Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
kapal USS Iwo Jima milik Amerika Serikat. (U.S. Navy photo by Mass Communication Specialist 2nd Class Jason R. Zalasky, Public domain, via Wikimedia Commons)
kapal USS Iwo Jima milik Amerika Serikat. (U.S. Navy photo by Mass Communication Specialist 2nd Class Jason R. Zalasky, Public domain, via Wikimedia Commons)

Intinya sih...

  • Kapal AS bawa 4 ribu personel Armada.

  • Venezuela tingkatkan pertahanan di perbatasan.

  • AS dituduh berencana menggulingkan Maduro.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Hubungan antara Amerika Serikat (AS) dan Venezuela memanas setelah Washington mengerahkan kapal perangnya ke perairan Karibia Selatan, dekat dengan wilayah Venezuela. Pengerahan besar yang terdiri dari tujuh kapal perang dan satu kapal selam nuklir ini disebut sebagai bagian dari operasi kontra-narkotika yang menargetkan kartel di Amerika Latin.

Presiden Venezuela, Nicolas Maduro, mengecam langkah tersebut dan menyatakan negaranya siap untuk mempertahankan kedaulatannya. Pengerahan kekuatan militer AS kali ini dinilai lebih besar dibandingkan dengan operasi-operasi yang biasa dilakukan di kawasan tersebut.

1. Kapal AS bawa 4 ribu personel

Armada yang dikirim AS membawa kekuatan personel yang cukup besar. Total terdapat sekitar 4.500 prajurit militer yang berada di atas kapal, termasuk di antaranya 2.200 anggota Korps Marinir. Beberapa kapal perang yang telah diidentifikasi sebagai bagian dari armada ini adalah USS San Antonio, USS Iwo Jima, dan USS Fort Lauderdale. Kehadiran kapal perusak berpeluru kendali kelas Aegis juga telah dikonfirmasi oleh sejumlah laporan.

Selain pengerahan armada laut, AS juga meningkatkan operasi intelijen di wilayah tersebut. Militer AS menerbangkan pesawat mata-mata P-8 di perairan internasional untuk mengumpulkan informasi.

Gedung Putih menyatakan Presiden AS, Donald Trump, tidak akan ragu mengambil tindakan tegas untuk menghentikan peredaran narkoba.

"Presiden siap menggunakan setiap elemen kekuatan Amerika untuk menghentikan narkoba membanjiri negara kami dan menyeret mereka yang bertanggung jawab ke pengadilan," kata Juru Bicara Gedung Putih, Karoline Leavitt, dilansir Anadolu Agency.

2. Venezuela tingkatkan pertahanan di perbatasan

Menanggapi pergerakan militer AS, Venezuela segera mengambil langkah balasan untuk memperkuat pertahanannya. Menteri Pertahanan Vladimir Padrino Lopez mengumumkan pengerahan kapal-kapal perang dan drone militer untuk melakukan patroli di sepanjang garis pantai negara itu.

Caracas juga memperkuat perbatasan daratnya dengan mengirimkan 15 ribu tentara ke perbatasannya dengan Kolombia untuk memerangi kelompok penyelundup narkoba dan geng kriminal lainnya. Maduro telah menyerukan pelatihan kelompok-kelompok pertahanan sipil untuk memperkuat keamanan domestik.

Di tingkat diplomatik, Venezuela membawa isu ini ke Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Duta Besar Venezuela untuk PBB, Samuel Moncada, bertemu dengan Sekretaris Jenderal Antonio Guterres untuk memprotes pengerahan armada AS tersebut.

Dalam pertemuan itu, Moncada menuduh AS memiliki niat tersembunyi di balik operasi kontra-narkotikanya.

"Ini adalah operasi propaganda besar-besaran untuk membenarkan intervensi militer di sebuah negara yang berdaulat dan merdeka, yang tidak menjadi ancaman bagi siapa pun," ujar Moncada, dikutip dari Al Jazeera.

3. AS dituduh berencana menggulingkan Maduro

Presiden Venezuela, Nicolás Maduro. (Kremlin.ru, CC BY 4.0 <https://creativecommons.org/licenses/by/4.0>, via Wikimedia Commons)

Sebelumnya, AS melayangkan tuduhan serius kepada pemerintah Venezuela. Trump menuduh Maduro memimpin sebuah kartel narkoba yang dikenal sebagai "Cartel de los Soles".

AS bahkan menawarkan hadiah senilai 50 juta dolar AS (sekitar Rp823,7 miliar) untuk informasi yang dapat mengarah pada penangkapan Maduro. Juru bicara Gedung Putih telah melabeli rezim Maduro sebagai "kartel narco-teror".

Pihak AS mengklaim tindakan mereka mendapat dukungan dari negara-negara lain di kawasan tersebut. Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menyebut Argentina, Ekuador, Paraguay, dan Guyana bergabung dalam koalisi internasional yang mendukung langkah AS.

Maduro sendiri membantah semua tuduhan tersebut dan menuduh AS sedang berupaya menggulingkannya.

"Hari ini, kita lebih kuat dari kemarin. Hari ini, kita lebih siap untuk mempertahankan perdamaian, kedaulatan, dan integritas wilayah kita," kata Maduro dalam pidato di hadapan pasukan Venezuela.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team