Kelompok Hacker Pro-Iran Serang Perusahaan Medis AS Stryker

- Kelompok peretas pro-Iran Handala menyerang perusahaan medis AS, Stryker, menghapus data ratusan ribu perangkat dan mencuri 50 terabyte data hingga melumpuhkan operasi di 79 negara.
- Serangan diklaim sebagai balasan atas pengeboman sekolah di Minab, Iran, yang menewaskan lebih dari 170 orang; Handala menuduh Stryker memiliki hubungan dengan Israel dan militer AS.
- Pakar keamanan siber memperingatkan meningkatnya ancaman serangan bermotif politik seperti ini, karena fokus pertahanan digital masih dominan pada ancaman finansial berisiko rendah.
Jakarta, IDN Times- Kelompok peretas pro-Iran bernama Handala mengeklaim bertanggung jawab atas serangan siber terhadap perusahaan perangkat medis Amerika Serikat (AS), Stryker. Insiden ini menyebabkan gangguan jaringan global pada lingkungan Microsoft milik perusahaan tersebut. Selain itu, data ratusan ribu perangkat yang terhubung ke jaringan dilaporkan terhapus dari jarak jauh.
Serangan diklaim sebagai bentuk pembalasan atas agresi militer AS dan Israel di Iran. Gangguan mulai melumpuhkan perangkat operasional Stryker sejak Rabu (11/3/2026) dini hari waktu setempat. Hingga kini, proses pemulihan sistem di puluhan negara masih terus diupayakan oleh pihak perusahaan.
1. Curi 50 terabyte data milik Stryker

Kelompok Handala menyatakan telah berhasil menyusup dan mengambil alih 50 terabyte data dari Stryker. Mereka juga menghapus lebih dari 200 ribu sistem, peladen, dan perangkat seluler karyawan. Imbasnya, kantor cabang Stryker di 79 negara terpaksa ditutup sementara.
Dampak serangan paling parah dilaporkan terjadi di kantor cabang Irlandia yang mempekerjakan sedikitnya 4 ribu karyawan. Seluruh aktivitas operasional di lokasi tersebut terhenti total dan para pekerja tidak dapat mengakses komputer mereka. Logo kelompok Handala dilaporkan muncul dan mengambil alih halaman utama portal masuk sistem perusahaan.
Menanggapi klaim tersebut, pihak Stryker membenarkan adanya gangguan jaringan secara global yang berdampak pada perangkat berbasis Windows. Namun, mereka menegaskan tidak menemukan adanya indikasi ransomware atau malware.
“Tim kami sedang bekerja cepat untuk memahami dampak serangan terhadap sistem,” tutur juru bicara Stryker, dilansir The Independent.
Stryker mencatat pendapatan 25 miliar dolar AS (sekitar Rp422 triliun) pada 2025. Perusahaan ini memproduksi berbagai alat medis mulai dari tempat tidur rumah sakit hingga sistem bedah robotik.
2. Balasan atas serangan sekolah di Minab

Handala menyatakan peretasan merupakan pembalasan atas serangan AS dan Israel ke Iran, terutama pengeboman di sebuah sekolah di kota Minab, Iran selatan. Peristiwa tragis tersebut dilaporkan telah menewaskan lebih dari 170 orang, yang sebagian besar merupakan siswi perempuan.
Mereka menuduh Stryker memiliki hubungan dengan pemerintahan dan lobi Israel. Handala juga mengancam akan menyerang pimpinan Zionis dan sejumlah perusahaan teknologi AS.
“Ini hanyalah permulaan dari babak baru dalam peperangan siber,” kata Handala dalam pernyataannya, dilansir Times of Israel.
Stryker sendiri tidak memiliki kaitan langsung dengan perang di Timur Tengah. Namun, perusahaan itu tercatat memiliki operasi bisnis di Israel lewat akuisisi OrthoSpace pada 2019 lalu. Pada 2025, Stryker juga memenangkan kontrak alat medis militer senilai 450 juta dolar AS (sekitar Rp7,6 triliun) dari Departemen Pertahanan AS.
3. Pakar peringatkan eskalasi ancaman siber

Selain membidik Stryker, Handala mengeklaim telah meretas perusahaan pembayaran elektronik Verifone pada hari yang sama. Namun, pihak Verifone membantah klaim tersebut dan memastikan pihaknya tidak mengalami gangguan layanan.
Sementara itu, pakar menilai upaya keamanan siber saat ini terlalu berfokus pada ancaman bermotif finansial.
"Terlalu banyak keamanan siber difokuskan pada peretasan berisiko rendah dari musuh bermotif finansial, sementara kita meningkatkan paparan terhadap negara dan musuh lain yang berupaya mengganggu dan menghancurkan," kata pakar keamanan siber Joshua Corman, dilansir CNN.
Grup Handala sendiri mulai dikenal luas setelah meletusnya perang Israel-Hamas pada Oktober 2023. Mereka kerap menargetkan infrastruktur sipil vital di Israel dan operasi perusahaan energi di sekitar kawasan Teluk. Investigasi IBM X-Force menyebut kelompok ini sering memakai perangkat lunak penghapus data kustom dalam berbagai operasinya.
















