Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Pasukan Israel Semprotkan Bahan Kimia Misterius di Lebanon Selatan

serangan Israel di Lebanon pada 2024
serangan Israel di Lebanon pada 2024 (Jimmyp84, CC0, via Wikimedia Commons)
Intinya sih...
  • Israel melanggar Resolusi Dewan Keamanan UNIFIL.
  • Lebanon akan lakukan pengujian toksisitas pada zat kimia tersebut.
  • UNIFIL minta Israel hentikan penyemprotan zat kimia.
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Militer Israel dilaporkan menjatuhkan bahan kimia tak diketahui di wilayah dekat Garis Biru di Lebanon selatan, memaksa Pasukan Sementara Perserikatan Bangsa-Bangsa di Lebanon (UNIFIL) menarik diri dari sekitar sepertiga wilayah operasi mereka.

Dalam pernyataan pada Senin (2/2/2026), UNIFIL mengatakan bahwa pasukan Israel, pada Minggu (1/2/2026), memberi tahu misi tersebut mengenai rencana operasi udara yang melibatkan penyemprotan zat kimia di dekat garis yang ditandai PBB sebagai batas penarikan pasukan Israel dari Lebanon pada 2000. Pasukan penjaga perdamaian kemudian diinstruksikan untuk mundur dari area tersebut, sehingga puluhan kegiatan mereka terpaksa dibatalkan.

“Pasukan penjaga perdamaian tidak dapat melakukan operasi normal di dekat Garis Biru sepanjang sekitar sepertiga dari total panjangnya dan baru dapat melanjutkan aktivitas normal setelah lebih dari 9 jam,” demikian bunyi pernyataan tersebut, dikutip dari The New Arab.

1. Tindakan Israel dianggap melanggar Resolusi Dewan Keamanan

UNIFIL
UNIFIL (Irish Defence Forces from Ireland, CC BY 2.0 <https://creativecommons.org/licenses/by/2.0>, via Wikimedia Commons)

UNIFIL mengecam insiden tersebut, menyebutnya sebagai pelanggaran terhadap Resolusi Dewan Keamanan PBB 1701, yang mengakhiri perang 2006 antara Israel dan Hizbullah dan mengatur perilaku militer di sepanjang perbatasan.

“Tindakan yang disengaja dan terencana (pasukan Israel) tidak hanya membatasi pasukan penjaga perdamaian dalam melaksanakan tugas yang diamanatkan, tetapi juga mungkin menempatkan personel dan warga sipil dalam risiko,” kata UNIFIL.

Pihaknya menambahkan bahwa tindakan Israel tersebut juga menimbulkan kekhawatiran serius terkait risiko dampak zat kimia terhadap lahan pertanian di dekat perbatasan, dan konsekuensi jangka panjang bagi warga sipil yang berusaha untuk kembali ke rumah dan mata pencaharian mereka

2. Lebanon akan lakukan pengujian toksisitas pada zat kimia tersebut

alat laboratorium
alat laboratorium (unsplash.com/Hans Reniers)

Meski pasukan Israel menyatakan bahwa zat tersebut tidak beracun, UNIFIL bersama tentara Lebanon mengumpulkan sampel dari wilayah terdampak untuk menguji tingkat toksisitas. Hasilnya diperkirakan akan keluar pada Rabu (4/2/2026) atau Kamis (5/2/2026).

Hisham Younes, kepala Green Southerners, sebuah organisasi yang berfokus pada pelestarian lingkungan di Lebanon selatan, mengatakan bahwa penyemprotan zat kimia oleh Israel ke wilayah Lebanon merupakan bagian dari strategi bumi hangus yang bisa dikategorikan sebagai ekosida.

“Zat ini tidak akan bersifat netral. Setiap bahan kimia yang disebarkan ke lingkungan dengan skala dan kepadatan seperti ini tidak akan menghasilkan dampak positif,” ujar Younes, dikutip dari The National.

3. UNIFIL minta Israel hentikan penyemprotan zat kimia

ilustrasi kota di Lebanon (unsplash.com/Patricia Jekki)
ilustrasi kota di Lebanon (unsplash.com/Patricia Jekki)

UNIFIL mencatat bahwa ini bukan pertama kalinya Israel menjatuhkan zat kimia yang tidak diketahui ke wilayah Lebanon. Mereka mendesak Israel untuk menghentikan tindakan tersebut dan mematuhi kewajibannya agar pasukan penjaga perdamaian dapat beroperasi dengan aman dan efektif di Lebanon selatan.

Meski gencatan senjata Israel-Hizbullah telah disepakati pada akhir 2024, Israel terus melanjutkan serangnnya di Lebanon selatan. Hal ini menimbulkan kekhawatiran di kalangan pejabat PBB dan kelompok hak asasi manusia terkait degradasi lingkungan dan kerusakan ekologis jangka panjang yang dialami komunitas perbatasan.

Serangan-serangan tersebut merupakan bagian dari kampanye Israel yang lebih luas, yang berulang kali menargetkan upaya rekonstruksi di Lebanon selatan, merusak pekerjaan pembangunan, dan secara efektif mencegah warga yang mengungsi untuk kembali ke rumah mereka.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Anata Siregar
EditorAnata Siregar
Follow Us

Latest in News

See More

Lebih dari 26 Ribu Pejabat China Dituntut dalam Pemberantasan Korupsi

04 Feb 2026, 19:06 WIBNews