rudal Tomahawk (U.S. Navyderivative work: The High Fin Sperm Whale, Public domain, via Wikimedia Commons)
Penggunaan persenjataan canggih mendominasi pengeluaran AS di awal pecahnya konflik. Militer AS menghabiskan sekitar 5,6 miliar dolar AS (sekitar Rp94 triliun) untuk amunisi hanya dalam waktu dua hari.
Sementara itu, CSIS memperkirakan, AS menggelontorkan dana hingga 3,7 miliar dolar AS atau sekitar Rp62 triliun dalam 100 jam pertama operasi. Mayoritas dana tersebut, yakni sekitar 3,1 miliar dolar AS (Rp52 triliun), dialokasikan untuk membiayai belanja roket dan rudal.
Beberapa jenis rudal yang dipakai AS dikenal sangat mahal. Misalnya, sebuah rudal Tomahawk bernilai sekitar 3,6 juta dolar AS (Rp60 miliar), sementara bom luncur AGM-154 dipatok hingga 836 ribu dolar AS (Rp14 miliar) per unit.
Sejumlah anggota parlemen mulai menyuarakan kekhawatiran mereka terkait besarnya dana pembayar pajak yang digunakan.
"Saya memperkirakan bahwa total angka operasional saat ini jauh di atas itu. Jika yang Anda lihat hanyalah biaya penggantian amunisi yang digunakan, jumlahnya sudah jauh melampaui 10 miliar dolar," ungkap Senator Chris Coons, dilansir NBC News.
Militer AS kini mulai beralih menggunakan jenis amunisi yang jauh lebih terjangkau untuk menekan pengeluaran. Mereka memanfaatkan bom JDAM yang hanya menelan ongkos sekitar 80 ribu dolar AS (Rp1,3 miliar) per unit.