Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
AS Kirim 30 Pesawat Kargo Berisi Senjata ke Timur Tengah
pesawat kargo Boeing C-17 Globemaster III (Balon Greyjoy, CC0, via Wikimedia Commons)
  • Amerika Serikat mengirim 30 pesawat kargo berisi 6.500 ton perlengkapan militer ke Timur Tengah, terutama Israel, di tengah meningkatnya ketegangan dengan Iran.
  • Pemerintahan Donald Trump menyetujui penjualan senjata senilai Rp149 triliun ke beberapa negara Timur Tengah dengan status darurat, termasuk sistem pertahanan rudal dan rudal hipersonik Dark Eagle.
  • Trump menolak proposal perdamaian terbaru dari Iran meski gencatan senjata masih berlaku, sementara Iran menegaskan kesiapan berdiplomasi jika AS menghentikan retorika ancamannya.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Amerika Serikat (AS) dilaporkan telah mengirim 30 pesawat berisi perlengkapan militer ke kawasan Timur Tengah. Pengiriman tersebut dilakukan di tengah kekhawatiran pecahnya kembali perang melawan Iran.

Israel menjadi salah satu penerima utama dengan kiriman mencapai 6.500 ton peralatan militer pada Kamis (30/4/2026). Arus pasokan tersebut memicu spekulasi mengenai persiapan eskalasi militer di Timur Tengah.

1. Senjata diangkut dengan 30 pesawat kargo dari Jerman

bendera Jerman. (unsplash.com/Mark König)

Paket persenjataan untuk Israel mencakup ribuan amunisi darat maupun udara. Kapal kargo dan armada udara AS juga membawa kendaraan taktis lapis baja ringan serta truk militer.

Seluruh perlengkapan itu langsung didistribusikan ke berbagai pangkalan militer di penjuru Israel. Total penerimaan senjata Israel dari AS telah melampaui 115 ribu ton sejak awal perang pada 28 Februari.

"Pengadaan senjata dan perlengkapan militer kita akan terus berlanjut dan meningkat dalam beberapa minggu ke depan," ujar Direktur Jenderal Kementerian Pertahanan Israel Amir Baram, dilansir The New Arab.

Data navigasi penerbangan menunjukkan keberangkatan 30 pesawat kargo militer AS dari Jerman menuju Timur Tengah. Tujuh penerbangan hanya tercatat menuju Timur Tengah, tujuh ke Israel dan empat ke Yordania. Total 29 penerbangan dilakukan dengan pesawat jenis Boeing C-17 Globemaster III dan satu menggunakan Lockheed Martin C-130J-30 Hercules.

2. AS loloskan penjualan senjata Rp149 triliun ke Timur Tengah

Gedung Capitol (unsplash.com/Harold Mendoza)

Pemerintahan Presiden Donald Trump menyetujui penjualan militer senilai lebih dari 8,6 miliar dolar AS (sekitar Rp149 triliun) ke sekutunya di Timur Tengah. Persetujuan itu didapat dengan melompati proses peninjauan Kongres AS.

Menteri Luar Negeri Marco Rubio menetapkan status darurat agar penjualan ke Israel, Qatar, Kuwait, dan Uni Emirat Arab (UEA) bisa segera dieksekusi. Paket penjualan mencakup sistem pertahanan rudal Patriot, sistem komando tempur terpadu, dan Advanced Precision Kill Weapon Systems (APKWS).

Komando Pusat AS (CENTCOM) juga dilaporkan sedang merencanakan pengerahan rudal hipersonik Dark Eagle ke Timur Tengah. Permohonan pengerahan muncul karena peluncur rudal balistik Iran diyakini berada di luar jangkauan senjata presisi AS saat ini.

Dark Eagle dapat melesat dengan kecepatan hipersonik sekaligus bermanuver di udara. Rudal ini mampu menghantam target yang jaraknya melebihi 2.735 kilometer nyaris tanpa peringatan.

3. Trump tolak proposal perdamaian terbaru dari Iran

Presiden AS, Donald Trump (The White House, Public domain, via Wikimedia Commons)

Rencana perdamaian antara AS dan Iran masih suram kendati gencatan senjata telah berlangsung sejak 8 April. Trump baru saja menolak proposal perdamaian terbaru dari Iran yang dikirimkan melalui perantara Pakistan.

"Mereka ingin membuat kesepakatan, tetapi saya tidak puas dengan isinya. Mereka meminta hal-hal yang tidak bisa saya setujui," kata Trump, dilansir Al Jazeera.

Trump menyatakan bahwa dirinya lebih menyukai kesepakatan damai yang dapat mencegah perang meletus kembali. Namun, ia mengancam akan kembali menggempur Iran apabila proses negosiasi berakhir buntu.

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi membalas bahwa negaranya selalu terbuka untuk menempuh jalur diplomasi. Menurut Araghchi, diplomasi baru bisa terwujud jika Washington mengubah retorika ancaman dan pendekatan ekspansionis mereka.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team