Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

AS Tekan Oman untuk Putus Hubungan dengan Iran

AS Tekan Oman untuk Putus Hubungan dengan Iran
bendera Oman (unsplash.com/ahmed nasser)
Intinya Sih
  • Amerika Serikat mendesak Oman memutus hubungan dengan Iran dan mengancam sanksi ekonomi serta serangan militer terkait dugaan pungutan transit di Selat Hormuz.
  • Pemerintah Oman membantah tuduhan AS, menegaskan tidak ada rencana penerapan biaya tol, dan menyatakan siap bekerja sama menjaga stabilitas kawasan bersama mitra internasional.
  • Ancaman Trump dinilai berpotensi merusak hubungan diplomatik jangka panjang AS-Oman serta meningkatkan ketegangan di antara negara-negara anggota Dewan Kerjasama Teluk.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?
Share Article

Jakarta, IDN Times - Amerika Serikat (AS) mendesak Kesultanan Oman untuk segera memutus hubungan diplomatik dengan Iran. Desakan ini dipicu oleh kecurigaan Washington terhadap rencana penerapan biaya transit bagi kapal-kapal yang melewati Selat Hormuz.

Pemerintahan Presiden Donald Trump bahkan mengancam akan menjatuhkan sanksi ekonomi dan serangan militer. Sikap netral Oman selama ini dinilai membuat AS semakin frustrasi dalam menghadapi konflik di Timur Tengah.

1. AS ancam Oman dengan sanksi ekonomi dan aksi militer

Presiden AS, Donald Trump
Presiden AS, Donald Trump (The White House, Public domain, via Wikimedia Commons)

Donald Trump sempat mengancam akan mengebom Oman jika negara tersebut tidak menurut pada kemauan AS. Sebelumnya, laporan intelijen AS mengungkap kemungkinan keterlibatan Oman dalam rencana Iran untuk memonopoli lalu lintas kapal di Selat Hormuz.

Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, memberikan peringatan terhadap Oman mengenai potensi penjatuhan sanksi ekonomi. AS berjanji akan menargetkan pihak yang terbukti ikut memfasilitasi sistem pungutan di Selat Hormuz.

"Tidak ada negara lain di dunia ini selain Iran dan mungkin Oman yang mendukung apa yang dilakukan Iran di selat tersebut," kata Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio di hadapan komite Senat pada Selasa (2/6/2026).

2. Oman bantah ingin terapkan biaya tol di Selat Hormuz

kapal di Selat Hormuz
kapal di Selat Hormuz (MC2 Indra Beaufort, Public domain, via Wikimedia Commons)

Pemerintah Oman membantah tuduhan AS. Duta Besar Oman untuk AS, Talal Alrahbi, menegaskan negaranya sama sekali tidak memiliki rencana untuk menerapkan sistem tol di Selat Hormuz.

Negosiasi antara Muscat dan Teheran selama ini diklaim hanya sebatas perumusan sistem manajemen perairan yang sesuai aturan. Oman juga berencana melibatkan Organisasi Maritim Internasional (IMO) untuk memastikan kepatuhan terhadap hukum laut internasional.

Oman mengklaim pihaknya justru aktif memberikan bantuan navigasi hingga medis bagi banyak kapal asing sejak perang AS-Iran pecah. Menteri Informasi Oman, Abdulla al-Harrasi, menyatakan negaranya siap bekerja sama dengan AS untuk menstabilkan Selat Hormuz.

"Oman bersedia bekerja sama dengan Amerika Serikat dan semua mitra yang bertanggung jawab untuk mendorong stabilitas, mencegah gangguan, serta menjaga kepentingan strategis bersama kita," tutur Harrasi, dilansir Türkiye Today.

3. Ancaman Trump berisiko merusak hubungan AS-Oman

Presiden AS, Donald Trump
Presiden AS, Donald Trump (The White House, Public domain, via Wikimedia Commons)

Kesultanan Oman telah lama memosisikan dirinya sebagai jembatan diplomatik dan mediator yang netral di kawasan Teluk. Mereka bahkan sering menjadi fasilitator untuk dialog rahasia antara AS dan Iran di masa lalu.

Ancaman Trump kini dinilai dapat merusak rasa kepercayaan yang telah dibangun selama puluhan tahun. Pengamat menilai insiden ini kemungkinan akan membuat Muscat mengambil jarak dari kebijakan luar negeri AS.

Tingginya tensi diplomatik turut memicu kecemasan di antara negara-negara anggota Dewan Kerjasama Teluk (GCC). Pasalnya, ancaman terang-terangan AS terhadap anggota aliansi keamanannya sendiri dianggap sebagai hal yang tidak biasa.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Sonya Michaella
EditorSonya Michaella

Related Articles

See More