Aksi pawai obor berlangsung di pusat kota Dhaka pada Senin dini hari sebagai simbol perlawanan terhadap budaya patriarki dalam institusi politik Bangladesh. Ratusan pengunjuk rasa berkumpul di depan gedung parlemen untuk menuntut pembagian ruang yang adil bagi keterwakilan gender dalam pemilihan umum 2026. Massa menegaskan bahwa tanpa keterlibatan perempuan yang signifikan, hasil dari pesta demokrasi tersebut akan kehilangan legitimasi moral serta sosial di mata masyarakat.
Priya Ahsan Chowdhury, seorang pengacara Mahkamah Agung yang turut serta dalam aksi tersebut, menyatakan bahwa penindasan terhadap perempuan terus muncul dalam berbagai bentuk tanpa memandang rezim yang berkuasa.
"Di beberapa wilayah, kita tidak melihat adanya representasi perempuan sama sekali, melainkan hanya laki-laki, dan hal inilah yang mendorong kami untuk keluar dan bersuara," katanya, dilansir Indopremier.
Sejarah mencatat bahwa perempuan Bangladesh selalu berada di garis depan perjuangan nasional, mulai dari Perang Kemerdekaan 1971 hingga revolusi mahasiswa Juli 2024. Namun, pimpinan Tech Global Institute, Sabhanaz Rashid Diya, menilai bahwa aspirasi untuk membangun negara yang adil kini terancam oleh penghapusan peran perempuan di ruang publik.
"Saat kita bermimpi membangun negara baru, partai politik yang dulunya memiliki peran kunci perempuan justru kini meminggirkan mereka dalam perlombaan pemilihan," ujarnya, dilansir The Guardian.
Kesenjangan antara kontribusi besar perempuan di jalanan dan minimnya representasi mereka di kotak suara menjadi poin utama dalam protes ini. Para aktivis mengingatkan bahwa demokrasi yang sehat memerlukan kehadiran semua segmen masyarakat dalam pengambilan keputusan strategis. Oleh karena itu, para demonstran mendesak pemerintah interim dan Komisi Pemilihan Umum untuk mengambil langkah konkret dalam menjamin keamanan serta aksesibilitas bagi kandidat perempuan guna mengakhiri diskriminasi gender di tanah Bangladesh.