Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
ilustrasi kapal perang (unsplash.com/Michael Afonso)
ilustrasi kapal perang (unsplash.com/Michael Afonso)

Intinya sih...

  • AS-Israel gelar latihan militer di Laut Merah

  • AS kerahkan armada militer ke Timur Tengah, Iran nyatakan siap berunding dengan AS soal program nuklirnya, Komisi Keamanan Nasional Iran peringatkan bahwa perundingan hanya terbatas pada isu nuklir

  • Militer Israel dan Armada ke-5 AS lakukan latihan maritim rutin di tengah meningkatnya ketegangan antara Washington dan Teheran mengenai program nuklir Iran

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Angkatan Laut Israel dan Amerika Serikat (AS) menggelar latihan militer bersama di Laut Merah pada Minggu (1/2/2026). Latihan ini dilaksanakan di tengah meningkatnya ketegangan antara Washington dan Teheran mengenai program nuklir Iran.

Dalam pernyataan pada Senin (2/2/2026), militer Israel mengatakan latihan antara kapal perusak USS Delbert D. Black dan kapal-kapal Angkatan Laut Israel tersebut merupakan bagian dari kerja sama berkelanjutan antara Angkatan Laut Israel dan Armada ke-5 AS di kawasan Laut Merah.

"Kapal perusak AS berlabuh di pelabuhan Eilat sebagai bagian dari kunjungan rutin yang telah direncanakan sebelumnya dan dalam kerangka kerja sama strategis dan erat antara kedua angkatan laut dan militer masing-masing," kata militer Israel, dikutip dari Anadolu.

Komando Pusat AS (CENTCOM) juga menyebut latihan itu sebagai latihan maritim rutin.

“Latihan gabungan itu menunjukkan kuatnya kemitraan militer antara Armada Kelima AS dan Angkatan Laut Israel,” demikian pernyataan CENTCOM.

1. AS kerahkan armada militer ke Timur Tengah

Presiden AS Donald Trump (Gage Skidmore, CC BY-SA 2.0 , via Wikimedia Commons)

Latihan tersebut berlangsung ketika AS terus meningkatkan kehadiran militernya di Timur Tengah. Presiden AS, Donald Trump, sebelumnya telah mengancam akan mengambil tindakan militer terhadap Iran menyusul gelombang protes yang menewaskan ribuan orang di negara tersebut.

Belakangan, ancaman Trump bergeser menjadi tuntutan untuk mencapai kesepakatan nuklir, seiring meningkatnya kekhawatiran AS dan Uni Eropa (UE) bahwa Iran berupaya mengembangkan senjata nuklir. Teheran sendiri bersikukuh bahwa program nuklirnya semata-mata ditujukan untuk kepentingan sipil.

Sementara itu, Israel semakin khawatir bahwa AS akan memilih jalur diplomasi dengan Iran. Para analis Israel mengatakan bahwa Tel Aviv mendorong dilakukannya tindakan militer dan menilai bahwa setiap kesepakatan kesepakatan antara AS dan Iran seharusnya tidak hanya mencakup program nuklir saja, tetapi juga kemampuan rudal negara tersebut.

2. Iran nyatakan siap berunding dengan AS soal program nuklirnya

bendera Iran (unsplash.com/sina drakhshani)

Pada Senin, Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menyatakan pemerintahnya siap melakukan perundingan dengan AS terkait kesepakatan nuklir. Ia juga menyarankan agar pembicaraan tersebut dapat dilakukan dalam waktu dekat.

“Kami siap berdiplomasi, tapi diplomasi juga punya prinsip tersendiri. Saya berharap bisa segera melihat hasilnya,” kata Araghchi saat berkunjung ke makam Ayatollah Ruhollah Khomeini, mantan pemimpin tertinggi Iran.

Situs berita AS Axios melaporkan bahwa Utusan Khusus AS untuk Timur Tengah, Steve Witkoff, dan Araghchi akan bertemu di Istanbul pada Jumat (6/2/2026) bersama perwakilan dari sejumlah negara Arab dan Muslim untuk membahas kemungkinan kesepakatan nuklir. Pertemuan tersebut akan menjadi yang pertama antara pejabat AS dan Iran sejak April 2025, tak lama sebelum Israel dan AS menyerang fasilitas nuklir dan rudal balistik Iran dalam perang 12 hari pada Juni 2025, dikutip dari The Guardian.

3. Komisi Keamanan Nasional Iran peringatkan bahwa perundingan hanya terbatas pada isu nuklir

peta program nuklir Iran (© Sémhur / Wikimedia Commons)

Sementara itu, Komisi Keamanan Nasional parlemen Iran mengatakan bahwa Teheran berada di puncak kekuatan pertahanannya dan memperingatkan bahwa setiap ancaman akan ditanggapi dengan respons yang tegas.

"Tujuan utama di balik kehadiran Amerika Serikat dan tekanan yang telah berlangsung bertahun-tahun terhadap Iran adalah untuk menguasai sumber daya minyak dan menjamin keamanan rezim Zionis (Israel) sebagai pos militer terbesar AS di kawasan," kata komisi tersebut, menurut laporan kantor berita Tasnim.

Pihaknya menambahkan bahwa jika perundingan dilakukan, pembahasannya hanya akan terbatas pada isu nuklir dan dilakukan secara langsung. Selain itu, perundingan hanya dapat diterima jika mengarah pada pencabutan sanksi, pengurangan tekanan ekonomi, dan perbaikan terhadap kondisi kehidupan masyarakat.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team