Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
AS Serang Lagi Markas Militer Iran di Bandar Abbas
ilustrasi serangan udara menggunakan jet tempur (pexels.com/I Bautista)
  • Amerika Serikat kembali melancarkan serangan udara ke markas militer Iran di Bandar Abbas pada 27 Mei 2026, setelah mendeteksi rencana peluncuran drone Iran untuk menyerang AS.
  • Dua kapal milik Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) juga diserang di Selat Hormuz karena diduga menebar ranjau, dengan alasan perlindungan pasukan AS selama gencatan senjata.
  • Serangan terjadi di tengah negosiasi damai tidak langsung antara AS dan Iran yang dimediasi Pakistan, dengan draf kesepakatan mencakup pencabutan sanksi dan perpanjangan gencatan senjata.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Amerika Serikat kembali melakukan serangan udara ke markas militer Iran di Bandar Abbas pada Rabu (27/5/2026) malam waktu setempat. Serangan tersebut dilakukan karena Iran dikabarkan akan meluncurkan drone dari markas militer tersebut untuk menyerang AS.   

"Tindakan-tindakan ini terukur, murni bersifat defensif, dan bertujuan untuk mempertahankan gencatan senjata," kata seorang pejabat militer AS yang ingin namanya dianonimkan untuk alasan keamanan, seperti dilansir Jerusalem Post pada Kamis (28/5/2026). 

1. AS sebelumnya sudah menyerang pangkalan militer Iran di Bandar Abbas

ilustrasi pangkalan militer (pexels.com/Sergey Platonov)

Sebelumnya, AS juga sudah melakukan serangan udara ke pangkalan militer Iran di Bandar Abbas pada Senin (25/5/2026). Kala itu, Negeri Paman Sam menyebut serangan itu sebagai “mekanisme pertahanan diri” dari ancaman Iran. Sebab, mereka menduga Iran juga sedang bersiap meluncurkan serangan.

Pada waktu yang sama, AS juga menyerang dua kapal Iran yang berupaya menebar ranjau di Selat Hormuz. Dalam pernyataannya, Juru Bicara Pusat Komando AS (CENTCOM), Tim Hawkins, menyebut serangan itu bertujuan untuk melindungi pasukan AS dari ranjau-ranjau yang ditebar Iran di Selat Hormuz. 

2. Kapal yang diserang AS merupakan milik IRGC

potret kapal milik IRGC (commons.wikimedia.org/NAVCENT Public Affairs)

Dalam pernyataannya, Hawkins menambahkan, dua kapal yang diserang AS di Selat Hormuz merupakan kapal milik Korps Garda Revolusi Iran (IRGC). Kapal-kapal tersebut terciduk akan menebar sejumlah ranjau di sekitar salah satu jalur perdagangan paling sibuk di dunia tersebut.  

“Pasukan AS melakukan serangan bela diri di Iran selatan hari ini untuk melindungi pasukan kami dari ancaman yang ditimbulkan oleh pasukan Iran. Komando Pusat AS terus membela pasukan kita sambil menahan diri selama gencatan senjata yang sedang berlangsung,” jelas Hawkins. 

3. Serangan dilakukan di tengah negosiasi yang sedang berlangsung

ilustrasi serangan udara (pexels.com/Tolga Ahmetler)

Semua serangan tadi dilakukan AS di saat negosiasi perdamaian dengan Iran kini sedang berjalan. AS dan Iran sendiri sudah menggelar negosiasi lanjutan sejak Kamis (21/5/2026) pekan lalu. Namun, negosiasi kali ini dilakukan secara tidak langsung. Sebab, AS dan Iran hanya berkirim pesan saja lewat Pakistan yang berperan sebagai mediator. 

Dalam negosiasi tersebut, AS dan Iran berhasil membuat draf kesepakatan antara kedua pihak. Dalam draf tersebut, AS bersedia menyudahi sanksi ekonomi terhadap Iran, bersedia meminta Israel berhenti menyerang Lebanon, dan bersedia menghentikan blokade terhadap pelabuhan Iran. Sementara itu, Iran bersedia membuka Selat Hormuz secara penuh. AS dan Iran juga menyepakati perpanjangan gencatan senjata selama 60 hari. 

Draf kesepakatan tadi hingga kini belum difinalisasi oleh AS dan Iran. Sebab, kedua negara masih ingin berdiskusi agar kesepakatan bisa menguntungkan kedua pihak dan bisa menghasilkan perdamaian. Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, menyebut proses diskusi dengan Iran membutuhkan waktu berhari-hari. Jadi, kesepakatan antara AS dan Iran belum bisa disetujui dalam waktu dekat. 

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team

Related Article