Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Blokade AS Bikin Rial Iran Anjlok, Tembus 1,81 Juta per Dolar AS
ilustrasi bendera iran (pexels.com/aboodi vesakaran)
  • Nilai tukar Rial Iran anjlok ke rekor 1,81 juta per dolar AS akibat blokade laut yang dipimpin Washington, memicu kelangkaan devisa dan inflasi tinggi di dalam negeri.
  • Pemerintah Iran menyalurkan dana talangan serta membuka kurs subsidi untuk kebutuhan pokok, namun perdagangan dan infrastruktur rusak parah membuat ekspor-impor turun hingga 50 persen.
  • Iran makin terisolasi secara internasional dengan penurunan pembelian minyak oleh China dan retaknya hubungan dengan UEA, sementara PHK massal melanda sektor industri domestik.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Nilai tukar Rial Iran sedang berada dalam fase terjun bebas. Pada Rabu (29/4/2026), mata uang ini mencetak rekor terburuk sepanjang sejarah dengan menyentuh angka 1,81 juta per dolar Amerika Serikat (AS) di pasar terbuka.

Padahal, awal pekan ini angkanya masih di kisaran 1,54 juta dolar AS, dan setahun lalu hanya 811 ribu dolar AS.

Meski ada gencatan senjata antara Iran dengan AS dan Israel, situasi ekonomi di lapangan justru berkata sebaliknya. Blokade laut yang dipimpin Washington menjadi faktor utama yang mencekik napas ekonomi Teheran, membuat pasokan dolar langka dan nilai tukar domestik tak berdaya.

1. Lonjakan harga kebutuhan pokok membebani warga Iran

ilustrasi belanja di supermarket (pexels.com/Jack Sparrow)

Bagi warga Iran, anjloknya Rial bukan sekadar angka di papan bursa, melainkan ancaman kelaparan. Karena banyak kebutuhan pokok diimpor menggunakan dolar AS, inflasi meledak seketika. Dalam dua minggu terakhir, harga susu, minyak goreng, hingga deterjen melonjak tajam akibat tingginya ongkos distribusi dan gangguan pasokan, dilansir ABC News.

Untuk menahan guncangan, pemerintah Iran kemudian mencairkan dana talangan sebesar 1 miliar dolar AS (setara Rp17 triliun) dari dana kekayaan negara untuk memenuhi kebutuhan pangan. Selain itu, otoritas membuka kembali skema kurs subsidi khusus bagi barang pokok meski berisiko terhadap praktik korupsi. Penyederhanaan aturan impor di jalur darat juga dilakukan untuk mempercepat masuknya barang kebutuhan.

Namun, tantangan terbesar tetap ada di laut. Komando Pusat AS (CENTCOM) mengonfirmasi bahwa blokade mereka telah memutus total arus perdagangan ekonomi masuk dan keluar Iran. Dengan tiga kapal induk yang bersiaga, AS memastikan devisa dari hasil ekspor minyak Iran tidak bisa mengalir masuk.

2. Penurunan perdagangan dan kerusakan infrastruktur menekan ekonomi

ilustrasi perang (pexels.com/Mohammed Ibrahim

Bukan hanya minyak, sektor perdagangan umum Iran juga babak belur. Data bea cukai menunjukkan total nilai perdagangan kini hanya berkisar 110 miliar dolar AS (Rp1.870 triliun), turun signifikan terutama pada sisi impor.

Kerusakan infrastruktur memperparah situasi ekonomi. Serangan dari AS dan Israel sebelum gencatan senjata merusak fasilitas penting seperti pelabuhan, bandara, jalur kereta, hingga pembangkit listrik.

Kondisi tersebut membuat Iran membatasi ekspor baja dan petrokimia untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. Nilai perdagangan bulanan juga anjlok hingga 50 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

3. Isolasi internasional dan PHK massal membayangi Iran

ilustrasi pekerja pabrik (pexels.com/Tiger Lily)

Teheran kini semakin terisolasi. China, yang biasanya menampung 90 persen minyak Iran, mulai menunjukkan tren penurunan pembelian. Hubungan dengan Uni Emirat Arab (UEA) pun retak pasca serangan rudal Iran sebelumnya. UEA telah menutup institusi Iran dan meminta warga Iran meninggalkan wilayahnya, memaksa Teheran bergantung sepenuhnya pada jalur darat melalui Turki, Irak, dan Pakistan.

Di dalam negeri, badai PHK mulai menghantam. Ratusan pekerja di pabrik tekstil Borujerd dan pabrik Pinak di Rasht kehilangan pekerjaan setelah kontrak mereka tidak diperpanjang akibat kelesuan ekonomi.

Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, menegaskan bahwa tekanan ini tidak akan mengendur dalam waktu dekat.

"Kami akan mengikuti uang yang dengan putus asa berusaha dipindahkan Teheran ke luar negeri dan menargetkan semua jalur keuangan yang terkait dengan rezim tersebut," kata Bessent, dikutip Al Jazeera.

Kini, dengan jalur laut yang dikunci rapat dan sanksi yang kian menjepit, Iran menghadapi ujian ekonomi terberatnya di tengah ketidakpastian gencatan senjata yang kian rapuh.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team