Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
AS-Iran Saling Balas Serangan Lagi di Selat Hormuz
Penampakan Selat Hormuz dari satelit (Jacques Descloitres, MODIS Land Rapid Response Team, NASA/GSFC, Public domain, via Wikimedia Commons)
  • AS dan Iran kembali saling serang di Selat Hormuz, memicu ketegangan baru meski gencatan senjata masih berlaku sejak April 2026 dan menimbulkan protes diplomatik dari Teheran.
  • Negosiasi damai tidak langsung tetap berjalan di tengah eskalasi, dengan Iran menuntut pencabutan sanksi ekonomi sementara AS meminta pembukaan Selat Hormuz serta konsesi terkait program nuklir.
  • Eskalasi konflik memperumit upaya mediasi GCC dan negara lain, berdampak pada ekonomi global serta memperluas ketegangan hingga Lebanon akibat keterlibatan Israel dan Hezbollah.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times – Kawasan Teluk kembali dilanda ketegangan setelah Amerika Serikat (AS) dan Iran terlibat aksi saling serang. Insiden tersebut menguji gencatan senjata yang telah berlaku sejak April 2026 sekaligus memperumit perundingan tidak langsung yang sedang dijalankan untuk mengakhiri konflik.

Berdasarkan laporan Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) pada Jumat (5/6/2026), Iran menembakkan tujuh rudal balistik ke Kuwait dan Bahrain. Enam rudal berhasil dicegat pasukan AS, sedangkan satu rudal lainnya meleset dari target. Sebelum itu, CENTCOM juga menghancurkan empat drone serang Iran di Selat Hormuz yang diduga mengarah ke jalur pelayaran internasional.

1. Serangan balasan memicu protes diplomatik

Kapal induk USS Nimitz (CVN-68) (United States Navy, Public domain, via Wikimedia Commons)

Sebagai respons atas serangan tersebut, militer AS menggempur situs radar pengawasan pantai Iran di Goruk dan Pulau Qeshm di sepanjang Selat Hormuz pada Sabtu (6/6/2026). Berdasarkan pernyataan Korps Pengawal Revolusi Islam Iran (IRGC), mereka kemudian membalas dengan menargetkan pangkalan militer AS di kawasan yang sama. IRGC juga melepaskan tembakan ke empat kapal tanker yang dituduh melintas di Selat Hormuz tanpa izin.

Dampak bentrokan itu ikut dirasakan negara sekitar. Angkatan Darat Kuwait menyatakan pihaknya mencegat rudal yang melintas di atas kawasan permukiman. Meski menimbulkan kerusakan material, insiden tersebut dipastikan tak menimbulkan korban jiwa. Sementara di Bahrain, sirene peringatan sempat dibunyikan sehingga warga diminta mencari tempat berlindung.

Pada jalur diplomatik, Kementerian Luar Negeri Iran menyampaikan protes keras terhadap operasi militer AS. Teheran menilai Washington melanggar kesepakatan gencatan senjata dan menuding AS tak menunjukkan niat meredakan situasi. Iran juga menyatakan AS harus bertanggung jawab atas dampak dari tindakan yang mereka sebut ilegal. Di sisi lain, IRGC mengklaim bentrokan bermula ketika militer AS berupaya mengawal kapal tanker minyak melewati perairan yang sebagian besar telah ditutup Iran selama perang.

2. Perundingan damai menghadapi tuntutan berbeda

ilustrasi perang AS-Israel melawan Iran (unsplash.com/Saifee Art)

Melansir laporan Almigdad Alruhaid dari Al Jazeera di Teheran, tindakan IRGC disebut sebagai peringatan keras kepada Washington. Menurut Alruhaid, Iran menilai insiden dipicu oleh kapal tanker yang didukung AS karena mencoba menerobos Selat Hormuz tanpa koordinasi.

“Mereka secara eksplisit memperingatkan bahwa jenis agresi semacam ini dari Amerika Serikat di kawasan tak akan dibiarkan tanpa jawaban, dan bahwa mereka akan membalas dengan kuat dan segera,” ujar Alruhaid, dikutip Al Jazeera.

Serangan rudal dan drone Iran memicu kecaman dari Kuwait dan Bahrain karena dianggap melanggar kedaulatan negara serta mengancam stabilitas kawasan. Kritik serupa juga disampaikan Mesir, Yordania, dan Qatar.

Meski situasi keamanan memanas, AS dan Iran masih menjalani negosiasi tidak langsung untuk menyusun kesepakatan damai sementara guna mengakhiri perang yang berlangsung sejak 28 Februari 2026. Iran menuntut pencabutan sanksi ekonomi, pemulihan akses terhadap aset yang dibekukan termasuk pendapatan minyak bernilai miliaran dolar AS, serta penghentian blokade pelabuhan oleh AS. Sebaliknya, Washington meminta Selat Hormuz kembali dibuka dan menginginkan konsesi terkait program nuklir Iran.

3. Konflik regional memperumit upaya mediasi

ilustrasi perang (pexels.com/Mohammed Ibrahim

Jurnalis Al Jazeera di Doha, Zein Basravi, melaporkan bahwa eskalasi berulang akan menyulitkan posisi negosiator, mediator, dan Dewan Kerja Sama Teluk (GCC) dalam memulihkan ekonomi serta mendorong penghentian perang. Basravi juga mencatat ekonomi global telah terpukul akibat blokade di Selat Hormuz dan sanksi ekonomi yang diberlakukan AS.

Mengutip CNBC, Menteri Dalam Negeri Pakistan Mohsin Naqvi tiba di Teheran untuk bertemu pejabat senior Iran, termasuk Menteri Luar Negeri Abbas Araqchi. Sumber dari Pakistan menyebut Naqvi membawa pesan khusus untuk Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Mojtaba Khamenei dalam misi diplomatik tersebut.

Di Washington, Presiden AS Donald Trump menghadapi tekanan politik dalam negeri akibat kenaikan harga bensin. Dalam wawancara program Meet the Press produksi NBC, Trump mengatakan sebagian besar fasilitas produksi drone dan rudal Iran telah dihancurkan, tetapi Iran diperkirakan masih memiliki sekitar 21-22 persen persenjataannya.

Di pihak Iran, penasihat pemimpin tertinggi Mohsen Rezaei menyatakan syarat utama perdamaian adalah pencairan kembali aset Iran senilai 24 miliar dolar AS atau sekitar Rp434 triliun. Rezaei juga memperingatkan bahwa serangan lanjutan hanya akan menyeret AS ke dalam “koridor gelap.”

Konflik yang berawal dari operasi militer AS dan Israel terhadap Iran juga meluas ke Lebanon. Serangan Israel dilaporkan menghantam kendaraan militer di wilayah selatan Lebanon dan menewaskan dua perwira serta satu prajurit Angkatan Darat Lebanon. Iran menegaskan kesepakatan dengan AS harus mencakup gencatan senjata di Lebanon antara Israel dan Hezbollah yang didukung Teheran.

Pemimpin Hezbollah Naim Qassem secara terbuka menolak rancangan pakta damai yang disusun AS untuk Israel dan pemerintah Lebanon. Qassem menilai dokumen tersebut tak memuat penarikan pasukan Israel dan menyatakan Hezbollah tak dilibatkan dalam proses perundingan. Sementara itu, pemerintah Israel menegaskan pasukannya tak akan ditarik dari Lebanon di tengah perbedaan pandangan yang masih berlangsung dengan AS.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team

Related Article