Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Banjir dan Longsor Landa Kenya, 10 Orang Tewas
Banjir (unsplash.com/Chris Gallagher)
  • Hujan deras di Kenya memicu banjir dan longsor yang menewaskan sedikitnya 10 orang serta merusak dua jembatan utama di wilayah Timur dan Pesisir.
  • Tanah longsor di Lembah Rift menutup ruas Jalan Iten–Kabarnet, mengganggu lalu lintas, sementara Palang Merah menyalurkan bantuan bagi warga terdampak dan mencari korban hilang.
  • Pemerintah Kenya menetapkan kawasan hilir Sungai Tana dalam status siaga tinggi karena peningkatan debit air dari Bendungan Seven Forks yang berisiko menyebabkan banjir meluas.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Hujan dengan intensitas tinggi yang melanda sejumlah wilayah di Kenya menyebabkan banjir bandang dan tanah longsor, mengakibatkan sedikitnya 10 orang meninggal dunia. Pihak berwenang meningkatkan status kewaspadaan menyusul peningkatan volume air secara signifikan di lima waduk utama Sistem Bendungan Seven Forks.

Kepolisian Kenya mengonfirmasi korban jiwa tersebut pada Jumat (1/5/2026). Di saat yang sama, Kementerian Dalam Negeri menetapkan kawasan hilir Sungai Tana dalam status siaga tinggi. Peringatan ini dikeluarkan akibat peningkatan debit air yang masuk ke waduk, yang berpotensi memicu luapan dan mengancam permukiman di sekitarnya.

1. Korban jiwa dan kerusakan jembatan

Layanan Kepolisian Nasional (NPS) menyatakan wilayah Timur mencatat jumlah korban jiwa tertinggi, yakni tujuh dari total 10 korban tewas. Cuaca ekstrem yang masih berlanjut memicu banjir dan sejumlah insiden terkait yang berdampak langsung pada masyarakat.

Selain menimbulkan korban jiwa, banjir bandang juga merusak infrastruktur di beberapa daerah. Dua jembatan utama, yakni Jembatan Mwena di Kabupaten Kwale dan Jembatan Ngomeni di Kabupaten Kitui, dilaporkan rusak berat akibat arus deras. Kerusakan ini memutus akses transportasi dan mengganggu mobilitas warga di sebagian wilayah Pesisir dan Timur.

NPS menegaskan bahwa tim tanggap darurat telah dikerahkan ke lokasi bencana untuk menjalankan operasi penyelamatan dan membantu keluarga terdampak. Pihak kepolisian terus berkoordinasi dengan lembaga pemerintah terkait untuk mengendalikan situasi dan memitigasi risiko lanjutan.

2. Tanah longsor di Lembah Rift dan gangguan lalu lintas

Bencana tanah longsor juga dilaporkan terjadi di wilayah Lembah Rift. Di Kabupaten Elgeyo Marakwet, tepatnya di Sub-Kabupaten Tambach, material longsor mengancam keselamatan warga dan stabilitas infrastruktur setempat.

Longsor ini merupakan dampak dari curah hujan tinggi yang menyebabkan tingkat kejenuhan tanah meningkat sehingga menjadi tidak stabil. Otoritas Jalan Raya Nasional Kenya (KeNHA) melaporkan titik longsor terpisah menutup ruas Jalan Iten–Kabarnet di dekat Kolol dan mengganggu arus lalu lintas. Perbaikan segera dilakukan, sementara arus kendaraan dialihkan ke jalur alternatif.

Di sektor kemanusiaan, Palang Merah Kenya saat ini tengah menelusuri laporan awal mengenai adanya orang hilang dan warga yang terisolasi di Mukuru Kwa Njenga, sebuah permukiman padat penduduk di Nairobi. Organisasi tersebut juga sedang mendistribusikan bantuan darurat kepada warga yang membutuhkan di lokasi terdampak.

3. Peringatan status siaga tinggi di kawasan hilir sungai

Kementerian Dalam Negeri dan Administrasi Nasional Kenya resmi menetapkan kawasan hilir Sungai Tana dalam status siaga tinggi pada Sabtu (2/5/2026). Langkah antisipasi ini diambil setelah hujan deras di daerah tangkapan air bagian hulu, terutama di sekitar Gunung Kenya, memicu lonjakan debit air menuju Sistem Bendungan Seven Forks.

"Situasi ini meningkatkan risiko banjir di area hilir, khususnya di wilayah Kabupaten Garissa dan Tana River," ujar juru bicara Pemerintah Kenya, Isaac Mwaura, dilansir The Star.

Ia mengonfirmasi bahwa Bendungan Masinga telah mencapai kapasitas maksimum pada 28 April 2026. Merespons kondisi tersebut, otoritas terkait melakukan pelepasan air secara terkendali untuk menjaga struktural bendungan.

Kementerian Dalam Negeri memproyeksikan periode risiko tertinggi akan terjadi pada 2 hingga 3 Mei 2026. Pada periode tersebut, permukaan air diperkirakan mencapai titik puncak dan berpotensi memicu meluasnya area banjir di wilayah Garissa, Hola, dan Garsen, hingga mencapai dataran banjir serta kawasan delta di sekitarnya.

Kementerian menekankan bahwa Delta Sungai Tana, yang dihuni lebih dari 100 ribu jiwa, berisiko tinggi menjadi salah satu kawasan paling terdampak. Otoritas terkait terus memantau level permukaan air secara berkala, sementara masyarakat di daerah rawan diimbau untuk segera mengevakuasi diri ke dataran yang lebih tinggi guna mengantisipasi bencana susulan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team