ilustrasi hukuman mati (unsplash.com/Shang Zhou)
Keputusan penting untuk membatalkan vonis hukuman mati terhadap warga negara Kanada, Robert Lloyd Schellenberg, diambil setelah otoritas hukum tertinggi melakukan peninjauan kembali secara mendalam terhadap prosedur hukum yang menjerat Schellenberg sejak tahun 2014. Langkah yudisial ini menandai titik balik signifikan bagi Schellenberg, yang kini akan menjalani proses persidangan ulang di Pengadilan Tinggi Rakyat Liaoning. Perkembangan ini juga dipandang sebagai hasil nyata dari pendekatan diplomasi baru yang lebih konstruktif antara Beijing dan Ottawa.
Kasus ini bermula ketika Schellenberg ditahan di Dalian atas tuduhan penyelundupan 222 kilogram sabu dan awalnya dijatuhi hukuman 15 tahun penjara. Namun, situasi berubah drastis pada Januari 2019 saat hukuman tersebut ditingkatkan menjadi hukuman mati dalam persidangan ulang yang hanya berlangsung satu hari.
Perubahan vonis yang mendadak ini terjadi di tengah memanasnya hubungan bilateral akibat penangkapan petinggi Huawei, Meng Wanzhou, di Vancouver. Banyak pakar hukum internasional mengkritik keras peningkatan hukuman tersebut sebagai bentuk diplomasi politik yang mengabaikan hak terdakwa untuk mendapatkan proses hukum yang adil.
Selama bertahun-tahun, pemerintah Kanada terus berupaya mengadvokasi pemberian grasi bagi Schellenberg melalui jalur diplomatik dan kemanusiaan. Thida Ith, perwakilan dari kementerian luar negeri Kanada, menegaskan konsistensi negara dalam melindungi warganya.
Perubahan kepemimpinan di Kanada pada tahun 2025 di bawah Perdana Menteri Mark Carney membawa strategi baru yang lebih mengedepankan kemitraan strategis. Pendekatan ini terbukti efektif dalam membuka kembali ruang dialog yang sebelumnya tertutup, sehingga memungkinkan adanya tinjauan hukum yang lebih objektif.