Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
ilustrasi bendera Mali
ilustrasi bendera Mali (pexels.com/aboodi)

Intinya sih...

  • Warga Mali mendukung pembatasan masuk warga AS sebagai bentuk perlindungan terhadap negara mereka.

  • Niger belum menetapkan kebijakan resiprokal kepada AS, berbeda dengan Mali dan Burkina Faso yang sudah membatasi warga AS.

  • AES akan melancarkan serangan ofensif melawan teroris di kawasan Sahel, dengan membentuk batalion gabungan dari Mali, Burkina Faso, dan Niger.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Mali dan Burkina Faso memutuskan untuk membatasi masuknya warga Amerika Serikat (AS) ke negaranya. Keputusan ini sebagai balasan atas masuknya kedua negara dalam pembatasan pembuatan visa ke AS. 

“Warga AS akan mendapatkan perlakuan yang sama seperti yang didapat oleh warga Mali saat akan berkunjung ke AS. Kebijakan ini berlaku secara efektif dan langsung,” ungkap Kementerian Luar Negeri Mali, dikutip dari Africa News, Jumat (2/1/2026). 

Sebelumnya, Mali sudah mewajibkan warga AS untuk membayar uang jaminan untuk memperoleh visa kunjungan. Langkah ini ditetapkan usai Washington mempersyaratkan uang jaminan untuk pembuatan visa kepada warga Mali. 

1. Warga Mali mendukung pemerintah menetapkan pembatasan masuk warga AS

Sejumlah warga Mali mengaku setuju dengan kebijakan junta militer untuk membela warganya. Warga menilai menilai Washington harus menghormati Mali dan memperlakukan warganya dengan setara. 

“Amerika adalah negara di dunia, sama seperti Mali. Di dunia ini, penghomatan harus dilakukan. Amerika adalah negara hukum dan kami juga memiliki prinsip kami sendiri. Kami tidak lagi dapat membiarkan negara lain, entah itu negara adidaya atau negara dunia ketiga yang meremehkan kami,” terang salah seorang warga Mali. 

Sementara itu, warga Mali lainnya bernama Diakridja Sidibe menyebut bahwa kebijakan balasan ini pantas. Dengan ini, Mali dapat mempertahankan harga dirinya dan kebijakan ini sangat normal. 

2. Niger belum menetapkan kebijakan resiprokal kepada AS

Mali dan Burkina Faso berada di bawah kepemimpinan junta militer dan tergabung dalam Alliance of Sahel States (AES) bersama Niger. Namun, Niger menjadi satu-satunya negara AES yang tidak menetapkan kebijakan belasan terhadap AS. 

Niger mengungkapkan akan menentukan sikap dalam waktu dekat menanggapi pembatasan dari AS. Tak hanya tiga negara tersebut, AS juga sudah menetapkan pembatasan kepada Nigeria, Pantai Gading, Senegal, dan sejumlah negara Afrika Barat lainnya. 

3. AES akan melancarkan serangan ofensif melawan teroris

Pekan lalu, Mali, Burkina Faso, dan Niger mengatakan akan melancarkan serangan gabungan melawan kelompok teroris di kawasan Sahel. Tentara gabungan ketiga negara AES itu akan bersama-sama mengatasi instabilitas di negaranya. 

“Pembentukan batalion gabungan Mali, Burkina Faso, dan Niger ini harus diikuti oleh operasi skala besar di kawasan. Sebab kawasan Sahel sudah dirundung instabilitas dan kekerasan selama lebih dari 1 dekade,” terang Presiden Burkina Faso, Ibrahim Traore, dikutip dari Business Insider Africa. 

Ketiga negara sudah dikuasai oleh junta militer dalam beberapa tahun terakhir. Ketiganya juga membentuk AES sebagai aliansi politik dan keamanan, serta memilih keluar dari ECOWAS. 

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team