Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
AS Longgarkan Embargo Minyak Kuba, tapi Ada Syaratnya!
potret bendera Amerika Serikat (pexels.com/Andrew Patrick Photo)
  • Pemerintah AS melonggarkan embargo minyak terhadap Kuba untuk meredakan krisis energi yang berdampak pada stabilitas kawasan, dengan mengizinkan Venezuela mengekspor minyak ke sektor swasta Kuba.
  • Meski memberi kelonggaran, AS tetap menuntut Kuba melakukan reformasi total di bidang pemerintahan dan ekonomi agar negara tersebut lebih terbuka terhadap kebebasan politik serta ekonomi.
  • Embargo ekonomi AS terhadap Kuba telah berlangsung sejak 1960-an dan semakin diperketat sejak masa pemerintahan Donald Trump, terutama terkait pembatasan impor minyak.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Pemerintah Amerika Serikat memutuskan untuk melonggarkan embargo minyak untuk Kuba. Keputusan ini disampaikan oleh Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, saat menghadiri Caribbean Community Summit di Saint Kitts and Nevis, pada Kamis (26/2/2026). 

Menurut Rubio, langkah ini diambil karena dampak krisis energi yang terjadi di Kuba imbas embargo minyak dari AS sudah memprihatinkan. Terlebih, krisis energi yang terjadi di Havana tidak hanya akan berpengaruh terhadap Kuba saja, tetapi juga berpengaruh terhadap stabilitas di Kawasan Amerika Utara.

Sebagai tindak lanjut dari kelonggaran ini, Kementerian Keuangan AS pada hari yang sama mengumumkan bahwa Venezuela diizinkan untuk kembali mengekspor minyak ke Kuba setelah sebelumnya berhenti mengekspor sejak Desember 2025. Namun, Venezuela hanya diizinkan menjual minyak untuk sektor swasta yang ada di Kuba saja. Tidak boleh untuk sektor pemerintah.

1. AS meminta Kuba melakukan reformasi total di dalam pemerintahannya

potret Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Marco Rubio (commons.wikimedia.org/Gage Skidmore)

Meski sudah memberi kelonggaran embargo, Negeri Paman Sam tetap meminta Kuba untuk melakukan reformasi total di dalam pemerintahannya. Sebab, Kuba saat ini juga perlu melakukan perbaikan internal agar negara bisa berjalan dengan baik sehingga rakyat bisa sejahtera.

“Namun, Kuba perlu berubah. Kuba perlu berubah secara drastis karena ini satu-satunya kesempatan yang dimilikinya untuk meningkatkan kualitas hidup rakyatnya,” kata Rubio, seperti dilansir The Strait Times.

“Ini adalah sistem yang sedang runtuh. Mereka (Kuba) perlu melakukan reformasi total. Jika mereka ingin melakukan reformasi total yang membuka ruang bagi kebebasan ekonomi dan kebebasan politik bagi rakyatnya, jelas Amerika Serikat akan senang melihat hal itu,” lanjutnya.

2. AS ingin Kuba membenahi perekonomiannya

ilustrasi perekonomian (unsplash.com/Jakub Zerdzicki)

Selain mereformasi pemerintahan, Rubio juga mendesak Kuba untuk melakukan reformasi total terhadap perekonomiannya. Sebab, ia menilai tata kelola ekonomi di Kuba sudah salah kaprah sejak dahulu, terutama sejak era Fidel Castro. 

Sejak zaman Castro hingga saat ini, Kuba tidak pernah mendukung perkembangan ekonomi di sektor swasta. Padahal, sektor swasta punya peran penting dalam pertumbuhan ekonomi suatu negara. Oleh karena itu, perekonomian di Kuba jadi sulit berkembang sehingga kesejahteraan rakyat terus menurun.

“Ini adalah iklim ekonomi terburuk yang pernah dihadapi Kuba. Pihak berwenang di sana dan pemerintah mereka yang bertanggung jawab atas hal itu,” tambah Rubio dalam pernyataannya.

3. Embargo AS terhadap Kuba sudah terjadi sejak 1960-an

ilustrasi embargo (unsplash.com/Sandy Millar)

Sebagai informasi, embargo ekonomi yang diberikan AS ke Kuba sebetulnya sudah berjalan sejak 1960-an. Namun, sejak Donald Trump menjabat lagi sebagai presiden pada Januari 2025, Negeri Paman Sam makin gencar mengembargo Kuba, terutama untuk produk minyak.

Pada Januari 2026 lalu, AS bahkan melarang negara-negara penghasil minyak dunia untuk menjual minyaknya ke Kuba. Jika melanggar, Trump mengancam akan memberi tarif dagang tinggi kepada negara-negara tersebut.

Trump sendiri berupaya menyetop suplai minyak ke Kuba karena menuduh mereka berafiliasi dengan kelompok-kelompok yang bermusuhan dengan AS. Beberapa di antaranya, seperti Hamas, Hizbullah, dan Rusia. Oleh karena itu, Trump berupaya menyetop pasokan minyak ke Kuba agar perekonomiannya hancur sehingga mereka tidak bisa berhubungan lagi dengan pihak-pihak tadi.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team