Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Menlu Oman Tuduh Israel Seret AS ke Perang Iran

Menlu Oman Tuduh Israel Seret AS ke Perang Iran
Menteri Luar Negeri Oman, Badr Albusaidi saat bertemu dengan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi (Tasnim News Agency, CC BY 4.0 <https://creativecommons.org/licenses/by/4.0>, via Wikimedia Commons)
Intinya Sih
  • Menlu Oman, Badr Albusaidi, menuduh Israel menyeret AS ke perang dengan Iran dan menyebut keputusan Presiden Trump sebagai kesalahan besar yang menghancurkan peluang perdamaian.
  • Serangan gabungan AS-Israel memicu balasan Iran yang mengganggu stabilitas kawasan, rantai pasok energi global, serta mengancam ambisi ekonomi negara-negara Arab.
  • Oman mengecam agresi militer tersebut dan mendesak Dewan Keamanan PBB segera memberlakukan gencatan senjata untuk menghentikan konflik yang telah menewaskan lebih dari seribu orang.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Jakarta, IDN Times - Menteri Luar Negeri Oman, Badr Albusaidi, secara terbuka menuding Israel telah menyeret Amerika Serikat (AS) ke dalam perang dengan Iran. Albusaidi menyampaikan kritiknya melalui sebuah opini di The Economist pada Kamis (19/3/2026), di mana ia menyebut keputusan Presiden AS Donald Trump tersebut sebagai salah perhitungan besar.

Serangan militer gabungan AS dan Israel pada 28 Februari lalu dinilai telah menghancurkan prospek perdamaian yang saat itu sudah di depan mata. Kegagalan ini kini memicu eskalasi konflik yang berdampak luas, mulai dari terganggunya rantai pasok energi global hingga ancaman resesi ekonomi.

“Pemerintah AS telah benar-benar kehilangan kendali atas kebijakan luar negerinya sendiri,” tulis Albusaidi, dilansir News18.

1. Israel dituding sengaja gagalkan jalur diplomasi

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan Presiden AS Donald Trump. (The White House, Public domain, via Wikimedia Commons)
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan Presiden AS Donald Trump. (The White House, Public domain, via Wikimedia Commons)

Proses mediasi antara AS dan Iran sebenarnya telah menunjukkan kemajuan signifikan sebelum serangan diluncurkan. Putaran negosiasi tidak langsung sempat digelar di Oman pada 6 Februari dan berlanjut ke tahap akhir di Jenewa pada 26 Februari. Tim perunding AS saat itu diwakili oleh utusan khusus Trump, Steve Witkoff, dan menantunya, Jared Kushner.

Dalam perundingan tersebut, Iran dilaporkan telah menyetujui sejumlah konsesi yang sangat penting. Tawaran ini mencakup pengurangan dan jeda pengayaan uranium serta mengizinkan partisipasi AS dalam program nuklir sipil mereka. Sebagai imbalannya, Teheran meminta pencabutan sanksi ekonomi dan pencairan aset negara yang dibekukan.

Penasihat Keamanan Nasional Inggris, Jonathan Powell, yang turut hadir dalam perundingan Jenewa, juga membenarkan bahwa kesepakatan tersebut sangat potensial untuk mencegah perang. Namun, hanya berselang 48 jam setelah pembicaraan selesai, serangan udara justru dilancarkan oleh AS dan Israel.

"Pemimpin Israel meyakinkan Trump bahwa Iran akan menyerahkan diri tanpa syarat setelah serangan awal dan pembunuhan Pemimpin Tertinggi mereka," tutur Albusaidi, dilansir TRT World.

2. AS dinilai salah kalkulasi dampak perang di Iran

Presiden AS Donald Trump bersama Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth dan Direktur CIA John Ratcliffe saat memantau operasi militer di Venezuela
Presiden AS Donald Trump bersama Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth dan Direktur CIA John Ratcliffe saat memantau operasi militer di Venezuela (Official White House Photo by Molly Riley, Public domain, via Wikimedia Commons)

Serangan AS dan Israel telah memicu gelombang pembalasan dari pihak Teheran. Militer Iran menargetkan sejumlah fasilitas militer dan aset strategis yang berafiliasi dengan AS di negara-negara tetangganya. Serangan balasan bahkan memicu kebakaran besar di fasilitas petrokimia yang tersebar di wilayah Arab Saudi dan Kuwait.

Albusaidi memandang respons dari Iran ini sebagai suatu hal yang rasional dan tidak bisa dihindari lagi. Terlebih lagi, agresi awal AS dan Israel memang ditujukan untuk mengakhiri rezim Republik Islam di Iran.

Ambisi negara-negara Arab untuk menjadi pusat pariwisata, teknologi, serta keuangan global kini berada dalam ancaman. Rencana strategis jangka panjang kawasan tersebut terpaksa harus ditinjau ulang akibat ternodanya citra mereka sebagai negara aman. Selain itu, aliran barang yang melintasi Selat Hormuz juga mengalami gangguan.

"Jika hal ini tidak diantisipasi oleh para arsitek perang, ini pastilah sebuah salah perhitungan yang sangat fatal," tutur Albusaidi, dilansir Middle East Eye.

3. Oman desak DK PBB segera upayakan gencatan senjata

rapat Dewan Keamanan PBB pada 2021. (U.S. Department of State from United States, Public domain, via Wikimedia Commons)
rapat Dewan Keamanan PBB pada 2021. (U.S. Department of State from United States, Public domain, via Wikimedia Commons)

Pemerintah Oman telah mengeluarkan pernyataan sikap yang mengecam agresi militer AS-Israel yang dinilai sebagai pelanggaran hukum internasional. Mereka mendesak Dewan Keamanan PBB untuk segera mengadakan pertemuan darurat demi memberlakukan gencatan senjata.

Korban jiwa akibat konflik yang memanas sejak akhir Februari ini terus bertambah. Laporan terbaru dari otoritas terkait menyebutkan bahwa sekitar 1.300 orang telah tewas akibat serangkaian serangan, termasuk Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei.

Albusaidi mengingatkan bahwa target Israel untuk menggulingkan rezim Iran tidak akan bisa dicapai dengan mudah. Israel diperkirakan akan membutuhkan operasi darat yang sangat panjang dan berpotensi memaksa AS untuk mengerahkan pasukan daratnya.

Trump dinilai gagal memenuhi janji kampanyenya jika membiarkan perang di Timur Tengah berlarut-larut. Oleh karena itu, Oman menyerukan kepada seluruh sekutu AS untuk membantu mengeluarkan negara itu dari jebakan konflik.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Topics
Editorial Team
Anata Siregar
EditorAnata Siregar
Follow Us

Latest in News

See More