Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Belanja Militer Dunia Tembus Rekor Tertinggi pada 2025
sistem rudal THAAD milik AS. (commons.wikimedia.org/US Missile Defense Agency)
  • Belanja militer global mencapai rekor 2,88 triliun dolar AS pada 2025, naik 2,9 persen akibat meningkatnya ketidakamanan dunia dengan AS, China, dan Rusia sebagai penyumbang terbesar.
  • Anggaran pertahanan Eropa melonjak 14 persen dipicu perang Rusia-Ukraina, sementara Asia mencatat kenaikan tertinggi sejak 2009 dengan China memimpin dan Jepang serta Taiwan ikut menaikkan belanja.
  • Porsi belanja militer global kini menyerap 2,5 persen PDB dunia, menandakan meningkatnya rasa tidak aman dan berpotensi mengorbankan anggaran layanan sosial di berbagai negara.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Belanja militer global mencapai rekor tertinggi 2,88 triliun dolar AS (sekitar Rp49.600 triliun) pada 2025. Angka ini naik 2,9 persen dari tahun sebelumnya akibat peningkatan rasa tidak aman dunia.

Menurut laporan Stockholm International Peace Research Institute (SIPRI) pada Senin (27/4/2026), Amerika Serikat (AS), China, dan Rusia menjadi penyumbang terbesar anggaran pertahanan tersebut. Ketiganya menghabiskan total 1,48 triliun dolar AS (sekitar Rp25.488 triliun) atau lebih dari setengah pengeluaran global.

1. Belanja militer AS turun 7,5 persen

pesawat pengebom siluman B-2 Spirit milik AS. (wikimedia.org/U.S. Air Force)

Belanja militer AS turun 7,5 persen menjadi 954 miliar dolar AS (sekitar Rp16.429 triliun). Penurunan terjadi karena Kongres AS belum menyetujui bantuan militer baru untuk Ukraina.

Sebaliknya, anggaran militer negara-negara Eropa naik 14 persen menjadi 864 miliar dolar AS (sekitar Rp14.880 triliun). Perang Rusia-Ukraina yang masih berlangsung menjadi pendorong utama meroketnya anggaran pertahanan Eropa. Jerman menjadi pembelanja militer terbesar di Eropa dengan kenaikan 24 persen menjadi 114 miliar dolar AS (sekitar Rp1.963 triliun).

Rusia meningkatkan anggarannya 5,9 persen menjadi 190 miliar dolar AS (sekitar Rp3.272 triliun). Ukraina turut mendongkrak pengeluaran sebesar 20 persen menjadi 84,1 miliar dolar AS (sekitar Rp1.448 triliun).

"Negara-negara merespons ketidakpastian ini dengan pengadaan senjata skala besar. Tren pertumbuhan ini kemungkinan akan terus berlanjut melewati tahun 2026," ujar peneliti SIPRI Xiao Liang.

2. Asia cetak rekor, Timur Tengah cenderung stabil

deretan rudal YJ (YingJi) milik China (中国新闻社, CC BY 3.0 <https://creativecommons.org/licenses/by/3.0>, via Wikimedia Commons)

Kawasan Asia dan Oseania mencatat kenaikan pengeluaran 8,1 persen menjadi 681 miliar dolar AS (sekitar Rp11.732 triliun). Peningkatan ini menjadi yang terbesar di kawasan itu sejak 2009.

China memimpin kawasan Asia dengan anggaran 336 miliar dolar AS (sekitar Rp5.787 triliun). Belanja pertahanan China telah meningkat selama 31 tahun berturut-turut.

Kekhawatiran terhadap China mendorong Jepang menaikkan anggaran 9,7 persen menjadi 62,2 miliar dolar AS (sekitar Rp1.071 triliun). Taiwan turut menambah belanjanya 14 persen menjadi 18,2 miliar dolar AS (sekitar Rp313 triliun).

Sementara itu, belanja militer di Timur Tengah hanya naik 0,1 persen menjadi 218 miliar dolar AS (sekitar Rp3.755 triliun). Israel menurunkan anggaran menjadi 48,3 miliar dolar AS (sekitar Rp831 triliun), sementara anggaran riil Iran tercatat turun menjadi 7,4 miliar dolar AS (sekitar Rp127 triliun) akibat inflasi.

3. Peningkatan belanja militer berisiko mengorbankan layanan sosial

rudal Rusia (Mil.ru, CC BY 4.0 <https://creativecommons.org/licenses/by/4.0>, via Wikimedia Commons)

Beban militer global kini menyerap 2,5 persen dari produk domestik bruto dunia. Rasio ini menjadi yang tertinggi sejak tahun 2009. Besarnya pengeluaran menunjukkan semakin memburuknya persepsi keamanan internasional.

"Semua indikator mengarah pada dunia yang merasa kurang aman. Berbagai negara meningkatkan belanja militer untuk mengompensasi hal tersebut," kata peneliti SIPRI Lorenzo Scarazzato, dilansir The Straits Times.

Perlombaan senjata dikhawatirkan dapat meningkatkan risiko salah perhitungan antarnegara. Kepercayaan global yang memudar dapat membuat situasi dunia semakin berbahaya.

Tren militerisasi juga ikut membebani sektor pengeluaran publik lainnya. Pemerintah berisiko memotong anggaran layanan sosial demi menutupi tingginya biaya militer.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team