Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Banjir Besar Landa Oman, Lima Korban Tewas Terjebak di Mobil
Banjir (unsplash.com/Chris Gallagher)
  • Lima orang tewas akibat banjir besar di Oman, termasuk tiga warga India dan dua warga lokal yang terjebak dalam kendaraan di wilayah Barka dan Al-Maawil.
  • Tim darurat nasional Oman melakukan operasi penyelamatan intensif meski terkendala cuaca ekstrem, berhasil mengevakuasi puluhan warga dari area berisiko tinggi.
  • Pemerintah mengaktifkan Pusat Manajemen Darurat Nasional serta memperingatkan potensi hujan es, badai petir, dan banjir susulan hingga akhir Maret 2026.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Kesultanan Oman pada Senin (24/3/2026) mengonfirmasi adanya peningkatan jumlah korban jiwa akibat cuaca ekstrem yang melanda berbagai wilayah strategis dalam 24 jam terakhir. Sedikitnya lima orang dilaporkan meninggal dunia setelah kendaraan yang mereka tumpangi tersapu banjir bandang di wilayah Wilayat Barka dan Al-Maawil. Banjir tersebut meluap dari sejumlah lembah setelah hujan lebat melumpuhkan aktivitas warga.

Bencana alam ini memicu operasi penyelamatan besar-besaran oleh tim darurat nasional. Meskipun terkendala jarak pandang yang terbatas dan arus air yang sangat kuat, petugas berhasil mengevakuasi puluhan warga yang terjebak. Tim dari Otoritas Pertahanan Sipil dan Ambulans (CDAA) hingga kini masih bersiaga penuh di lokasi rawan untuk menangani dampak banjir.

Selain menimbulkan korban jiwa, banjir ini juga memutus sejumlah rute transportasi utama dan merendam kawasan pemukiman, khususnya di Provinsi Batinah Selatan dan sekitarnya. Pihak berwenang terus berupaya memulihkan kondisi di wilayah-wilayah terdampak sambil mengimbau warga untuk tetap waspada.

1. Tiga warga India tewas terseret arus banjir

Tragedi maut terjadi di Wilayat Barka saat sebuah mobil Nissan Patrol yang membawa sepuluh penumpang terperosok ke dalam lubang besar di area pasar Barka. Sebagian besar penumpang merupakan satu keluarga ekspatriat asal Kerala, India, yang sedang dalam perjalanan pulang setelah merayakan libur Idulfitri di rumah kerabat.

Dalam operasi penyelamatan darurat sekitar pukul 01.00 waktu setempat, tim CDAA berhasil menyelamatkan tujuh orang penumpang, termasuk seorang pemilik toko sepeda bernama Lubishad dan empat orang anak-anak. Namun, derasnya arus air menyebabkan dua penumpang lainnya, yaitu Yusuf (38) dan Shamla (32), ditemukan meninggal dunia di lokasi kejadian. Setelah pencarian intensif melibatkan warga dan kepolisian, jenazah ibu dari Yusuf yang bernama Ramla juga ditemukan, sehingga total korban jiwa dalam kecelakaan mobil tersebut menjadi tiga orang.

Kondisi geografis Barka yang berada di dataran rendah pesisir membuat air dari pegunungan Hajar mengalir sangat cepat menuju wadi-wadi di wilayah tersebut. Hal ini menciptakan jebakan air berbahaya bagi pengguna jalan yang meremehkan kuatnya arus saat badai petir berlangsung.

"Jangan nekat berkendara atau mendatangi area wadi saat cuaca buruk. Banjir bandang masih bisa terjadi hingga beberapa jam setelah hujan reda. Pencegahan jauh lebih baik, dan kami meminta masyarakat bekerja sama demi menjaga keselamatan nyawa serta harta benda," ujar juru bicara CDAA, dilansir Times of India.

2. Dua warga Oman tewas terseret banjir di wadi Al-Maawil

Dalam kejadian terpisah yang terjadi dalam waktu berdekatan, dua warga negara Oman dilaporkan tewas setelah kendaraan mereka terjebak di tengah luapan air di Wilayat Wadi Al-Maawil, Kegubernuran Batinah Selatan. Wilayah ini dikenal memiliki risiko tinggi terkena banjir permukaan saat curah hujan meningkat.

Tim dari Sektor Pencarian dan Penyelamatan Sistem Manajemen Darurat Nasional Oman berhasil mengevakuasi jenazah kedua korban setelah menyisir aliran air yang sangat deras. Pihak berwenang mencatat bahwa kejadian di Al-Maawil ini menambah daftar panjang korban jiwa akibat banjir di Oman.

Meskipun helikopter dari kepolisian telah dikerahkan untuk pemantauan udara dan penyelamatan darurat, kondisi cuaca yang tidak stabil mempersulit tim di lapangan. Hembusan angin kencang hingga 83 km/jam menjadi tantangan berat bagi tim teknis dalam menjangkau lokasi-lokasi yang paling terdampak.

3. Pemerintah aktifkan pusat darurat nasional untuk hadapi cuaca ekstrem

Menanggapi peningkatan skala bencana, Komite Nasional Manajemen Darurat (NCEM) segera mengaktifkan Pusat Manajemen Darurat Nasional dan sub-komite di berbagai wilayah, termasuk Al Dhahirah, Al Dakhiliyah, Muscat, dan Al Sharqiyah. Langkah ini diambil untuk memastikan kesiapan sektor-sektor penting dalam menangani dampak cuaca buruk yang diperkirakan akan berlangsung hingga 30 Maret 2026.

Secara keseluruhan, lebih dari 40 orang berhasil diselamatkan dari kondisi kritis di berbagai titik. Petugas mengevakuasi 30 warga dari sebuah rumah di Muscat serta memindahkan warga yang terjebak di wilayah Al-Seeb dan Al-Mawaleh akibat kenaikan permukaan air yang mengancam bangunan.

Pemerintah Oman melalui Otoritas Penerbangan Sipil (CAA) dan Kepolisian Kerajaan Oman (ROP) terus mengeluarkan peringatan tingkat tinggi mengenai kemungkinan hujan es, badai petir, dan banjir bandang susulan. Cuaca ini juga berpotensi mengurangi jarak pandang secara drastis di wilayah pegunungan dan pesisir.

"Menjaga keamanan bersama bukan hanya tugas saat darurat, tapi harus jadi kebiasaan dan tindakan nyata setiap hari. Kami meminta semua warga mematuhi aturan keselamatan, menjauhi area lembah atau wadi, dan tidak nekat mempertaruhkan nyawa di tengah cuaca buruk ini," ujar Ketua CDAA, Mayor Jenderal Sulaiman bin Ali al Husseini, dilansir Times of Oman.

Kesiapsiagaan CDAA diharapkan dapat menekan risiko lebih lanjut seiring pergerakan badai menuju wilayah Timur Laut Pegunungan Al Hajar.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team