terhadap 15 kota dan desa di Lebanon selatan.

Aoun mengecam pelanggaran gencatan senjata yang dilakukan Israel, dengan mengatakan bahwa jumlah korban tewas dan terluka meningkat dari hari ke hari.

“Tekanan harus diberikan kepada Israel untuk memastikan mereka menghormati hukum dan konvensi internasional serta menghentikan penargetan terhadap warga sipil, paramedis, pertahanan sipil, dan organisasi bantuan kemanusiaan dan kesehatan,” tambah Presiden Lebanon tersebut.

2. Lebanon desak Israel patuhi ketentuan gencatan senjata

Presiden Siprus Nikos Christodoulides dan Presiden Lebanon Joseph Aoun (Stavros Ioannides, CC BY-SA 4.0 <https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0>, via Wikimedia Commons)

Sebelumnya, Aoun mengatakan bahwa Lebanon tengah menunggu AS untuk menetapkan tanggal perundingan dengan Israel. Namun, ia bersikeras bahwa Israel harus terlebih dahulu mematuhi gencatan senjata sebelum perundingan dilaksanakan.

Dalam hal ini, Israel dituntut untuk menghentikan serangan terhadap Lebanon, menarik pasukannya, membebaskan para tahanan dan meninggalkan apa yang disebut sebagai zona penyangga "Garis Kuning."

“Pemerintah Lebanon, Israel, dan Amerika Serikat berupaya memisahkan pembicaraan ini dari perundingan AS dengan Iran. Namun, dengan eskalasi pertempuran yang terus berlanjut, tampaknya satu-satunya hal yang dapat memperlambatnya adalah tekanan lebih lanjut dari Trump terhadap Israel untuk menghentikannya,” kata jurnalis Al Jazeera, Malcolm Web.

3. Lebih dari 2.500 orang tewas akibat serangan Israel di Lebanon

Para pejuang Hizbullah dalam sebuah upacara (commons.wikimedia.org/khamenei.ir)

Sementara itu, anggota parlemen Hizbullah, Ibrahim al-Musawi, mengungkapkan kekecewaannya terhadap pemerintah Lebanon di tengah serangan Israel yang terus berlanjut. Ia menuding pemerintah telah berpaling dan mengabaikan orang-orang yang telah berkorban.

“Yang lebih buruk dari semua ini adalah ketika siapa pun dari Departemen Luar Negeri AS berbicara dan mengumumkan suatu kesepakatan, kami tidak mendengar satu pun komentar atau klarifikasi dari mereka. Kami akan mengibarkan bendera kemenangan di semua desa di selatan yang diduduki,” ujarnya, dikutip dari The New Arab.

Pertempuran antara Israel dan Hizbullah kembali meletus pada awal Maret 2026, setelah sekutu Iran tersebut menyerang Israel sebagai respons atas perang Israel-AS terhadap Iran beberapa hari sebelumnya. Sejak itu, serangan Israel telah menewaskan 2.586 orang di Lebanon, melukai 8.020 lainnya dan memaksa lebih dari 1 juta orang mengungsi.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team