ilustrasi bendera Amerika Serikat (pexels.com/Andrea Piacquadio)
Pernyataan resmi pemerintah AS disampaikan Christopher Yeaw, Asisten Menteri Luar Negeri bidang Pengendalian Senjata dan Non-proliferasi, dalam Konferensi Disarmament di Jenewa, Senin (23/2/2026). Dalam forum itu, ia menyoroti kelemahan mendasar dari Perjanjian New START.
“Mungkin cacat terbesarnya adalah bahwa New START tidak memperhitungkan pembangunan senjata nuklir yang belum pernah terjadi sebelumnya, disengaja, cepat, dan tidak transparan oleh China,” katanya, dikutip dari CNA.
Ia juga menyebut bahwa meski China menyatakan sebaliknya, negara itu secara sengaja dan tanpa hambatan memperluas arsenal nuklirnya dalam skala besar tanpa transparansi ataupun penjelasan soal tujuan akhirnya.
Menurut penilaian AS, China diperkirakan memiliki cukup bahan fisi untuk memproduksi lebih dari 1.000 hulu ledak nuklir pada 2030. Washington juga memperkirakan jumlah tersebut bisa tercapai dalam empat sampai lima tahun ke depan, sementara China dinilai tengah mendekati batas 1.550 hulu ledak aktif, angka yang sebelumnya menjadi ambang maksimal bagi AS dan Rusia di bawah New START.