Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
ilustrasi peta Greenland
ilustrasi peta Greenland (pexels.com/Lara Jameson)

Intinya sih...

  • Gedung Putih mengkaji opsi penguasaan Greenland

  • Pemerintah Greenland dan Denmark menolak tawaran tersebut

  • Trump memandang penguasaan Greenland sebagai prioritas keamanan nasional AS

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times – Sekretaris Negara Amerika Serikat (AS) Marco Rubio pada Rabu (7/1/2026) menyampaikan rencana pertemuan dengan pejabat Denmark untuk membicarakan isu Greenland. Pernyataan itu muncul di Capitol Hill saat wacana pemerintahan Presiden AS Donald Trump terkait pengambilalihan Greenland kian menguat. Menjawab pertanyaan soal belum adanya respons atas permintaan dialog dari Denmark, Rubio menegaskan pertemuan akan digelar pada pekan berikutnya.

Ketika didesak mengenai kesediaan mencabut opsi pengerahan angkatan bersenjata AS untuk menguasai Greenland, Rubio memilih tak memberi penjelasan lanjutan.

“Saya tak di sini untuk membicarakan Denmark atau intervensi militer,” kata Rubio.

1. Gedung Putih mengkaji opsi penguasaan Greenland

Gedung Putih (pexels.com/Chris)

Gedung Putih mengonfirmasi bahwa Trump bersama para pejabatnya tengah membahas secara intensif kemungkinan mengajukan tawaran pembelian Greenland, wilayah otonom milik Denmark. Juru bicara Gedung Putih Karoline Leavitt menyampaikan kepada wartawan bahwa diskusi tersebut berlangsung aktif antara presiden dan tim keamanan nasional. Sementara itu, pemerintah Greenland serta Denmark telah berulang kali menegaskan pulau tersebut tak untuk dijual.

Dalam pembahasan internal, Trump dan para penasihatnya menimbang beragam cara untuk menguasai Greenland, termasuk opsi militer. Leavitt mengatakan bahwa Trump berulang kali menilai penguasaan Greenland sebagai prioritas keamanan nasional AS serta krusial untuk menangkal ancaman musuh di kawasan Arktik.

“Presiden dan timnya sedang membahas berbagai opsi untuk mengejar tujuan kebijakan luar negeri penting ini, dan tentu saja, memanfaatkan Militer AS selalu merupakan opsi yang tersedia bagi Panglima Tertinggi,” ujarnya kepada CNBC.

Saat ditanya alasan pemerintahan tetap membuka peluang penggunaan kekuatan militer, Leavitt menyatakan seluruh opsi masih tersedia meski pendekatan utama Trump tetap menekankan jalur diplomasi.

2. Pemerintahan Trump menilai nilai strategis Greenland

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump (Shealeah Craighead, Public domain, via Wikimedia Commons)

Pemerintahan Trump memandang Greenland memiliki arti penting bagi keamanan AS karena posisinya yang strategis di antara Amerika Utara dan kawasan Arktik. Letak tersebut dinilai ideal untuk penempatan sistem peringatan dini serangan rudal sekaligus pemantauan lalu lintas kapal. AS juga telah lama mengoperasikan Pangkalan Luar Angkasa Pituffik, yang sebelumnya dikenal sebagai Thule Air Base, sejak Perang Dunia II.

Di sisi lain, ketertarikan terhadap sumber daya alam Greenland meningkat seiring mencairnya es akibat perubahan iklim, terutama pada mineral tanah jarang, uranium, serta besi. Para ilmuwan turut menduga pulau itu menyimpan cadangan minyak dan gas dalam jumlah besar. Leavitt mengingatkan bahwa gagasan AS untuk menguasai Greenland bukan hal baru karena Trump pernah mengajukan tawaran pembelian pada 2019, namun proposal tersebut ditolak karena Greenland tak dijual.

3. Denmark memperkuat pertahanan Greenland

Bendera Denmark (pexels.com/Markus Winkler)

Menteri Pertahanan Denmark yang juga Wakil Perdana Menteri Troels Lund Poulsen menyatakan negaranya akan mengalokasikan dana 88 miliar kroner Denmark, (setara Rp230,5 triliun), untuk memperkuat pertahanan Greenland di tengah situasi keamanan yang memanas.

“Saya berharap AS juga mengakui fakta itu dan siap bekerja sama dalam kepentingan bersama kita di keamanan Arktik,” ungkap Poulsen.

Ia menegaskan Denmark ingin tetap menjadi sekutu AS, namun hal tersebut membutuhkan komitmen bersama dalam menunjukkan rasa saling menghormati serta kerja sama.

Sejumlah pemimpin Eropa dari Prancis, Inggris, Jerman, Italia, Polandia, Spanyol, serta Denmark merespons dengan mengeluarkan pernyataan bersama guna menyatakan dukungan penuh kepada Denmark.

“Greenland milik rakyatnya, dan hanya Denmark serta Greenland yang dapat memutuskan mengenai hal-hal yang menyangkut hubungan mereka,” demikian isi pernyataan tersebut.

Mereka juga menyerukan agar prinsip-prinsip Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) tetap dijunjung, termasuk soal kedaulatan, integritas wilayah, serta keutuhan batas negara. Aaja Chemnitz, salah satu dari dua wakil Greenland di parlemen Denmark, menilai sikap pemerintahan Trump sebagai ancaman nyata.

“Sungguh tak menghormati dari pihak AS untuk tak menutup kemungkinan menganeksasi negara kami dan mencaplok sekutu Nato lainnya,” katanya kepada BBC.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team