Kapal Migran Terbalik di Laut Mediterania, Dua Orang Tewas

- Kapal migran yang berangkat dari Libya terbalik di Laut Mediterania, menewaskan dua orang dan membuat lebih dari 70 lainnya hilang, sementara 32 orang berhasil diselamatkan.
- Para penyintas dibawa ke Pulau Lampedusa oleh kapal komersial, sementara LSM menyoroti kurangnya jalur aman dan legal bagi migran menuju Eropa.
- Libya tetap menjadi jalur transit utama menuju Eropa meski berisiko tinggi akibat cuaca buruk dan praktik penyelundupan yang membahayakan para migran.
Jakarta, IDN Times - Sedikitnya dua orang tewas dan 70 lainnya hilang setelah kapal yang membawa migran terbalik di Laut Mediterania. Sejauh ini, 32 orang telah berhasil diselamatkan.
LSM Italia, Mediterranea Saving Humans, mengatakan kapal kayu tersebut berangkat dari Libya pada Sabtu (4/4/2026) sebelum akhirnya terbalik di zona pencarian dan penyelamatan yang berada di bawah kontrol Libya. Ada sekitar 105 orang di dalam kapal tersebut, termasuk perempuan dan anak-anak.
“Tragedi kapal karam pada Paskah. 32 orang selamat, dua jenazah ditemukan, dan lebih dari 70 orang masih hilang,” tulis LSM itu di media sosial X.
1. Para korban dibawa ke Pulau Lampedusa di Italia

Dilansir dari DW, LSM Jerman, Sea-Watch, mengatakan para penyintas diselamatkan oleh dua kapal komersial yang kebetulan melintas dan dibawa ke pulau Lampedusa, Italia. Lampedusa sendiri merupakan pintu masuk utama bagi para migran yang melintasi Mediterania dari Afrika Utara ke Eropa
Sea-Watch menambahkan bahwa pihaknya memantau insiden tersebut dari udara untuk membantu koordinasi penyelamatan.
“Kami merasa ngeri,” ujar kelompok itu pada Minggu (5/4/2026).
2. Pemerintah Eropa disalahkan karena tidak sediakan jalur aman dan legal bagi migran

Dalam video yang beredar, tampak sekitar 15 orang berpegangan pada lambung kapal yang terbalik di tengah laut sambil menunggu untuk diselamatkan. Mediterranea Saving Humans mengatakan insiden ini merupakan dampak kebijakan pemerintah Eropa yang menolak membuka jalur yang aman dan legal bagi para migran.
Laporan badan migrasi PBB (IOM) menyebutkan sedikitnya 683 migran telah tewas atau hilang saat mencoba menyeberangi Laut Mediterania sejak awal 2026. Pada periode yang sama, sebanyak 6.175 migran tiba di wilayah Italia, dikutip dari France24.
3. Libya jadi jalur transit favorit menuju Eropa

Sejak jatuhnya penguasa lama, Muammar Gaddafi, pada 2011, Libya telah menjadi jalur transit bagi orang-orang yang ingin melarikan diri dari konflik dan kemiskinan. Setiap tahun, ribuan orang mencoba menempuh perjalanan berbahaya dari Libya menuju Eropa melintasi Laut Mediterania.
Cuaca buruk hingga praktik penyelundup yang kerap menumpuk penumpang di kapal tanpa persediaan dan pelampung yang memadai menjadi risiko yang terus menghantui para migran. Pada 9 Februari 2026, IOM melaporkan sekitar 53 migran, termasuk dua bayi, tewas atau hilang setelah perahu karet yang membawa 55 orang terbalik di lepas pantai kota Zuwara, Libya.


















