AS Klaim Iran Sebar Ranjau Laut di Selat Hormuz, Benarkah?

- Pejabat AS menuduh Iran menebar ranjau laut di Selat Hormuz menggunakan kapal kecil setelah kapal besar mereka dihancurkan, yang dinilai mengancam jalur pelayaran global.
- Selat Hormuz menjadi sorotan karena sekitar 20 persen pasokan energi dunia melewati jalur ini, dan penutupan sementara oleh Iran telah memicu lonjakan harga minyak global.
- Iran membantah tuduhan AS terkait ranjau laut, namun tetap menegaskan penutupan Selat Hormuz sebagai alat tekanan terhadap musuh, sementara AS memperingatkan konsekuensi serius bagi Iran.
Jakarta, IDN Times - Pejabat Amerika Serikat menyatakan Iran mulai menempatkan ranjau laut di Selat Hormuz, langkah yang dinilai berpotensi mengganggu jalur pelayaran global. Informasi tersebut dilaporkan berdasarkan data intelijen yang diperoleh pejabat AS.
Menurut seorang pejabat AS yang mendapat pengarahan intelijen, langkah tersebut dilakukan setelah militer Amerika menghancurkan kapal-kapal besar Iran yang sebelumnya digunakan untuk menebar ranjau di perairan tersebut.
Akibatnya, Iran kini disebut menggunakan kapal-kapal kecil untuk menjalankan operasi tersebut.
“Setelah pasukan AS menghancurkan kapal-kapal besar Iran yang mampu menebar ranjau dengan cepat, Iran mulai menggunakan kapal kecil untuk operasi tersebut,” kata seorang pejabat AS yang dikutip The New York Times, Jumat (13/3/2026).
Selat Hormuz merupakan jalur pelayaran strategis yang menghubungkan Teluk Persia dengan perairan internasional dan menjadi salah satu rute utama perdagangan energi dunia.
1. Iran gunakan kapal kecil untuk operasi

Pejabat AS mengatakan operasi penebaran ranjau tersebut kini dilakukan menggunakan kapal-kapal kecil yang dimiliki Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC). IRGC diketahui memiliki ratusan kapal kecil yang selama ini sering digunakan untuk mendekati dan mengganggu kapal-kapal besar, termasuk milik Angkatan Laut Amerika Serikat.
Meski demikian, pejabat AS menilai metode tersebut berjalan lebih lambat dibandingkan penggunaan kapal besar.
Namun Iran disebut berupaya menempatkan ranjau lebih cepat daripada kemampuan pihak lain untuk membersihkannya.
Strategi tersebut diduga bertujuan untuk semakin menghalangi aktivitas pelayaran di Selat Hormuz.
2. Jalur energi global terancam

Selat Hormuz merupakan salah satu jalur energi paling penting di dunia. Sekitar 20 persen pasokan minyak mentah dan gas alam global biasanya melewati jalur tersebut.
Iran sebelumnya mengumumkan penutupan Selat Hormuz setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan militer terhadap negara tersebut pada 28 Februari.
Penutupan tersebut telah mengganggu aktivitas pelayaran internasional dan memicu kenaikan harga minyak dunia. Sejak saat itu, beberapa kapal dilaporkan terkena serangan di kawasan tersebut, sebagian di antaranya diklaim sebagai operasi Iran.
3. Iran bantah klaim AS

Meski demikian, Iran membantah tuduhan mereka menebar ranjau di Selat Hormuz. Wakil Menteri Luar Negeri Iran Majid Takht-Ravanchi menolak klaim tersebut.
Sementara itu, pemimpin tertinggi baru Iran Mojtaba Khamenei dalam pernyataan perdananya sejak konflik dimulai menegaskan, penutupan Selat Hormuz akan terus digunakan sebagai alat tekanan terhadap musuh Iran.
“Penutupan dilakukan untuk memblokir Selat Hormuz harus terus digunakan,” kata Mojtaba.
Di sisi lain, militer Amerika Serikat dilaporkan telah menargetkan sedikitnya 16 kapal Iran yang diduga digunakan untuk operasi penebaran ranjau. Presiden AS Donald Trump juga memperingatkan Iran akan menghadapi konsekuensi berat jika benar-benar menghalangi aliran minyak global melalui jalur tersebut.
Aktivitas ranjau laut di kawasan itu menjadi perhatian besar bagi militer dan badan intelijen AS, mengingat sekitar seperlima konsumsi minyak dunia serta perdagangan LNG global melewati Selat Hormuz.


















