WHO: Satu Orang Tewas akibat Virus Nipah di Bangladesh

- Sekitar 348 kasus virus Nipah dilaporkan di Bangladesh sejak 2001.
- Virus Nipah menular melalui produk yang terkontaminasi oleh kelelawar, dengan tingkat kematian mencapai 40-75%.
- Wabah ini muncul secara musiman dan belum ada obat atau vaksin khusus.
Jakarta, IDN Times - Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), pada Jumat(6/2/2026), menyatakan bahwa seorang pasien di Bangladesh meninggal dunia setelah terinfeksi virus Nipah yang mematikan.
Pasien tersebut, yang digambarkan sebagai perempuan berusia 40-50 tahun, pertama kali mengalami demam dan gejala neurologis pada 21 Januari. Ia kemudian meninggal pada 28 Januari, dan dikonfirmasi terinfeksi virus tersebut sehari setelahnya.
Perempuan tersebut tidak memiliki riwayat perjalanan, tapi baru-baru ini mengonsumsi nira kurma mentah. WHO mengatakan, sebanyak 35 orang yang pernah melakukan kontak dengannya telah menjalani pemeriksaan, dan sejauh ini belum terdeteksi kasus tambahan, dilansir dari The Straits Times.
1. Sekitar 348 kasus virus Nipah dilaporkan di Bangladesh sejak 2001

Virus Nipah adalah penyakit yang dapat menular ke manusia, biasanya melalui produk yang terkontaminasi oleh kelelawar yang terinfeksi, seperti buah-buahan. Tingkat kematiannya cukup tinggi, yakni berkisar antara 40 hingga 75 persen kasus. Meski demikian, penularan antar manusia relatif tidak mudah terjadi.
Sejak 2001, sekitar 348 kasus virus Nipah telah dilaporkan di Bangladesh. Sekitar setengahnya terjadi pada orang-orang yang memiliki riwayat meminum nira kurma mentah. Wabah ini biasanya muncul secara musiman, yakni dari Desember hingga April, yang menurut WHO bertepatan dengan masa panen dan konsumsi nira kurma.
Sejauh ini, belum ada obat maupun vaksin berlisensi khusus untuk penyakit tersebut.
2. Penyebaran virus Vipah dari luar negeri dinilai masih tergolong rendah

Sejumlah negara, termasuk Malaysia, Thailand, Indonesia, dan Pakistan, telah menerapkan pemeriksaan kesehatan di bandara setelah India mengonfirmasi dua kasus infeksi virus tersebut di negara bagian Benggala Barat.
Meski demikian, WHO menilai risiko penyebaran penyakit tersebut secara internasional masih tergolong rendah. Oleh karena itu, badan kesehatan tersebut belum merekomendasikan pembatasan perjalanan maupun perdagangan berdasarkan informasi yang tersedia saat ini.
“WHO menilai risiko keseluruhan terhadap kesehatan masyarakat yang ditimbulkan oleh NiV tergolong rendah, baik di tingkat nasional, regional, dan global,” demikian tertulis dalam penilaian tersebut, dikutip dari Al Jazeera.
3. Ketua WHO sebut virus Nipah sebagai penyakit langka yang berbahaya

Pekan lalu, Ketua WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus menyebut virus Nipah sebagai penyakit langka, tapi serius. Ia mengatakan bahwa pihak berwenang masih terus berupaya menangani penyebaran penyakit tersebut.
“Pihak berwenang telah meningkatkan pengawasan dan pengujian penyakit, menerapkan langkah-langkah pencegahan dan pengendalian di lingkungan layanan kesehatan, dan terus memberikan informasi kepada masyarakat tentang cara melindungi diri mereka sendiri,” kata Ghebreyesus dalam pernyataannya.
















