PBB Adopsi Resolusi yang Kecam Serangan Iran ke Negara Teluk

- DK PBB mengesahkan resolusi yang mengecam serangan Iran ke negara Teluk dan Yordania, didukung 13 dari 15 anggota, sementara Rusia dan China memilih abstain tanpa veto.
- Iran menolak resolusi tersebut dengan menyebutnya tidak adil dan memutarbalikkan fakta, menuding AS serta Israel sebagai pemicu konflik melalui serangan yang menewaskan ribuan warga sipil.
- Rusia mengajukan draf tandingan yang menyerukan perlindungan warga sipil tanpa menyebut pihak tertentu, namun gagal disahkan karena hanya mendapat dukungan empat negara anggota.
Jakarta, IDN Times - Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (DK PBB) mengadopsi resolusi yang mengecam serangan Iran terhadap negara-negara Dewan Kerja Sama Teluk (GCC) dan Yordania. Keputusan ini disetujui oleh 13 dari 15 anggota dewan pada pemungutan suara hari Rabu (11/3/2026). Rusia dan China memilih untuk abstain dan tidak menggunakan hak veto mereka untuk menjegal langkah tersebut.
Resolusi diajukan oleh Bahrain dan mendapat rekor dukungan dari 135 negara anggota PBB lainnya. Melalui dokumen ini, komunitas internasional menuntut penghentian segera seluruh agresi militer Teheran di kawasan itu. Langkah diplomatik ini diambil di tengah meluasnya konflik Timur Tengah yang telah berlangsung selama hampir dua pekan.
1. Resolusi soroti ancaman terhadap jalur perdagangan global

PBB menilai rentetan serangan rudal dan drone Iran telah melanggar hukum internasional. Tindakan ini juga dianggap sebagai ancaman serius bagi perdamaian dan stabilitas dunia. Resolusi menyoroti penargetan infrastruktur sipil yang berujung pada timbulnya korban jiwa dan kerusakan bangunan.
Kawasan Teluk memiliki peran vital sebagai jalur utama perdagangan bahan bakar global. Oleh karena itu, dokumen resolusi turut mengecam segala upaya penutupan atau perintangan navigasi laut internasional, terutama rute pelayaran Selat Hormuz dan Bab Al Mandeb.
"Wilayah ini merupakan urat nadi perekonomian global dan koridor vital bagi perdagangan internasional serta keamanan energi," ujar Duta Besar Bahrain untuk PBB Jamal Alrowaiei, dilansir The National.
Sementara itu, Qatar mendesak DK PBB untuk segera memenuhi tanggung jawabnya dalam mencegah meluasnya konflik.
"Kegagalan merespons akan mengirimkan sinyal berbahaya bahwa serangan terhadap tetangga yang tidak terlibat tidak membawa konsekuensi," tutur Duta Besar Qatar untuk PBB Sheikha Alya Ahmed bin Saif Al Thani, dilansir Al Jazeera.
2. Iran sebut resolusi memutarbalikkan fakta

Pengesahan resolusi menuai penolakan dan kekecewaan dari pihak Iran. Duta Besar Iran untuk PBB, Amir Saeid Iravani, menyebut keputusan tersebut memutarbalikkan realitas di lapangan. Ia menuduh dewan sengaja mengabaikan akar penyebab krisis, yaitu serangan Amerika Serikat dan Israel ke Iran.
“Resolusi ini merupakan ketidakadilan yang nyata terhadap negara saya, yang merupakan korban utama dari tindakan agresi yang jelas,” ungkap Iravani, dilansir Al Jazeera.
Rentetan serangan balasan Teheran ke negara Teluk terjadi setelah militer AS dan Israel menggempur wilayah Iran pada 28 Februari lalu. Serangan tersebut bahkan menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei.
Otoritas Iran melaporkan agresi AS dan Israel telah menewaskan lebih dari 1.348 warga sipil, melukai sekitar 17 ribu orang dan merusak 19 ribu fasilitas sipil. Kerusakan ini mencakup area pemukiman, rumah sakit, sekolah, hingga infrastruktur energi.
3. Draf tandingan Rusia gagal disahkan

Pada sesi pertemuan yang sama, Rusia sempat mengajukan draf resolusi tandingan ke meja dewan. Dokumen alternatif tersebut mendesak perlindungan warga sipil dan penghentian permusuhan tanpa menyebutkan negara tertentu secara spesifik. Sayangnya, usulan Moskow gagal mendapatkan suara mayoritas yang dibutuhkan.
Draf ini hanya mengantongi dukungan dari empat negara, yakni Rusia, China, Pakistan, dan Somalia. AS dan Latvia memberikan suara penolakan, sementara sembilan anggota DK PBB lainnya memilih abstain.
Duta Besar Rusia untuk PBB, Vasily Nebenzya, mengkritik draf inisiasi Bahrain karena dianggap sangat tidak seimbang. Ia menyoroti absennya kecaman dunia terhadap serangan awal AS dan Israel ke wilayah kedaulatan Iran.
Nebenzya khawatir resolusi yang baru saja disahkan justru memberikan kesan keliru tentang konflik ini. Teks tersebut dinilai seolah menuduh Iran menyerang negara-negara Arab tanpa provokasi sama sekali.


















