Seniman dari Sanggar Gumiart menampilkan tari Baris Wayang dalam rangkaian kegiatan Pekan Generasi Sadar Aksara (Parasara) di Denpasar, Bali, pada 9 Februari 2020. ANTARA FOTO/Nyoman Hendra Wibowo
Dirjen Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Kementerian Kesehatan, Anung Sugihantono, mengaku belum mendengar kabar ini dan pihaknya masih berusaha "mengonfirmasi" kebenarannya. Namun, ia dilaporkan buru-buru menangkisnya sebagai "sebuah rumor".
Sikap Kementerian Kesehatan sempat dipertanyakan publik baru-baru ini. Menteri Terawan Agus Putranto mengklaim tidak ada kasus virus corona di Indonesia meski negara ini sudah dikepung oleh virus tersebut, baik dari negara-negara ASEAN maupun Australia. Ia pun menyebut studi dari Universitas Harvard sebagai sebuah hinaan.
Dilansir dari laman resmi Harvard pada 11 Februari lalu, profesor epidemiologi Marc Lipsitch, curiga sebenarnya virus corona sudah menyebar di Indonesia tapi belum terdeteksi. "Indonesia berkata beberapa hari lalu telah melakukan 50 tes, tapi negara itu [menerima banyak keberangkatan dan kepergian melalui udara] dengan Wuhan, apalagi seluruh Tiongkok," kata Lipsitch.
"Jadi, 50 tes tidak cukup untuk membuat percaya diri bahwa Anda telah mengetahui seluruh kasus. Itu adalah sedikit bukti yang menurut saya sangat menonjol," tambahnya. Lipsitch membandingkan Indonesia dengan negara tetangga Singapura yang begitu cepat mendeteksi keberadaan virus corona.
"Saya membaca laporan The Wall Street Journal bahwa Singapura punya tiga kasus sejauh ini yang tak terlacak ke kasus-kasus lain. Singapura berlawanan dengan Indonesia dalam artian mereka punya lebih banyak kasus dibandingkan yang Anda duga berdasarkan volume perjalanan, mungkin karena mereka lebih baik dalam melakukan pendeteksian."