Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
AS-Israel Masih Gempur Iran, 3,2 Juta Warga Mengungsi
pengungsi di Iran (Avash Media, CC BY 4.0 <https://creativecommons.org/licenses/by/4.0>, via Wikimedia Commons)
  • PBB melaporkan 3,2 juta warga Iran mengungsi akibat serangan AS dan Israel sejak akhir Februari, dengan mayoritas meninggalkan Teheran menuju wilayah utara yang lebih aman.
  • Lebih dari 1.300 orang tewas dan puluhan fasilitas medis rusak akibat pengeboman, termasuk tragedi di sekolah dasar Minab yang menewaskan ratusan anak-anak.
  • Konflik memicu lonjakan harga minyak dunia hingga 100 dolar AS per barel dan gangguan pasokan global, mendorong AS melepas cadangan minyak strategis secara besar-besaran.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Referensi:

https://www.newarab.com/news/middle-east-war-displaces-over-three-million-inside-iran-un

https://www.unhcr.org/news/press-releases/unhcr-3-2-million-iranians-temporarily-displaced-iran-conflict-intensifies

https://www.aljazeera.com/news/2026/3/12/up-to-3-2-million-people-displaced-across-iran-amid-us-israeli-attacks-un

https://www.dropsitenews.com/p/iran-war-millions-displaced-us-israel-trump-hegseth-school-bombing-sudan-drone-strikes-lebanon-invasion

https://thehill.com/policy/international/5780693-united-nations-iran-war/

Jakarta, IDN Times - Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), pada Kamis (12/3/2026) melaporkan lonjakan krisis kemanusiaan di Iran akibat perang. Sebanyak 3,2 juta warga terpaksa mengungsi di dalam negeri Iran sejak Amerika Serikat (AS) dan Israel meluncurkan serangan pada 28 Februari lalu.

Gelombang eksodus didominasi oleh warga yang menyelamatkan diri dari ibu kota Teheran dan kawasan perkotaan padat lainnya. Mereka bergerak secara massal menuju wilayah utara dan pedesaan yang dinilai lebih aman dari target pengeboman. Kondisi ini diprediksi akan terus memburuk jika permusuhan tidak segera dihentikan.

1. Satu juta rumah tangga harus mengungsi akibat perang

unjuk rasa pendukung Ayatollah Ali Khamenei di Gorgan, Iran pada 2018 (Tasnim News Agency, CC BY 4.0 <https://creativecommons.org/licenses/by/4.0>, via Wikimedia Commons)

Data Badan Pengungsi PBB (UNHCR) mencatat sekitar 600 ribu hingga satu juta rumah tangga saat ini harus mengungsi. Eksodus sebenarnya sudah terlihat sejak awal mula konflik bergulir. Sekitar 100 ribu orang langsung meninggalkan wilayah Teheran hanya dalam dua hari pertama serangan udara.

“Keluarga-keluarga meninggalkan daerah terdampak di tengah meningkatnya ketidakamanan dan terbatasnya akses ke layanan penting,” kata Koordinator Tanggap Darurat UNHCR untuk Timur Tengah, Ayaki Ito, dilansir The New Arab.

Dampak perang tidak hanya dirasakan oleh warga lokal, tetapi juga keluarga pengungsi asing yang selama ini ditampung di Iran. Negara tersebut diketahui menjadi rumah bagi sekitar 1,65 juta pengungsi asal Afghanistan. Mereka menjadi kelompok yang sangat rentan di tengah krisis karena memiliki jaringan dukungan yang terbatas.

"UNHCR menekankan kebutuhan mendesak untuk melindungi warga sipil, menjaga akses kemanusiaan, dan memastikan perbatasan tetap terbuka bagi mereka yang mencari keselamatan," tambah Ito, dilansir The Hill.

2. Ribuan tewas dan puluhan fasilitas medis rusak

ilustrasi protes di Iran (unsplash.com/Nk Ni)

Rentetan pengeboman AS dan Israel terus menambah angka korban jiwa di Iran. Hingga saat ini, lebih dari 1.300 orang tewas akibat serangan di seluruh negeri. Angka tersebut diyakini masih bisa bertambah mengingat masih banyaknya proses pencarian korban yang berlangsung.

Salah satu serangan udara di kompleks perumahan dekat Lapangan Resalat, Teheran timur, menewaskan sedikitnya 40 warga sipil. Selain itu, sebuah sekolah dasar perempuan di Minab juga hancur terkena rudal yang merenggut 175 nyawa, termasuk 168 anak-anak. Sekolah tersebut diduga masuk dalam daftar target AS akibat penggunaan data intelijen militer yang sudah usang.

"Sebagian besar dari orang-orang ini adalah warga sipil," ungkap Wakil Menteri Kesehatan Iran, Ali Jafarian, dilansir Al Jazeera.

Jafarian menyebut tim medis di lapangan berupaya semaksimal mungkin untuk menangani peningkatan jumlah korban akibat pengeboman di area perkotaan. Tercatat lebih dari 30 rumah sakit dan fasilitas kesehatan rusak sehingga menghambat kelancaran proses perawatan medis.

3. Perang juga berdampak pada stabilitas ekonomi

kapal di Selat Hormuz (MC2 Indra Beaufort, Public domain, via Wikimedia Commons)

Eskalasi militer tidak hanya memicu krisis kemanusiaan, tetapi juga memukul stabilitas perekonomian. Harga minyak mentah dunia sempat melonjak tajam hingga menembus 100 dolar AS (Rp1,6 juta) per barel menyusul penutupan rute strategis Selat Hormuz.

International Energy Agency (IEA) menyebut konflik ini telah menciptakan gangguan pasokan minyak terbesar dalam sejarah pasar global. Kapasitas produksi minyak mentah harian dilaporkan anjlok setidaknya hingga delapan juta barel per hari.

Menanggapi risiko krisis energi, pemerintah AS berencana melepas 172 juta barel minyak dari Cadangan Minyak Strategis nasional. Kebijakan tersebut merupakan bagian dari upaya pelepasan darurat total 400 juta barel yang dikoordinasikan secara global oleh IEA.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team