Niat Cari Kerja, Warga Bangladesh di Rusia Dipaksa Ikut Perang

- Warga Bangladesh ditipu dengan iming-iming pekerjaan di Rusia
- Langsung disodorkan kontrak kerja pasukan militer saat tiba di Rusia
- Rahman berhasil kabur setelah 7 bulan jadi tentara bayaran
Jakarta, IDN Times - Warga Bangladesh yang berniat mencari kerja di Rusia dikabarkan banyak yang bernasib nahas. Mereka malah dipaksa jadi tentara bayaran untuk ikut perang melawan Ukraina. Informasi ini dibeberkan secara detail dalam laporan investigasi khusus yang dirilis AP News pada Selasa (27/1/2026).
Laporan tersebut menjelaskan bahwa warga Bangladesh dibujuk untuk merantau ke Rusia dengan iming-iming mendapatkan pekerjaan. Namun, banyak dari mereka yang justru malah ditipu. Alih-alih dapat kerja dengan upah layak, mereka malah dipaksa jadi tentara bayaran untuk membantu Rusia melawan Ukraina.
Bahkan, beberapa dari mereka ada yang sampai bertahun-tahun terpaksa jadi tentara bayaran untuk berperang. Banyak juga dari mereka yang hilang karena diduga tewas dalam peperangan atau tewas karena mendapat perlakuan kasar dari atasannya.
1. Langsung disodorkan kontrak kerja pasukan militer saat tiba di Rusia

Rahman, salah satu dari beberapa warga Bangladesh yang jadi korban, menceritakan pengalamannya soal kedok penipuan tersebut. Rahman mengatakan, awalnya, ia dan beberapa rekannya ditawari pekerjaan di Rusia dengan gaji menggiurkan.
Tidak mau menyianyiakan kesempatan, Rahman dan rekannya lantas memutuskan berangkat ke Rusia untuk menjemput bola. Namun, setibanya di Moskow, Rahman dan rekannya malah langsung disodorkan dokumen yang di dalamnya berisi kontrak kerja pasukan militer.
Usai menandatangani kontrak, Rahman dan rekan-rekannya kemudian dibawa ke kamp pelatihan militer. Di sana, ia mendapatkan pelatihan terkait berbagai kemampuan yang dibutuhkan seorang tentara. Beberapa di antaranya, seperti pelatihan teknik menggunakan drone, teknik evakuasi medis, hingga teknik menggunakan senjata saat berperang.
2. Rahman dan rekannya dapat ancaman jika menolak

Rahman dan rekannya sebetulnya sempat menolak untuk dijadikan tentara bayaran Rusia. Sebab, mereka ingin mendapat pekerjaan seperti orang-orang biasa. Apalagi, mereka sebelumnya juga belum pernah terjun ke medan pertempuran.
Namun, Rahman mengatakan ia dan rekannya diancam oleh pasukan militer Rusia jika menolak jadi tentara bayaran. Mereka diancam akan dipukuli dan dipenjara selama 10 tahun jika tidak mau jadi tentara bayaran Rusia untuk membantu perang melawan Ukraina. Alhasil, mereka pun terpaksa menerima dan bersedia diterjunkan ke medan perang.
“'Agen Anda mengirim Anda ke sini. Kami sudah membeli Anda.' Lalu, mereka (tentara Rusia) akan berkata ‘Mengapa kalian tidak bekerja? Mengapa kalian menangis?' Setelah itu, mereka kemudian menendang kami,” jelas Rahman dalam laporan AP News yang dikutip Al Jazeera.
3. Rahman berhasil kabur setelah 7 bulan jadi tentara bayaran

Rahman sendiri saat ini sudah kembali berkumpul dengan keluarganya di Bangladesh. Sebab, ia berhasil kabur untuk kembali ke kampung halamannya usai 7 bulan jadi tentara bayaran Rusia.
Sayangnya, beberapa rekan Rahman yang mengalami nasib serupa masih dinyatakan hilang. Keluarga juga tidak tahu menahu soal kabar mereka hingga saat ini. Keluarga berharap mereka yang hilang segera ditemukan agar bisa kembali berkumpul di kampung halaman.
Keluarga dari korban hilang sebetulnya sudah melaporkan kasus ini ke kepolisian Bangladesh untuk diteruskan ke pemerintah pusat. Namun, hingga saat ini, Pemerintah Bangladesh dikabarkan masih belum memberi tanggapan soal kasus penipuan yang dialami warganya.
Sebagai informasi, warga Bangladesh sebetulnya bukan satu-satunya yang jadi korban penipuan saat mencari kerja di Rusia. Sebab, dalam laporan AP News, warga-warga dari negara Asia Selatan lainnya, seperti India, Nepal, dan Srilanka juga pernah mengalami hal serupa. Mereka datang ke Rusia dengan niat cari kerja, tetapi malah dipaksa jadi tentara bayaran untuk ikut perang.


















