konvoi militer AS di Suriah pada Desember 2018. (Sgt. Arjenis Nunez, Public domain, via Wikimedia Commons)
Nama Operasi Hawkeye Strike diambil dari julukan negara bagian Iowa, "Hawkeye State", tempat asal dua tentara AS yang gugur. Kampanye militer ini dimulai sebagai respons terhadap serangan mematikan penembak ISIS di Palmyra pada 13 Desember 2025.
Insiden tersebut menewaskan Sersan Edgar Brian Torres Tovar dan Sersan William Nathaniel Howard yang merupakan anggota Garda Nasional Iowa. Seorang penerjemah sipil AS bernama Ayad Mansoor Sakat juga turut menjadi korban tewas dalam serangan mendadak tersebut.
AS sebelumnya telah melancarkan gelombang pertama serangan balasan pada 19 Desember 2025, hanya enam hari setelah penyergapan. Kala itu, pasukan koalisi menghantam 70 target termasuk infrastruktur logistik serta gudang senjata milik kelompok militan tersebut.
"Ini bukanlah awal dari sebuah perang, ini adalah deklarasi pembalasan dendam. AS di bawah kepemimpinan Presiden Trump tidak akan pernah ragu dan tidak akan pernah menyerah untuk membela rakyat kami," ujar Menteri Pertahanan Pete Hegseth, dilansir BBC.