Kementerian Dalam Negeri dan Administrasi Nasional Kenya resmi menetapkan kawasan hilir Sungai Tana dalam status siaga tinggi pada Sabtu (2/5/2026). Langkah antisipasi ini diambil setelah hujan deras di daerah tangkapan air bagian hulu, terutama di sekitar Gunung Kenya, memicu lonjakan debit air menuju Sistem Bendungan Seven Forks.
"Situasi ini meningkatkan risiko banjir di area hilir, khususnya di wilayah Kabupaten Garissa dan Tana River," ujar juru bicara Pemerintah Kenya, Isaac Mwaura, dilansir The Star.
Ia mengonfirmasi bahwa Bendungan Masinga telah mencapai kapasitas maksimum pada 28 April 2026. Merespons kondisi tersebut, otoritas terkait melakukan pelepasan air secara terkendali untuk menjaga struktural bendungan.
Kementerian Dalam Negeri memproyeksikan periode risiko tertinggi akan terjadi pada 2 hingga 3 Mei 2026. Pada periode tersebut, permukaan air diperkirakan mencapai titik puncak dan berpotensi memicu meluasnya area banjir di wilayah Garissa, Hola, dan Garsen, hingga mencapai dataran banjir serta kawasan delta di sekitarnya.
Kementerian menekankan bahwa Delta Sungai Tana, yang dihuni lebih dari 100 ribu jiwa, berisiko tinggi menjadi salah satu kawasan paling terdampak. Otoritas terkait terus memantau level permukaan air secara berkala, sementara masyarakat di daerah rawan diimbau untuk segera mengevakuasi diri ke dataran yang lebih tinggi guna mengantisipasi bencana susulan.