Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Senator AS Desak Pentagon Audit Kepemilikan Saham China di SpaceX

Senator AS Desak Pentagon Audit Kepemilikan Saham China di SpaceX
ilustrasi bendera Amerika Serikat (unsplash.com/chris robert)
Intinya sih...
  • Penyelidikan senat AS temukan dugaan investasi tersembunyi China di SpaceX
  • Keterlibatan modal China di SpaceX ancam keamanan nasional AS
  • Merge antara SpaceX dan xAI picu desakan audit keamanan nasional AS
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Dua senator senior Amerika Serikat (AS) dari Partai Demokrat, Elizabeth Warren dan Andy Kim, secara resmi mendesak Departemen Pertahanan untuk menginvestigasi struktur kepemilikan SpaceX. Langkah ini diambil menyusul laporan adanya skema investasi asing melalui perusahaan cangkang di wilayah bebas pajak yang diduga melibatkan modal dari China.

Dalam dokumen yang ditujukan kepada Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth, kedua legislator menekankan ketergantungan besar militer AS pada teknologi SpaceX membuat keterlibatan finansial dari negara pesaing menjadi sangat berbahaya. Mereka menegaskan, keterlibatan pihak asing dalam perusahaan tersebut merupakan risiko keamanan yang tidak dapat ditoleransi oleh Pentagon.

1. Investigasi senat AS ungkap dugaan investasi tersembunyi China di SpaceX

Penyelidikan yang dipimpin Senator Elizabeth Warren dan Andy Kim kini berfokus pada dugaan penggunaan perantara di Kepulauan Cayman dan Kepulauan Virgin Britania Raya, oleh pemodal China untuk menyembunyikan identitas mereka saat membeli saham SpaceX. Berdasarkan data dari Pengadilan Kanselir Delaware, praktik ini diduga bertujuan untuk mengelabui regulasi investasi asing di AS.

SpaceX disinyalir mengizinkan aliran dana dari entitas yang berafiliasi dengan Beijing melalui pusat kerahasiaan luar negeri, sehingga menghapus jejak administratif yang dapat diakses oleh regulator federal serta mengaburkan identitas pemilik manfaat sebenarnya dari kontraktor pertahanan tersebut.

Struktur investasi tertutup ini dinilai sengaja dirancang untuk menghindari aturan Foreign Ownership, Control, or Influence (FOCI), yang mewajibkan pelaporan keterlibatan asing pada perusahaan dengan akses informasi rahasia negara. Para senator memperingatkan bahwa tanpa audit menyeluruh, Pentagon berisiko membiarkan agen ekonomi asing menempati posisi strategis dalam perusahaan yang mengoperasikan sistem peluncuran satelit intelijen sensitif.

Tuntutan investigasi ini semakin kuat setelah adanya kesaksian di bawah sumpah dari Iqbaljit Kahlon, seorang investor besar yang memiliki hubungan dekat dengan manajemen puncak SpaceX. Kahlon mengungkapkan fakta mengenai komposisi pemegang saham perusahaan yang selama ini tertutup dari publik.

"Mereka jelas memiliki investor China. Sejujurnya, beberapa di antaranya ada langsung di dalam tabel kapitalisasi," ujar Kahlon, dilansir ProPublica.

2. Keterlibatan modal China di SpaceX ancam keamanan nasional AS

Posisi SpaceX sebagai penyedia tunggal bagi berbagai layanan peluncuran satelit keamanan nasional memicu kekhawatiran besar, terkait potensi akses intelijen asing terhadap data teknis rahasia. Kepemilikan saham oleh pihak yang berafiliasi dengan China dikhawatirkan dapat membuka celah bagi pesaing global untuk mempelajari rantai pasokan, spesifikasi roket, hingga protokol operasional satelit militer AS. Hal ini dinilai sangat berbahaya mengingat peran vital ekosistem Starlink yang kini menjadi tulang punggung komunikasi militer di berbagai zona konflik dunia.

Ketergantungan Pentagon pada infrastruktur Starlink menambah lapisan risiko keamanan, karena setiap gangguan pada manajemen perusahaan dapat berdampak langsung terhadap koordinasi taktis pasukan di medan perang. Warren menegaskan, paparan modal dari China menciptakan loyalitas ganda yang membahayakan kepentingan nasional, terutama di tengah ambisi China untuk menandingi dominasi satelit di orbit bumi. Oleh karena itu, peninjauan ulang terhadap kepatuhan standar keamanan SpaceX menjadi krusial guna memastikan tidak ada pihak asing yang memiliki kemampuan untuk menyabotase atau memantau aliran data rahasia negara.

3. Merger SpaceX dan xAI picu desakan audit keamanan nasional AS

Rencana penggabungan usaha antara SpaceX dengan startup kecerdasan buatan milik Elon Musk, xAI, memicu tuntutan baru bagi Pentagon untuk melakukan audit menyeluruh terhadap sumber pendanaan ekosistem bisnis tersebut. Konsolidasi ini diprediksi akan membentuk raksasa teknologi senilai 1,25 triliun dolar AS (Rp21 kuadriliun), yang mengintegrasikan teknologi roket, komunikasi satelit, dan algoritma kecerdasan buatan dalam satu struktur korporasi.

Integrasi platform Grok milik xAI ke dalam jaringan komunikasi militer sebagaimana direncanakan Menteri Pertahanan Pete Hegseth, membuat integritas data nasional kini bergantung pada keamanan algoritma yang diduga terpapar modal asing. Para legislator mengkhawatirkan kompleksitas struktur kepemilikan di antara berbagai perusahaan Musk, termasuk Tesla, yang memiliki hubungan bisnis signifikan dengan China.

Penggunaan entitas baru di Nevada untuk memfasilitasi merger ini dinilai dapat menyulitkan regulator dalam melacak aliran modal serta mengidentifikasi pemilik manfaat yang sebenarnya. Committee on Foreign Investment in the United States (CFIUS), kini didesak untuk melakukan tinjauan retrospektif guna memastikan tidak ada celah finansial yang dapat dimanfaatkan oleh pihak asing untuk memengaruhi infrastruktur strategis AS.

Elizabeth Warren dan Andy Kim dalam surat resminya memperingatkan ketergantungan pada perusahaan dengan struktur internal yang tidak transparan merupakan kegagalan prinsip kehati-hatian.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Jujuk Ernawati
EditorJujuk Ernawati
Follow Us

Latest in Business

See More

Produksi Gula Nasional Capai 2,67 Juta Ton pada 2025

07 Feb 2026, 22:28 WIBBusiness