Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Berlayar Menuju Malaysia, Kapal Rohingya Tenggelam dan 250 Orang Hilang
ilustrasi kapal (pexels.com/Pixabay)
  • Lebih dari 250 pengungsi Rohingya dan warga Bangladesh hilang setelah kapal menuju Malaysia tenggelam di Laut Andaman akibat angin kencang, gelombang tinggi, dan kelebihan muatan.
  • Sembilan orang berhasil diselamatkan oleh Penjaga Pantai Bangladesh setelah ditemukan mengapung selama puluhan jam; beberapa korban mengalami luka dan menceritakan praktik perdagangan manusia di kapal.
  • UNHCR dan IOM menyoroti tragedi ini sebagai bukti risiko besar perpindahan paksa serta menyerukan dukungan global untuk solusi jangka panjang bagi pengungsi Rohingya.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times – Lebih dari 250 orang yang terdiri dari pria, perempuan, dan anak-anak dilaporkan hilang setelah sebuah kapal penangkap ikan yang membawa pengungsi Rohingya dan warga Bangladesh karam di Laut Andaman.

Kapal itu berangkat dari Teknaf, Bangladesh bagian selatan, pada 4 April 2026 dengan tujuan Malaysia dan mengangkut sekitar 280 orang. Badan pengungsi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), yaitu Komisaris Tinggi PBB untuk Pengungsi (UNHCR), menyebut kecelakaan dipicu angin kencang, gelombang tinggi, serta kondisi kapal yang terlalu penuh.

“Kapal penangkap ikan itu … dilaporkan tenggelam karena angin kencang, laut yang bergelombang dan kepadatan yang berlebihan,” kata Komisioner Tinggi PBB untuk Pengungsi (UNHCR) pada Selasa (14/4/2026), dikutip The Guardian.

1. Penumpang kapal didominasi pengungsi Rohingya

ilustrasi kapal tenggelam (pexels.com/Randall Edholm)

Sebagian besar penumpang merupakan etnis Rohingya, kelompok minoritas Muslim dari Myanmar yang selama bertahun-tahun menghadapi tekanan di wilayah asalnya.

Banyak dari mereka sebelumnya tinggal di kamp pengungsian di Cox’s Bazar, wilayah tenggara Bangladesh. Lebih dari satu juta orang Rohingya kini menetap di kawasan tersebut dengan kondisi hidup yang berat setelah melarikan diri dari kekerasan di Negara Bagian Rakhine, Myanmar.

Di wilayah Rakhine, konflik bersenjata terjadi antara militer Myanmar dan kelompok Arakan Army yang berasal dari etnis lokal. Setiap tahun, ribuan Rohingya mengambil risiko menempuh perjalanan laut menggunakan kapal seadanya yang padat penumpang, dengan tujuan menuju Malaysia, Indonesia, atau Thailand demi mendapatkan kehidupan yang lebih aman.

2. Penyelamat temukan penyintas mengapung di laut

ilustrasi evakuasi (pexels.com/Floris Mulder)

Penjaga Pantai Bangladesh mengevakuasi sembilan orang yang selamat, termasuk seorang perempuan, setelah ditemukan di perairan dekat Kepulauan Andaman. Proses penyelamatan dilakukan oleh kapal MT Meghna Pride yang tengah berlayar menuju Indonesia, saat awak melihat korban bertahan dengan drum dan kayu agar tetap mengapung.

Juru bicara Penjaga Pantai Bangladesh, Letnan Komandan Sabbir Alam Sujan, menyampaikan kepada Agence France-Presse (AFP) bahwa para korban ditemukan dalam kondisi hanyut di laut.

Salah satu penyintas, Rafiqul Islam (40), menjelaskan kepada AFP bahwa ia tergiur janji pekerjaan di Malaysia dari jaringan perdagangan manusia hingga akhirnya naik ke kapal tersebut. Ia mengungkapkan sebagian penumpang dikurung di area tertentu di kapal dan beberapa di antaranya meninggal, sementara dirinya mengalami luka bakar akibat tumpahan minyak. Kapal itu diketahui telah berlayar selama empat hari sebelum akhirnya tenggelam.

“Kami mengambang selama hampir 36 jam sebelum sebuah kapal menyelamatkan kami dari perairan dalam,” katanya, dikutip ABC News.

3. Lembaga internasional soroti dampak perpindahan paksa

Bendera Myanmar (pexels.com/aboodi vesakaran)

UNHCR bersama Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM) menilai kejadian ini kembali memperlihatkan besarnya risiko kemanusiaan akibat perpindahan paksa yang berlangsung lama serta terbatasnya solusi jangka panjang bagi pengungsi Rohingya.

Kedua organisasi tersebut juga meminta komunitas global untuk menjaga dan meningkatkan pendanaan bantuan kemanusiaan bagi para pengungsi Rohingya di Bangladesh, termasuk dukungan bagi masyarakat yang menampung mereka.

UNHCR menyebut peristiwa ini menjadi peringatan penting terkait kebutuhan penanganan akar persoalan di Myanmar, sehingga pengungsi Rohingya dapat kembali ke tempat asal secara sukarela, aman, dan bermartabat.

Pada 2017, operasi militer di Myanmar memaksa sedikitnya 730 ribu Rohingya mengungsi ke Bangladesh. Para korban melaporkan adanya pembunuhan massal, pemerkosaan, serta pembakaran desa, sementara misi pencari fakta PBB menyimpulkan tindakan tersebut termasuk dalam kategori genosida, meski pemerintah Myanmar membantah dan menyebut laporan itu tak objektif.

Kejadian serupa juga pernah terjadi ketika sebuah kapal yang membawa sekitar 300 pengungsi Rohingya tenggelam di dekat perbatasan Thailand dan Malaysia.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team